Nggak rela jadi relawan ?

Suatu Kamis sore di awal bulan April, belum habis satu mangkok mie rebus instan pesanan saya, tiba-tiba WhatsApp menyemburkan jendela obrolannya. Muncul nomor yang belum pernah saya simpan sebelumnya. Dari perkenalan singkat itu, pemilik nomor menyebut nama “Gulo”.

Sejurus kemudian saya teringat dengan seorang kakak tingkat yang sudah lama membuat saya terkesan. Salah satu penyebabnya adalah sebuah foto dokumentasi di twitter pribadinya saat ia tengah mengingikuti sebuah forum internasional di Inggris, “Hebat!” batin saya. Padahal ia adalah seorang pegawai Bea Cukai yang baru beberapa tahun bekerja, namanya Jaya S Gulo.

Ia mengaku mendapat nomor saya dari teman sekelasnya. Satu hal yang aneh bagi saya adalah ketika saya pun tidak kenal dengan teman sekelasnya itu. Entahlah, hingga hari ini misteri tersebut belum terpecahkan.

Melalui obrolan di WhatsApp, ia meminta bantuan kepada saya untuk menjadi dokumenter dalam suatu acara di Jakarta. Namun terus terang saja, semenjak saya membawa pulang kamera saya ke Lumajang dan ada lensa yang juga saya jual, komplit saya tidak membawa peralatan dokumentasi apa-apa. Tapi ia menyanggupi untuk menyediakan peralatan tersebut, karena yang dibutuhkan adalah orang yang mendokumentasikannya. Hal pendukung lainnya telah ia siapkan bersama timnya.

Jelas ini adalah pengalaman pertama saya bekerja sama dengan seseorang yang baru saja saya kenal dan bersama tim yang juga belum satu pun saya kenal.

Jujur ia menuturkan bahwa timnya tidak punya cukup dana untuk ‘menggaji’ orang-orang yang bergabung, oleh karena itu yang dibutuhkan adalah mereka yang ikhlas bergabung tanpa iming-iming rupiah. Mereka biasa disebut dengan istilah relawan atau lebih kerennya lagi adalah volunteer.

Saya saat tengah bergaya di tengah-tengah acara Prom Nite kakak kelas dua tahun di atas saya (05/2011).
Saya saat bergaya di tengah-tengah acara Prom Nite kakak kelas dua tahun di atas saya (05/2011).

Lagi-lagi itu adalah pengalaman pertama saya. Walau semasa SMA sudah pasti saya menjadi rela serela-relanya tidak digaji untuk mendokumentasikan berbagai bentuk acara sekolah. Namun saya sangat excited dengan tawaran yang satu itu.

'Dirazia' oleh petugas keamanan Kedutaan Besar Amerika. Beberapa foto yang (tidak sengaja) berobjekkan gedung kedutaan dihapus.
‘Dirazia’ oleh petugas keamanan Kedutaan Besar Amerika. Beberapa foto yang (tidak sengaja) berobjekkan gedung kedutaan dihapus.

Saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa acara tersebut diselenggarakan di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Kedutaan Besar Belanda. Seumur-umur saya belum pernah berkhayal untuk menginjakkan kaki di pelataran suatu kedutaan besar. Meski saya juga pernah dihampiri dua petugas keamanan Kedutaan Besar Amerika karena sedang asyiknya memotret di sekitaran kawasan Tugu Tani (yang lokasinya bersebrangan dengan gedung kedutaan).

Tentu lokasi acara yang tidak biasa ini menambah kegembiraan dan semangat saya untuk bergabung. “Kapan lagi?” pikir saya.

Sebelum saya memberi kepastian, terlebih dulu saya menanyakan tentang bagaimana akses menuju lokasi acara, apakah ada ketentuan baju yang harus dikenakan, bagaimana saya harus ‘bekerja’, dan pertanyaan remeh-temeh lainnya yang diperlukan. Sekadar memastikan, jangan sampai saya malah menjadi orang asing-padahal pribumi-yang aneh. Entah karena baju yang tidak sesuai, atau malah terlambat hadir. Because, time is waktu.

Setelah jelas dan saya bisa membayangkan kira-kira akan seperti apa saya di sana, saya pun meng-iya-kan.

Karena dalam seminggu itu ada hari Jumat yang berwarna merah dan itu berarti ‘libur panjang’ bagi saya, saya memutuskan untuk mampir ke Bogor terlebih dulu. Setidaknya akses menuju Jakarta sepertinya akan sedikit lebih mudah dengan menaiki KRL dari Bogor, dibandingkan dari Cianjur yang berarti harus oper bus, oper metro mini, lalu oper angkot, dan berujung nyasar.

Malam terakhir sebelum hari H, pikiran pun mulai disibukkan dengan khayalan-khayalan yang sangat kompleks dari perkiraan hal terburuk apa yang akan terjadi, bagaimana saya akan memulai memperkenalkan diri, bagaimana posisi paling aman saya saat mendokumentasikan acara agar tidak mengganggu pemandangan (tentu karena saya memiliki tinggi badan seukuran bule), dan hal-hal detail yang mengakibatkan saya sulit untuk memejamkan mata saking terlalu bersemangatnya.

Acara ini adalah acara peluncuran kepengurusan “Indonesia-Nederland Youth Society (INYS)” atau Perhimpunan Pemuda Indonesia-Belanda di Indonesia. Sebelumnya, INYS juga telah meresmikan kepengurusannya di Belanda. Maka dari itu, harus dibentuk pula kepengurusan di Indonesia dimana proses perekrutannya sudah dilaksakan jauh-jauh bulan sebelumnya. Bisa dikatakan INYS berbeda dengan PPI Belanda (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda).

Tujuan utama INYS sendiri yakni meningkatkan hubungan bilateral di antara dua negara di tingkat para pemudanya.

Jaya S Gulo saat memberikan pidato sambutan sebagai Chairman of INYS Indonesia
Jaya S Gulo saat memberikan pidato sambutan sebagai Chairman of INYS Indonesia.

Mulanya saya diharuskan sudah berada di lokasi pada Sabtu pagi jam 8, nyatanya saya baru bangun jam 5.30 pagi. Hitung-hitungan otak saya langsung memutuskan bahwa dalam waktu hanya 2 jam 30 menit pasti tidak akan tiba di lokasi tepat waktu. Tapi saya mengusahakan untuk tiba secepet yang saya bisa. Dari mulai naik ojek dari depan komplek menuju Stasiun Bogor (yang biasanya harus sekali naik ojek, dilanjut dua kali naik angkot), naik KRL lalu turun di Stasiun Tebet, lanjut lagi dengan ojek. Ternyata cukup sulit menemukan lokasi acara, karena tukang ojek saja tidak tahu, apalagi saya. Waktu itu teknologi Gojek masih dalam angan-angan sang founder dan diperparah dengan hingga saat ini Gojek pun belum tersedia di Bogor.

Setibanya di lokasi, saya langsung diberi salam oleh petugas keamanan dengan ramah, mereka memeriksa badan dan bawaan saya serta ditanya perihal keperluan saya di sini. Setelah melalui gate pemeriksaan, saya terbelalak sejenak. Saya mencoba memastikan kembali sebenarnya hari ini tanggal berapa, apakah saya telah melewatkan acara tersebut karena tertidur pulas lebih dari satu hari penuh atau tahun penyelenggaraan yang ternyata masih akan dilaksanakan dua tahun lagi. Karena apa yang saya dapati adalah lokasi yang masih sepi di sekitaran jam 8 pagi. Hanya ada dua sampai tiga petugas keamanan yang tadi memeriksa saya, beberapa orang mengenakan tanda pengenal yang saya juga tidak berhasil mengenali mereka, dan petugas kebersihan yang sibuk menyiram tanaman lalu memboyong meja dan kursi kesana-kemari.

Padahal saya sudah membayangkan akan menjadi kru terakhir yang datang.

Saya coba bertanya kepada orang yang mengenakan tanda pengenal tadi, apakah tahu atau kenal dengan abang-abang bernama Jaya S Gulo. Dan ia dengan cuek menjawab, “Di sini tidak ada yang namanya…. mmm.. siapa namanya?” Glek. Saya langsung beranggapan bahwa orang tersebut memang tidak kenal dan mungkin juga tidak ingin kenal dengan yang bersangkutan. Lalu saya mencoba menghubunginya dengan menelpon beberapa kali dan mengirimkan sejumlah pesan singkat, namun si abang belum juga merespon. Saya mulai sedikit panik.

Karena saya sudah terlanjur berada di dalam pelataran kedutaan, yang bisa jadi belum tentu terulang kedua kalinya saya berada di sini, maka saya memutuskan untuk duduk-duduk santai di sebuah kursi kayu sembari menikmati gedung-gedung di sekitarnya dan membayangkan acara-acara apa yang sering dihelat di sini.

Sesaat kemudian beberapa muda-mudi mulai berlalu-lalang di depan saya menuju suatu gedung yang bertetanggaan dengan ‘gedung saya’. Belakangan baru saya tahu bahwa mereka sedang mengikuti kursus intensif bahasa Belanda di Pusat Bahasa Belanda, Erasmus Taalcentrum.

Sekitar setengah jam kemudian baru lah beberapa orang–memakai kaos Polo berbordir tulisan INYS CREW di punggungnya, tulisan NL yang berarti Nederland di lengan kanan dan tulisan ID yang berarti Indonesia di lengan kiri mereka–datang dengan membawa beberapa kardus. Karena saya terlambat menyadari hal tersebut, ditambah mereka tidak kenal saya dan saya juga tidak kenal mereka, akhirnya saya diam saja melanjutkan duduk-duduk santai sembari menunggu sang pengundang hadir.

Seorang INYS CREW memberikan 'welcome cookie'.
Seorang INYS CREW memberikan ‘welcome cookie‘.

Karena saya penasaran kenapa bisa selama ini saya menunggu, jadi lah saya memeriksa kembali brosur digital yang ia bagikan di WhatsApp, di situ tertera bahwa acara baru dimulai jam 13.30. “Kenapa saya harus sepagi ini datang ke sini?” batin saya kesal. Ditambah lagi dengan kru-kru yang lain, yang ternyata baru datang setengah jam hingga dua jam setelah saya tiba. Mungkin saya memang anak yang terlalu rajin.

Karena terlalu bersemangat hingga tidak menyadari pukul berapa acara dimulai.
Karena terlalu bersemangat hingga tidak menyadari pukul berapa acara dimulai.

Tak lama Bang Gulo tiba, saya ditemani untuk berkenalan dengan pentolan-pentolan INYS dan para relawan-relawan lain yang ternyata tidak kesemuanya adalah orang asli Indonesia. Ada perempuan Belanda yang telah lama tinggal di Indonesia, ada perempuan Indonesia yang juga telah lama tinggal di Belanda, ada yang campuran Belanda-Indonesia, ada pula yang campuran Indonesia-Belanda, ada yang memang orang Belanda tulen, ada juga perempuan Indonesia yang lulus S2 di Belanda, ada lima orang lulusan STAN termasuk saya yang sama sekali tidak memiliki riwayat apa-apa dengan negeri oranye itu (selain nenek moyangnya yang dulu pernah dijajah lebih dari tiga abad lamanya), dan kebanyakan adalah mereka yang menempuh kuliah di Universitas Indonesia jurusan Sastra Belanda.

Sesi foto bersama Dimple Sokartara (Vice-Chairman), Rennie Roos (Founder & Chairman Board of Trustees INYS), Rob Swartbol (Dubes Belanda), dan Jaya S Gulo (Chariman INYS-ID).
Sesi foto bersama Dimple Sokartara (Vice-Chairman), Rennie Roos (Founder & Chairman Board of Trustees INYS), Rob Swartbol (Dubes Belanda), dan Jaya S Gulo (Chariman INYS-ID).

Yang membuat saya wajib bersyukur adalah mereka–para tamu undangan yang memang asli Belanda–tidak menggunakan bahasa kampung halamannya, melainkan menggunakan bahasa internasional yang alhamdulillah sedikit banyak bisa saya pahami. Walaupun untuk sekadar memberi aba-aba ketika saya akan memotret, beberapa kali yang keluar justru bahasa Indonesia yang mungkin kebanyakan dari mereka belum paham.

Diskusi mengenai budaya organisasi korporasi dengan perwakilan Google Indonesia sebagai moderator. Dua orang Indonesia yang menjadi narasumber di antaranya adalah dari Phillips dan Garuda Indonesia.
Diskusi mengenai budaya korporasi dengan perwakilan Google Indonesia sebagai moderator (kanan). Dua orang Indonesia yang menjadi narasumber di antaranya adalah dari Phillips dan Garuda Indonesia.

Acara itu dihadiri ratusan orang di sebuah aula nan megah di dalam gedung Erasmus Huis. Di antara undangan yang hadir, ada perwakilan Kementerian Luar Negeri, Bapak Duta Besar Belanda untuk Indonesia, salah seorang guru besar UI lulusan Belanda, perwakilan Indonesia Diaspora Network, perwakilan dari Garuda Indonesia, perwakilan Phillips, perwakilan Nuffic Neso: sebuah organisasi non-profit yang mengurus program beasiswa, pelaku dalam cerita nyata sebuah buku berjudul “Negeri Van Oranje”, perwakilan dari Google Indonesia, dan lain sebagainya.

IMG_0144
Kurang pas kalau belum foto bersama dengan tuan rumah, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Bp. Rob Swartbol. Lihat! Tinggi saya memang standar internasional.

Para pengisi acara juga tidak kalah heboh, ada penyanyi akustik yang baru-baru ini merilis sebuah album, ada duet ukulele dengan pianika, ada pula gerombolan penari yang menamakan dirinya PEAZ MAKERZ, dan pengisi acara lainnya. Kesemua penampilan yang mereka suguhkan sangat mampu dinikmati para hadirin.

Penampilan PEAZ MAKERZ yang membuat para peserta kembali bersemangat.
Penampilan PEAZ MAKERZ yang membuat para peserta kembali bersemangat.

Setelah memotret sana-memotret sini, perut saya pun mulai bergetar. Saya baru ingat kalau belum ada nasi yang masuk sedari pagi, hanya segelas energen kepanasan yang kenyang saja tidak, malah lidah saya yang terasa seperti terbakar. Sekadar informasi saja bahwa lokasi kedutaan itu biasanya adalah lokasi yang elit, tetangga-tetangganya sudah pasti adalah kedutaan dari negara lain, maka dari itu mungkin agak sulit untuk menemukan gedung kedutaan Alfamart atau Indomaret. Dan bodohnya lagi, saya lupa untuk meminta rekan yang belum datang untuk membawakan sebatang roti atau apalah itu yang bisa saya makan.

Mungkin dikarenakan saya terlalu fokus untuk mendokumentasikan acara, akhirnya saya terlewat untuk diberi konsumsi. Beberapa dari rekan yang lain sudah kenyang sedangkan saya malah kelaparan. Nyaris seharian saya hanya memakan sekotak dodol Garut pemberian seorang pegawai yang baru pulang bertugas dari Negara Garut. Dan semenjak dodol menyelamatkan hidup saya, saya mulai menyukai jajanan daerah yang satu ini.

Acara ditutup dengan makan malam bersama para undangan dan peserta.
Acara ditutup dengan makan malam bersama para undangan dan peserta.

Acara pun diakhiri dengan makan malam para tamu undangan dan peserta yang hadir. Beberapa kru membereskan sisa-sisa acara, kru yang lain membagikan cinderamata di pintu keluar, dan satu kru yang kelaparan ini memutuskan untuk menyantap makan sarapannya dengan semangat. Alhamdulillaah.

Sepulangnya dari acara, para kru diberi cinderamata sama seperti para tamu undangan dan peserta yang kami “service” seharian ini, ditambah dengan sertifikat relawan yang tertera nama masing-masing kru.

Karena malam sudah terlalu larut, nampaknya tidak ada KRL yang tersisa untuk jurusan Bogor. Sekalipun ada mungkin tetap tidak akan membantu, karena kembali lagi saya jelaskan bahwa untuk menuju rumah, saya harus menempuh dua kali naik angkot ditambah sekali naik ojek. Bisa-bisa saya hilang ditelan malam, entah kemana. Namun berkat rekan sesama dokumenter yang asli orang Malang dan juga alumni STAN, akhirnya saya diperbolehkan untuk menumpang tidur semalam di kamar kost(teman)nya. Dan diantarkan ke stasiun terdekat keesokan harinya.

Foto bersama Pengurus INYS dan volunteers.
Foto bersama Pengurus INYS dan volunteers.

Untuk mengenal lebih jauh dengan INYS: http://www.inys.org/

Video dokumentasi yang juga ditayangkan di layar monitor dalam penerbangan Jakarta – Amsterdam di Garuda Indonesia www.youtube.com/watch?v=ZHGAUL3imqQ


Pelajaran yang dapat saya tarik adalah:

  1. Sebuah kejadian bukanlah sesuatu yang kebetulan, semua telah ada dalam rencana-Nya. Bisa jadi ini adalah sebuah jawaban atas doa yang entah kapan saya panjatkan atau angan-angan yang tidak sengaja saya buat;
  2. Dalam sebuah ‘pertempuran’, sudah selaiknya bagi kita untuk menyiapkan terlebih dulu amunisi apa yang bisa melemahkan lawan, setidaknya membuat kita lebih aman dengan tameng-tameng baja atau sejenisnya. Pelajari terlebih dulu medan seperti apa yang akan kita hinggapi dan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri terlebih dulu sebelum melakukan penyerangan. Untuk acara-acara sejenis, persiapan bahasa tentu hal yang mutlak untuk dikuasai. Agar tidak terjadi miskomunikasi atau pemahaman yang keliru tentang diri kita;
  3. Manfaatkan kesempatan, karena kesempatan tidak datang dua kali. Sekalipun belum tentu dapat memuaskan yang memberi kesempatan, namun dengan kita meng-iya-kan dan didahului dengan hal-hal detail yang terlebih dulu harus kita ketahui, maka akan ada kesan pertama yang baik tentang diri kita;
  4. Jadilah pribadi yang menonjol, tidak harus dengan menguasai berbagai hal. Tapi kuasai apa yang kebanyakan orang tidak kuasai serta mampu untuk diandalkan. Dengan begitu akan ada atau banyak orang yang berani menaruh amanah di pundak kita;
  5. Semakin sering kita berbaur, berbagi cerita dan pengalaman dengan orang-orang yang berbeda latar belakang profesi, budaya, dan bahkan berbeda negara, di situ lah kadang baru kita sadari bahwa ternyata kita belum bisa berkontribusi apa-apa terhadap bangsa, apalagi dunia. Di sisi lain, dengan banyaknya orang yang kita kenal, maka bisa dipastikan sebuah kesempatan pun hadir, yakni jaringan. Dan bisa jadi mereka-mereka ini yang membantu ‘mengangkat’ kita;
  6. Pengalaman berharga adalah guru terbaik bagi diri kita. Dengan memperbanyak pengalaman, berarti bertambah pula guru-guru kehidupan kita;
  7. Uang bukanlah segalanya, walaupun segalanya barang tentu membutuhkan uang untuk membantu merealisasikannya. Tapi apalah artinya uang yang tidak seberapa diterima jika dibandingkan dengan sebuah pengalaman baru yang berharga; dan
  8. Dimana pun kita berada, jangan mudah untuk terbawa arus, namun tetaplah sesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jika memang ada saja hal-hal atau budaya yang mungkin kita anggap kurang cocok bagi diri kita, tetap konsisten dan tolak dengan halus hal tersebut. Jadilah pribadi yang memiliki kepribadian dan pendirian.

Note ++

Saat praacara, biasanya seorang dokumenter selain mendokumentasikan kegiatan praacara, ia juga sesekali membantu kru yang lain untuk mengangkat ini-itu, menyiapkan acara.

Saat acara, kegiatan dokumenter penuh untuk mendokumentasikan acara, dituntut untuk selalu stand by dan tentu saja selain bergantian dengan sesama dokumenter, jarang sekali ada kru lain yang mau membantu bergantian mendokumentasikan acara.

Dan di saat pascaacara, tetap saja ia biasanya membantu untuk membereskan ini-itu. Karena mungkin tidak cukup enak dilihat juga saat yang lain sibuk membereskan acara, para dokumenter malah motret sana-sini atau justru selfie asik sendiri. Maka dari itu nyaris seharian seorang dokumenter jungkir-balik, kesana-kemari, naik-turun tangga, dan entah lari kemana.

Volunteer cabang dokumentasi. Mas Nico (Ditjend Pajak) dan Mas Gilang (Setjend).
Volunteer cabang dokumentasi. Mas Nico (Ditjend Pajak) dan Mas Gilang (Setjend).

7 tanggapan untuk “Nggak rela jadi relawan ?

  1. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita adalah akumulasi dari tindakan, pikiran, dan perasaan, dan segala perbuatan baik pasti berdampak baik. Cerito e samean semacam keajaiban sing biasa e ndek novel2 fiksi mas, aku dadi iling karya e dewi lestari 😀

    Suka

    1. Sepertinya gaya bahasamu sedikit banyak dipengaruhi oleh Dewi Lestari ya. Tapi saya setuju dengan komentarmu. Itu lah yang saya sebut dengan jawaban yang diberikan Tuhan. Hmm.. terlalu dini untuk mengistilahkan ‘keajaiban’.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Yazeed Al Basthomy Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s