Per(tum)puan

Bermula dari adik perempuan saya yang gagal lolos jalur undangan seleksi masuk perguruan tinggi, membuat saya berpikir kembali tentang langkah apa yang seharusnya diambil. Pemilihan jurusan yang tepat barang tentu hal yang penting. Dan pemilihan jurusan itu pula lah yang paling membuat gelisah satu keluarga. Bagaimanapun keputusan sekarang besar-kecil kemungkinannya akan memengaruhi kehidupannya kelak.

Saya membagi jurusan perkuliahan menjadi dua, A dan B. Anggap saja seperti itu.

Jurusan perkuliahan A adalah jurusan yang wajib atau mau tidak mau setelah kuliah harus bekerja sesuai apa yang ditempuh saat di bangku kuliah. Contohnya seperti dokter, perawat, pramugari, tentara, polisi, dan perkuliahan yang memiliki ‘fitur’ ikatan dinas.

Sedangkan jurusan perkuliahan B yakni jurusan yang tidak “memaksakan” lulusannya untuk bekerja sesuai dengan bidang yang mereka tempuh saat kuliah dulu atau justru tidak perlu bekerja secara langsung di lingkungan masyarakat. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu tersebut dapat diimplementasikan dan bermanfaat untuk berbagai hal. Contohnya seperti psikologi, bahasa, pendidikan, dan ilmu-ilmu humaniora yang lain.

Yang menjadi perhatian saya adalah: Perempuan.

Apa yang saya alami hingga saya beranjak dewasa (akan dewasa) memberikan sebuah pembelajaran tersendiri. Ya, saya adalah anak yang besar di kedua orang tua yang sama-sama bekerja. Ibu saya adalah seorang wanita karier yang waktunya harus terbagi antara menjadi seorang ibu bagi kami, istri bagi ayah saya, dan guru bagi murid-muridnya.

Bukan maksud saya untuk menghakimi dan memasukkan unsur tidak setuju. Tentu bukannya tanpa alasan seorang perempuan memilih untuk menjadi wanita karier. Banyak faktor, mungkin salah satu faktor yang mendasar ialah faktor ekonomi. Perempuan yang juga bekerja agar dapurnya tetap bisa mengepul adalah pilihan yang mulia.

Namun konsep yang saya miliki, pekerjaan paling mulia bagi seorang perempuan adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya serta istri yang baik pula bagi sang suami.

Siapa sih yang tidak menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang patuh pada orang tuanya, pandai dalam akademik, mahir pula dalam non-akademik, berbekal ilmu agama yang lebih dari cukup, dan bersikap selaiknya anak yang penuh bimbingan serta kasih sayang?

Tentu ada kaitannya antara jurusan perkuliahan (dalam hal ini adalah pendidikan) dan perempuan. Saya percaya bahwa pendidikan yang diemban oleh seorang perempuan sangatlah penting diperlukan, apalagi seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak.

โ€œAl Ummu madrasatul โ€˜ulaโ€

Sebaik-baik madrasah adalah ibu.

Nah maka dari itu sebagai perempuan, sangat penting rasanya untuk membekali diri dengan pendidikan. Meniatkan kuliah atau pendidikan yang mereka jalani untuk kehidupan anak dan keluarganya kelak, juga membatu menciptakan manusia-manusia yang unggul dalam menghadapi tantangan peradaban mendatang.

Terkadang saya merasa prihatin melihat anak-anak yang ‘ditelantarkan’ oleh kedua orang tuanya karena sama-sama bekerja. Apalagi jika keduanya juga sama-sama berangkat pagi dan pulang larut malam. Memangnya anak ini anak asisten rumah tangga? Anak pengasuh anak? atau Malah anak tetangga?

Dalam hal ini, saya masih belum bisa menerima alasan yang tepat mengapa seorang perempuan harus bekerja di luar rumah. Jika memang harus untuk bekerja, saya rasa pekerjaan yang masih bisa ditoleransi adalah sebagai pengusaha rumahan atau pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu di luar rumah lainnya. Sehingga pengawasan dan bimbingan kepada anak dapat dijalani tanpa sedikit-banyak terganggu oleh pekerjaan.

Semisal masalah ekonomi menjadi masalah utama, seharusnya dari awal pernikahan atau sebelum memutuskan menikah harus benar-benar dipertimbangkan segala sesuatunya yang berorientasi pada masa depan keluarga. Memangnya bisa makan apa dengan modal cinta? Saya setuju jika menikah akan mendatangkan rezeki, begitu juga dengan memiliki anak. Namun rezeki yang dikejar juga bukannya dengan cara meninggalkan atau menitipkan anak kepada orang lain. Walaupun di banyak kasus, anak dititipkan kepada kakek-neneknya supaya menimbulkan rasa lebih percaya dan aman.

Kemudian, memilih jurusan perkualihan dengan berkedok masa depan akan lebih cerah atau prospek ke depan akan baik. Lalu bagaimana dengan prinsip bahwa rezeki, jodoh, dan kematian sudah Allah SWT yang mengatur? Tentu tidak perlu khawatir dengan rezeki, jodoh, dan kematian. Satu pintu tertutup, maka akan ada berjuta-juta pintu yang siap untuk dimasuki. Kalaupun tidak ada pintu yang bisa dimasuki, mungkin sudah waktunya untuk membuat pintu itu sendiri: menjadi wirausahawati.

Kalau ingin masa depannya terjamin, tidak salah jika seorang perempuan selain karena sama-sama cinta, calon suaminya juga dituntut untuk mapan sebagai jaminan penghidupannya kelak. Toh seorang suami tentu akan menjadi lebih semangat bekerja saat istrinya selalu mengantarkannya hingga ke depan pintu rumah saat ia berangkat kerja, mencium tangannya, dan menyambutnya dengan senyum terindah saat sang suami pulang. Bukannya malah sama-sama sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kerja dan sama-sama lelah saat kembali pulang. Benar?

Tidak bisa dikatakan pula bahwa menjadi seorang wanita karier adalah sebuah kesalahan. Kembali lagi bahwa pilihan tersebut benar-benar sebuah pilihan yang telah dipikirkan secara sangat matang. Terlepas dari semuanya, semua pilihan pasti akan memunculkan yang namanya untung-rugi. Dan saya juga salut dan hormat kepada perempuan yang wanita karier: mereka yang dapat menyeimbangkan kehidupan keluarganya dan tuntutan pekerjaannya. Jangan dikira menjadi seorang perempuan yang bekerja adalah hal yang gampang. Segalanya dikorbankan, waktunya, tenaganya, konsentrasinya dan kehidupannya secara keseluruhan.

Konsep Modern Mom bagi saya juga bukan perempuan yang sukses di karier saja, tapi bagaimana perempuan tersebut mampu menyeimbangkan antara karier dan keluarga. Serta mempunyai metode-metode yang paling jitu dalam mendidik buah hati dan mengelola urusan rumah tangganya dengan baik.

Ada sebuah kisah nyata yang menarik, ya, seorang ibu negara, istri presiden ketiga Republik Indonesia ini: Ibu Hasri Ainun Besari. Bagi saya, beliau adalah sosok lain RA Kartini yang tidak kalah inspiratif. Mungkin pembaca sudah mengetahui kisah yang akan saya ceritakan secara singkat ini. Beliau adalah seorang dokter, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kisah ini terjadi di Jerman sana, saat awal kehidupan pasangan suami-istri yang telah dikaruni dua orang anak dimulai. Untuk menambah pendapatan keluarga dan bertahan hidup di Jerman. Ibu Ainun memilih bekerja menjadi seorang dokter anak di sebuah rumah sakit. Saat itu, saking sibuknya ia bekerja di rumah sakit sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengurus keluarganya, utamanya kedua anaknya. Konsentrasinya terpecah antara keluarga dan rumah sakit. Hingga salah satu anaknya jatuh sakit. Bagaimana bisa anak seorang dokter malah sakit? Di situ lah beliau tersadar, bagaimana bisa ia mengurus anak orang lain sedang anaknya sendiri tidak sempat diurus-hingga jatuh sakit? Tanpa pikir panjang, ia meminta izin suaminya lalu segera menyodorkan surat pengunduran diri untuk berhenti bekerja di rumah sakit.

Kisah itu yang bagi saya sangat mengharukan. Mungkin benar bahwa sebuah titik balik seseorang harus distimulus atau diperingatkan terlebih dahulu agar ia bisa meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia perbuat benar atau salah.

Lalu, sebagai seorang laki-laki, mungkin sebagian pembaca akan mengatakan: “Beraninya menulis artikel seperti ini?”, “Tahu apa tentang perempuan?”, “Atas dasar apa menulis artikel berisi kemunduran seorang perempuan seperti ini? Percuma seorang RA Kartini memperjuangkan emansipasi untuk kaumnya!”

Saya akan menjawab dengan serasional mungkin yang didasari oleh pengalaman dan pemikiran pribadi. Itu lah mengapa saya sangat terpanggil untuk menulis artikel ini. Hingga malam-malam saya harus dilalui dengan sulit tidur karena memikirkannya. Itu karena saya memiliki keinginan besar di dalamnya, merubah mind set seorang perempuan yang juga calon seorang istri dan calon seorang ibu. Besar harapan saya bahwa di tahun-tahun ke depan akan banyak istri dan ibu yang cerdas binti terampil yang juga berhasil menjadi pahlawan paling berharga dalam kesuksesan keluarganya.

Ada yang mengatakan:

“Di samping suami yang hebat, selalu ada seorang istri yang tak kalah hebat. Di balik kesuksesan seorang anak, selalu ada seorang ibu yang tak kalah sukses mendidiknya.”

Lalu, jurusan perkuliahan apa yang dapat saya sarankan?

Jika Anda mau, jangan ragu untuk memilih kategori B. Utamanya adalah yang tidak memiliki ‘fitur’ ikatan dinas. Itu mengapa saya yang berkuliah di ikatan dinas sangat tidak tertarik dengan teman perempuan saya sesama kampus. Sekalipun memikat hati. (Hehehe..) Itu sama saja mendaki eskalator yang berjalan turun. Tidak akan sampai ke tujuan.

Untuk kalian para perempuan, jangan dengan mudah termakan rayuan laki-laki, yang berjanji ini-itu laiknya para caleg di luar sana. Cari lah laki-laki yang jelas, jangan sampai membeli kucing dalam karung. Laki-laki yang memiliki bekal agama di atas KKM juga mutlak dibutuhkan. Berhenti terhipnotis cinta! Dalam hitungan ketiga, BANGUN!!

Terakhir dari saya yang saya kutip dari suatu sumber:

Jika perempuan (istri/ibu) tercipta dari tulang rusuk, maka:

1. janganlah menjadikannya sebagai tulang punggung,

2. janganlah kau menghayal ia akan lurus, karena tulang rusuk hanya menjalankan fungsinya sebagai tulang rusuk, kalau lurus maka bukan tulang rusuk namanya, maka terimalah dan bersabarlah akan kebengkokannya,

3. tulang rusuk harus dijaga karena rawan patah, ia tertutup dibalik dadamu yang kokoh,

4. tulang rusuk adalah pelengkap dirimu, maka ia adalah partner kehidupanmu, jangan kau menjauhkannya dari kehidupanmu, dan

5. jika tulang rusuk sakit dan terluka maka semestinya kaupun ikut merasakan penderitaan.

Semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat dan memberikan perspektif yang berbeda kepada pembaca.

Salam terhangat dari penulis untuk pembaca (para calon istri dan calon ibu) sekalian.

12 tanggapan untuk “Per(tum)puan

  1. subhanallah artikel yg km tulis ini iz.
    hahaha, jadi merasa tersentil dgn kulilah jurusan A. aku termasuk di dalamnya dan aku seorang perempuan…
    ampun, sedikit nyut2an juga kalau ingat tugas yg nantinya harus d emban^^
    setidaknya, mencoba saja untuk berjuang

    Suka

  2. Assalamu’alaikum… wah.. saya terinspirasi dan sangat sadar setelah membaca ini. karena saya menyesal telah memilih jurusan B, tetapi saat ini saya merasa semangat dan lebih bersyukur..

    Suka

    1. Bukannya malah lebih fleksibel kalo jurusan B? tapi apa pun itu jika memang sudah dalam proses, sebaiknya memang tetap dinikmati, tahu bagaimana menyeimbangkan, dan tahu bagaimana menerapkan ilmu yang telah diperoleh di kehidupan berkeluarga kelak.. sukses selalu ya. ๐Ÿ™‚

      Suka

  3. Strongly agree with your opinion. I have studied in my college about how important family and child are. And I surprised to know that still exist any people who cares about balancing work and family. The key points are good attachment and bonding between mother and child at first 3 years ๐Ÿ™‚
    Options to work at public sector or at domestic sector is not easy decision to make anyway

    Suka

    1. Iya nih Mut, pasti kamu juga lebih paham tentang seluk beluk keluarga. Keluarga memang penting banget. Penentu dan pencetak generasi berikutnya akan seperti apa. Kekuatan keluarga itu besar pengaruhnya bagi setiap individu di dalamnya.

      Suka

  4. Setujuuuuu๐Ÿ‘ Foundation of everything is a good family. Iya iz, bersyukur kuliah d jurusan kategori B, dapet byk ilmu ttg psikologi, keluarga, dan anak yg mnurutku emg ilmu masa depan. Tp hrs msh byk bljr jg sih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s