Dia

Saya mengenalnya sudah sangat lama, waktu itu kelas 4 sekolah dasar. Saya dan dia bertemu dan mengenal saat sama-sama kursus bahasa inggris di salah satu tempat kursus terkemuka di kota kami, setidaknya tempat kursus itu adalah tempat belajar bahasa inggris terbaik yang pernah saya tahu.

Kami tidak satu sekolah dasar, tapi kami jadi satu almamater sewaktu sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Itu pun kami hanya bersahabat, hanya mengenal dan berbagi cerita melalui layanan pesan singkat. Kami juga jarang sekali bertemu, apalagi hanya berdua, ‘mengobrol’ justru sering kami lakukan dengan memijit-mijit tombol ponsel. Mungkin canggung, walau katanya bersahabat.

Jejaring sosial juga menjadi alat komunikasi yang efektif bagi kami. Dulu WhatsApp atau Line belum setenar sekarang, bahkan belum ada. Sering kami menggunakan MXit atau chat Facebook jika sedang mampir ke warung internet. Bertukar suara melalui telepon rumah maupun telepon genggam rasanya masih bisa dihitung dengan lubang telinga.

Saya bukannya tidak pernah dekat dengan ‘dia-dia yang lain’, saya dekat dengan dia-dia yang lain dengan sepengetahuan dia. Anggap saja dia adalah tempat dimana saya harus melapor dan menceritakan apa saja. Sekalipun saya tidak bercerita, pasti dia tahu. Uniknya saya adalah: ‘dia-dia yang lain’ juga temannya dia. Jarang saya dekat dengan mereka yang jauh dari dia. Sekalipun ada, itu juga hanya sekilas dan berlalu. Tapi itu dulu, sewaktu masih bercelana biru dongker.

Beranjak abu-abu, hubungan kami mulai renggang. Bisa karena kesibukan masing-masing di antara kami, bisa juga karena memang ada saja yang membuat hubungan kami renggang. Hubungan kami memang aneh, penuh drama, dan butuh perjuangan, pengorbanan. Kami memang berada di lintas persahabatan yang unik, saling silang. Maka dari itu perlu berjuang dan berkorban. Kadang diam-diam masih menyimpan hati, karena yang seperti dia masih jarang bisa saya temui.

Masuk bangku kuliah, kami terpisah cukup jauh. Beruntungnya kami sama-sama menjadi perantau, sehingga tidak mudah terusik dengan teman-teman lama. Berbeda cerita jika masih saja banyak teman lama yang juga satu kota. Bebas walau tidak sebebas merpati. Hingga sekarang saya dan dia masih berhubungan dan semakin intens. Dia masih menjadi yang terbaik dan berharga bagi saya.

Tangerang Selatan, 23:23 WIB

6 tanggapan untuk “Dia

  1. “Kami tidak satu sekolah dasar, tapi kami jadi satu almamater sewaktu sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas”
    setahuku ya, kita sekelas di tempat itu pas SD lho 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s