Menggores Kuas Lukis

Aku seorang mahasiswa tingkat satu di sebuah universitas terkenal di Jakarta. Program studi yang berhasil aku peroleh bukanlah apa yang aku minati, aku hanya mengejar nama bergengsi kampusku. Mungkin orang seperti aku bukan hanya satu, banyak juga mahasiswa di luar sana yang lebih peduli dengan nama besar kampusnya ketimbang program studi apa yang mereka minati.

Aku mahir sekali melukis. Bakat itu bukan aku yang meminta, tapi memang ditularkan oleh pamanku, seorang pelukis otodidak pemilik jutaan imajinasi dalam kepalanya. Sedari kecil beliau memperkenalkanku apa itu kuas, kanvas, cat warna, dan sebagainya. Tak terhitung berapa sore aku habiskan untuk belajar sambil bermain dengan beliau, di saat bocah seumuranku yang mungkin sibuk dengan kursus atau sibuk memanjat pohon mangga sembari menikmatinya di atas pohon tatkala musim mangga mulai datang. Aku sangat beruntung memilikinya, memiliki bakatku, dan memiliki paman yang telah menjadikanku berbeda.

Memasuki bangku SMA, aku mendapat kepercayaan dari sekolah untuk menjadi utusan perlombaan lukis di tingkat kota hingga nasional. Sekolah yang satu ini mengerti betul bagaimana merawat dan mengembangkan asetnya. Tak merasa dimanfaatkan, aku justru merasa bahagia karena dapat mencintai dan mulai bangga dengan apa yang aku miliki ini.

Namun semua mulai berubah secara perlahan sejak aku bergabung di komunitas lukis kampus. Komunitas ini berbeda dengan komunitas lainnya, dimana tidak ada aturan, tidak ada paksaan, semuanya hanya berjalan sebagaimana menggoreskan cat warna pada kanvas putih. Walau aku sering mengikuti lomba, hubungan sosialku sangat buruk. Aku cenderung untuk bersendiri menikmati apa yang ku suka dari pada bersusah payah membangun hubungan dengan rekan-rekan yang belum tentu seirama denganku.

Aku berani bergabung bukan karena apa, aku bertekad untuk merubah kehidupan sosialku, bagus juga jika berhasil menambah relasi, pengalaman melukis atau bahkan jauh dari itu yakni, ingin menciptakan seni yang benar-benar dapat memberi hidup kehidupan. Entah khayalan dari mana itu berasal.

Aku mengenal banyak sosok di dalamnya, pelukis dengan berbagai aliran, berbagai kiblat, berbagai idola, namun ada juga yang memagang kuas saja tidak pernah. Sampai detik ini aku belum yakin apakah jalanku benar, apakah pertemanan ini memang ada, atau malah hanya akan membuatku mual.

Kabar baiknya, banyak rekan satu angkatan yang bergabung. Walaupun tak kesemuanya benar-benar seangkatan, ada pula yang sudah duduk di bangku kuliah satu tahun atau lebih. Anggap saja ‘junior rasa senior’. Aku bisa belajar banyak dari mereka tanpa merasa malu atau gengsi yang berlebih, ditambah lagi aku bukan tipe orang yang cukup peduli orang lain.

Dan kabar lumayan buruknya, senior dalam komunitas lukisku ini tersisa mereka-mereka yang sedang sibuk dengan tugas akhirnya. Bisa dipastikan bahwa dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan, mereka akan segera diwisuda. Dan pertanyaan besar selanjutnya, siapa yang akan menggantikan The Boss?

Lima bulan bergabung, dan statusku masih mahasiswa tingkat satu. Seorang yang tak tahu menahu bagaimana jelasnya komunitas ini mewarnai kanvasnya. Komunitas ini masih abstrak dalam benakku. Lebih parahnya, baru satu garis tipis dengan ujung yang sedikit menebal yang dapat aku tangkap dari sekian lama aku bergabung. Mungkin aku hanya kurang bergairah atau tujuan semulaku yang mulai pudar. Tiga bulan lalu, para anggota komunitas sepakat memilihku menggantikan The Boss, itu berarti aku adalah The Boss dan The Boss adalah aku. The Boss adalah mahasiswa tingkat satu dengan kehidupan sosial buruk, pengalaman organisasi yang minim, dan junior dari ‘junior rasa senior’.

Untuk menyeimbangkan kondisi demografi komunitas, aku meminta seorang ‘junior rasa senior’ untuk menjadi wakilku. Setidaknya ia paham bagaimana membawa komunitas dan memiliki apa yang tak aku aku punya, kehidupan sosial yang jauh lebih baik.

Beberapa bulan setelah terpilihnya orang yang cukup tidak tepat ini, yang bisa aku lakukan hanyalah menggoreskan kuasku dengan cat warna seadanya dalam komunitas. Aku hanya terombang ambing tak tahu menahu bagaimana seharusnya kuas ini digoreskan, warna apa yang dipilih, dan harmonisasi yang seperti apa baiknya.

Salah satu ‘junior rasa senior’ dalam komunitas terlihat lebih pantas untuk dipilih, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah itu membuat pameran, entah berkunjung ke komunitas lukis antarkampus, atau ide-ide yang dapat mengembangkan komunitas. Sedangkan aku, untuk merencanakan apa yang akan aku lakukan terhadap tubuhku saja aku mengalami kesulitan, bagaimana mungkin aku bisa mengurus tubuh yang lain, tubuh yang juga memiliki otak.

Dalam pikiranku, sampai kapan kekosongan imajinasiku ini akan bertahan. Ingin segera menyudahi semua ini sekalipun tak ada pelangi di dalamnya. Apa yang dulu aku banggakan dan aku cintai, perlahan menjadi hal yang paling aku benci. Melihat kuas saja ku tak sanggup. Ingin rasanya membuang segala jenis peralatan yang merujuk pada komunitas lukis ini, yang berarti juga harus membuang bakatku. Entah ketenangan seperti apa yang ingin aku dapatkan, mungkin ketenangan berupa kebebasan dengan tidak terikat oleh apa pun menjadi opsi paling masuk akal.

4 tanggapan untuk “Menggores Kuas Lukis

  1. Apa anda menceritakan kisah anda dalam cerita tsb? apa ini kisah nyata anda?
    memang hidup kadang berjalan tidak seperti apa yg kita inginkan

    nice

    Suka

  2. Jasa pelukis itu besar bagi masyarakat. Dengan daya ciptanya munculah artefak indah nan bermakna. Sejarah dunia kuno hingga moderen bisa mereka rangkum dalam selembar kanvas. Meninggalkan kesan dan pesan sekaligus enigma. Yang dibutuhkan tentu bukan fakta-fakta rasional namun efek imajinatif yang konon dapat mengetuk hati yang beku. Begitulah Peter Carey, penulis kebangsaan Inggris, tertarik menulis riwayat Dipenogoro setelah melihat pameran lukisan “Pembuangan Dipenogoro” karya Raden Saleh di Amsterdam sana.
    Walalupun kini anda menjadi abdi negara, saya harap semangat melukis itu tidak pernah sirna. Dunia yang penuh dengan kekerasan ini butuh tangan dingin pelukis agar mereka mengerti keindahan dalam halusnya budi.

    Suka

    1. Bener mas. Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah karangan, tapi juga bisa diperumpamakan tentang saya yang dulu. Tapi saya sependapat dengan Mas Ferry tentang peranan “pelukis” di dunia yang keras ini. Pelukis yang jeli, pasti tahu bagaimaan caranya menciptakan momen dan memanfaatkannya dengan baik.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s