Perjalanan Itu Disebut Perjuangan

Siang itu, sayup-sayup suara Saif Adam terdengar, lagu bertajuk “My Mother” seketika menghentikan jemari-jemariku yang sedang asyik berkelana di atas papan kunci (baca: keyboard). Kenangan bersama Umi dan Abi langsung saja gamblang terbayang. Tubuhku bergetar. Mataku berkaca-kaca. Ada yang menggenang di kelopak mataku.

Ponsel yang sedang pulas di-charge, coba ku raih, dengan lincah jari jempolku menuju menu Pesan, menambahkan Abi dan Umi sebagai subjek pengiriman. Kalimat yang paling sederhana namun sarat akan makna tak lama aku ketik, “Aku kangen..” sekejap ku menutuo mukaku dengan kedua tangan. Menahan air mata keluar dari singgasananya.

Sudah hampir dua bulan kami tidak bersua. Walau berhubungan melalui sambungan ponsel biasa kami lakukan minimal seminggu sekali dan selalu meng-update kegiatan masing-masing di WhatsApp, tapi rupanya lagu siang itu membuatku luluh. Setelah ada beberapa lagu lain yang juga pernah membuat haru biru. Contohnya seperti A Song For Mama – Boyz 2 Men, Yang Terbaik Bagimu – Ada Band feat. Gita Gutawa, Bunda – Melly Goeslaw, dan Number One For Me – Maher Zain.

Kerinduanku pecah saat itu juga. Dengan malu-malu ku ambil tisu di depan seorang pegawai wanita. Ya, aku benar-benar menangis di sela-sela jam kerja dan di tengah-tengah pegawai di Seksi Ekstensifikasi, KPP Pratama Cianjur.

Untuk perkara rindu keluarga, aku sangat sensitif.

Terhitung sejak tanggal 2 Februari 2015, statusku yang tahun lalu masih menjadi Mahasiswa, kini telah berganti menjadi “Pegawai Diperbantukan SubBagian Umum Kepegawaian – Direktorat Jenderal Pajak”, sebut saja Pegawai Magang. Tentu ada alasan dibalik keberadaanku di Cianjur, kota yang tak pernah aku tahu bagaimana bentuknya, dulu.

Sebelum para calon pegawai ini dimagangkan di seluruh Kantor Pelayanan Pajak Pratama atau Madya, kami diberikan kesempatan untuk memilih tiga lokasi kerja yang kita inginkan. Masih ingat dalam benakku betapa bimbangnya untuk memilih, karena pasti akan sangat menentukan kenyamanan dalam berbagai hal selama magang empat bulan lebih.

Ada pertimbangan di sana-sini, Nenekku yang memang tinggal di Probolinggo menghendaki untuk magang di Probolinggo saja. Tapi keinginan Nenek ini berkebalikan dengan Umi, Umi ingin agar aku magang di Bogor. Karena memang di sana juga ada famili, sehingga aku masih ada yang menjaga dan mengawasi, sekaligus melatih mandiri untuk kesekian kali.

Pilihanku pun jatuh pada Bogor, Ciawi (Bogor), dan Cibeunying (Bandung). Tentu kecil kemungkinan bisa diterima di sana, karena yang memilih kantor di tiga kantor tersebut juga tidak sedikit. Usut punya usut, nilai Indeks Prestasi Kumulatif dan Nilai Tes Potensi Akademik rupanya juga menentukan besarnya peluang kita untuk mendapat kantor di kota yang kita inginkan.

Mendengar itu, nyaliku langsung ciut. Kedua prasyarat itu aku penuhi dengan ala kadarnya, tidak terlalu bagus tapi juga tidak terlalu baik. Aku hanya bisa mengandalkan doa di setiap saat aku mengingat akan magang di kota mana nantinya. Aku selalu meminta agar diberikan tempat yang terbaik sekalipun bukan yang aku ingini. Karena kembali lagi aku tersadar bahwa rencana Allah SWT jauh lebih baik dan pasti dibaliknya ada maksud tersendiri.

Hari pengumuman diundur hingga tiga kali. Terang saja membuat kami semua menunggu dengan jantung yang seketika bisa copot. Agenda-agenda yang telah disiapkan oleh kantor telah usai dilakoni. Dua agenda di antaranya yakni Orientasi yang dilaksanakan di istora Senayan dan agenda terakhir sebelum pengumuman itu keluar adalah Internalisasi Direktorat Jenderal Pajak yang dilaksanakan di Gedung G Kampus STAN – Bintaro.

Sore itu juga, pengumuman lokasi magang keluar. Sontak membuat kami glagaban. Kami akan segera tahu kota mana yang akan menjadi awal perjalanan kami mengabdi pada negeri ini. Dari tiga pilihan kota itu, ya, akhirnya aku mendapatkan Cianjur. Kota yang hampir tepat di tengah-tengah antara Bogor dan Bandung, kota yang sebelumnya aku pilih. Ada perasaan senang, sedih, bingung, dan tentunya bersyukur. Benar, Allah memberikan yang terbaik untukku sekalipun tidak ada sanak saudara di sana. Hanya ada beberapa teman yang dulunya juga tidak pernah kenal walau satu kampus.

Dari dua belas peserta magang yang terdiri dari lulusan Diploma I STAN, Diploma III Umum, dan Strata I Umum, hanya aku yang asli Jawa, yang lain memang orang Sunda dan kebanyakan asli Cianjur. Betapa beruntungnya memiliki kota yang dihinggapi kantor pajak, berbeda dengan kotaku yang harus ditampung kota tetangga untuk masalah perpajakannya. Tapi tak mengapa. Toh nasib baiknya, aku bisa belajar budaya orang dan masih ada di Pulau Jawa. Berbeda cerita jika harus berada di luar pulau. Hmm.

Rekan-rekan asal Lumajang yang lain pun mendapat kota yang terbaik sekalipun mayoritas bukan pilihan mereka. Seperti Indra (Pajak-Bali, Gianyar), Pupus (Pajak-Jakarta, Tanah Abang 3), Asep (Pajak-Jakarta, Palmerah), Rofiil (Pajak-Jawa Timur, Malang Selatan), Intan (Pajak-Jawa Timur, Malang Selatan), Alfian (Pajak-Jawa Timur, Probolingggo), Febbry (Bea Cukai-Jawa Timur, Madura), Syukron (Bea Cukai-Maluku Tenggara, Tual), Erwin (Bea Cukai-Jawa Timur, Surabaya, Juanda), Fahmi (Bea Cukai-Sulawesi Utara, Manado), Benny (Bea Cukai-Jawa Barat, Bekasi) dan Mahendra (Bea Cukai-Kalimantan Barat, Bontang). Nyaris tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Terlepas dari itu semua, doa agar kami senantiasa memiliki 5 Nilai Kementerian Keuangan (Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan) pun selalu kami panjatkan. Agar amanah yang telah diberikan ini, dapat kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya demi mendukung pembangunan Indonesia. Aammiiin.

Saif Adam – My Mother

She’s the love of my life
There’s everything with a smile
She’s My Mother, My Sweet Mother
She can take the pain away with just one look
That’s My Mother, My Sweet Mother
You’re the picture in the frame
with all the colours of the rainbow
I’m far from ashamed to say I love you so
And here I lay at home tonight
It’s late but I can’t sleep tonight
Forgive me if I take my time
But I just have to let you know
You’re so special
She taught me how to pray
We play games everyday
With My Mother, My Sweet Mother
Even if I made no sense you listened patience
That’s My Mother, My Sweet Mother
She would sing a sweet song till I shut my eyes
And kiss my head and say goodnight
And I feel safe with you by my side
You’re there for every step in my life
I’m sorry if my life is unkind
I just have to let you know
You’re so precious
If only this was true
I’m in a cold dark wet room
I was an orphan now I am 22
I’ve never known my muuuuum
A picture faded by the sun that’s all I have
Left alone with nothing more but what I am
It’s not enough this life is tough when there is no one
To call My Mother,
My Sweet Mother,
My Sweet Mother

KPP Pratama Cianjur | 20:38 | 6 Maret 2015

2 tanggapan untuk “Perjalanan Itu Disebut Perjuangan

  1. Jadi tulisan ini mau dibawa kemana mas? tentang kerinduan pada keluarga atau tentang penempatan? terharu lo baca pas awal, because sometimes i feel the same, but in the end i didnt get what you put in the early article heheeee……

    Suka

Tinggalkan Balasan ke CIPAK Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s