Sampai Tua Abdi Negara

Berbicara tentang singkat-menyingkat, menurut saya sah-sah saja sebuah lembaga pendidikan memiliki akronim nama lembaganya agar terdengar lebih familiar dan mudah diingat oleh masyarakat. Beberapa di antaranya seperti: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara disingkat STAN, Universitas Indonesia disingkat UI, Institut Pendidikan Dalam Negeri disingkat IPDN, Institut Teknologi Bandung disingkat ITB, dan lembaga pendidikan lainnya. Namun saat akronim itu dipanjangkan, kepanjangannya pun bisa beragam tergantung kepada orang yang menafsirkannya.

Salah seorang alumni UI lebih suka menguraikan UI sebagai UNTUK INDONESIA, karena tidak sedikit para alumninya yang cukup berpengaruh juga menduduki posisi strategis di negeri ini. Sepupu saya yang berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), kampusnya diberi kepanjangan ISO TURU SANGAR (Bisa Tidur, Hebat) oleh ibunya, karena (katanya) sistem perkuliahan dan kehidupan kampus yang terlampau padat. Padahal menurut saya, semua kampus juga demikian. Mungkin ITS setingkat lebih padat. Dan masih banyak lagi kepanjangan-kepanjangan yang agak unik untuk singkatan nama sebuah kampus. Bagaiaman dengan STAN? Untuk almamater saya tercinta, saya merasa lebih cocok jika dipanjangkan menjadi SAMPAI TUA ABDI NEGARA.

STAN
Sampai Tua Abdi Negara (STAN)

Tentu tidak perlu ditanyakan lagi mengapa demikian. Karena STAN adalah salah satu sekolah kedinasan yang mencetak para mahasiswanya menjadi abdi negara handal di berbagai instansi pemerintah, utamanya Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Oleh karenanya tidak dapat dipungkiri bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) di Kemenkeu kebanyakan adalah alumni STAN, walau tidak penuh 100%. Sebagian lainnya direkrut melalui penerimaan jalur umum, baik SMK, diploma III, maupun sarjana yang akhirnya mereka juga bergabung menjadi abdi negara seperti para alumni STAN yang lain.

Abdi negara sendiri bukan berarti mereka yang duduk di pemerintahan atau di bawah jajaran kementerian dan lembaga saja. Tapi yang saya maksudkan adalah profesi sebagai ASN atau Aparat Sipil Negara yang memiliki kewajiban melayani masyarakat dan menggerakkan roda birokrasi pemerintahan. Saya juga menyadari bahwa tentu setiap warga negara memiliki peran dan caranya masing-masing dalam mengabdi kepada negaranya sekalipun tidak dijuluki “Abdi Negara”. Betul?


Cerita awal saya berada di STAN dimulai dari ketidakberhasilan saya menembus seleksi penerimaan perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN (undangan) dan SBMPTN (tertulis). Beberapa bulan setelahnya saya baru menyadari bahwa mimpi saya memang kurang realistis jika dibandingkan dengan prestasi apa yang telah saya raih di enam semester bersekolah.

Waktu itu SNMPTN baru saja dibuka, bermodal nekat dan restu orang tua, saya menempatkan UI dan ITS menjadi pilihan universitas. Karena sedari SMP saya sangat menyukai bidang arsitektur, jurusan yang saya pilih juga berbau arsitektur, yakni arsitektur dan interior. Saya tetap memilih pilihan itu walaupun kemampuan menggambar bidang dan bangun saya sangat pas-pasan. “Hajar habis!” yakin saya.

Foto bersama teman-teman satu mobil saat tengah makan malam sepulang Tes Tulis STIS. Kiri: Koko (ITS), Elga (ITB), Prima (ITS), Mega (Unej), Icha (ITS), dan Caca (Polinema).
Foto bersama teman-teman satu mobil saat tengah makan malam sepulang Tes Tulis STIS. Kiri: Koko (ITS), Elga (ITB), Prima (ITS), saya, Mega (Unej), Icha (ITS), dan Caca (Polinema).

Sebulan kemudian Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) membuka pendaftaran. Sekalipun jauh dari bau-bau arsitektur, saya yang sedari kelas X SMA sudah diarahkan oleh ibu dan tante-om saya untuk masuk Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang satu ini, akhirnya mendaftarkan diri juga. Namun setelah berhasil lolos di tes tulis pertama dan sempat dijuluki ‘Anak STIS’ oleh beberapa kawan sekolah saya, langkah saya harus terhenti di tahap tes psikologi. Dan seketika itu juga julukan ‘Anak STIS’ tidak pernah terdengar lagi.

Beberapa bulan kemudian, pengumuman SNMPTN keluar. Dengan kalimat “Maaf bla bla bla bla,” saya dinyatakan tidak lolos. Tentu dengan lapang-dada-setengah-berat-hati saya maafkan, toh bukan salah mereka tidak meloloskan saya. Lalu, dengan persiapan yang kurang matang, saya memberanikan diri mendaftar SBMPTN. Kali ini saya tidak ingin kecolongan, saya memilih universitas yang juga berkualitas baik namun sedikit di bawah universitas yang saya pilih di SNMPTN, yakni IPB dan ITS.

Kenapa selalu ada ITS di pilihan saya? Itu karena ibu saya adalah alumni ITS dan ayah saya juga memiliki beberapa kenalan dosen di sana, rekan sejawatnya bersepeda Surabaya-Jakarta. Entah ada maksud apa dibalik keinginan ayah mendorong saya untuk berkuliah di sana. Padahal saya sangat tidak tertarik berkuliah di Jawa Timur. Diterima syukuri, tidak diterima juga sukurin (rasakan). Untuk kesempatan kedua ini, saya mendapat bagian sukurin.

Setelah dinyatakan tidak lolos di dua jalur resmi pemerintah dan satu tes masuk sekolah kedinasan, tak lama kemudian saya mendaftar di jalur mandiri program vokasi UNPAD. Selain hanya menyetorkan nilai rapor, tidak perlu jauh-jauh ke Bandung untuk mendaftar, biaya pendaftarannya juga sangat terjangkau. Kali itu saya memilih ilmu komunikasi karena ingin sekali bekerja di NET. setelah lulus nanti. Apalagi saat itu NET. sedang baru-barunya. “Mungkin saya memiliki peluang di sana,” pikir saya. Setelah sekitar dua minggu lamanya menunggu hasil pengumuman, yang saya dapatkan tetap sama: TIDAK LOLOS.

Lelahkah saya? Sayangnya, tidak.

Kecewakah saya? Tidak juga.

Tidak lama berselang, ada rekan yang memberitahukan bahwa STAN membuka pendaftaran mahasiswa baru. “STAN? Apa itu STAN?” pikir saya. Sebenarnya saya tidak begitu mengetahui PTK yang satu ini. Satu-satunya PTK yang saya ‘tumbalkan’ untuk menjadi alasan pemilihan jurusan IPA-IPS adalah STIS. “Lalu STAN ini PTK yang mana lagi?” saya bingung.

Berbeda dengan teman-teman lain di SMA, banyak dari mereka yang telah mengenal STAN jauh lebih dalam dari pada mereka mengenal diri mereka sendiri. Mereka telah mengincar STAN sejak SMA kelas X atau bahkan dari SMP. Bagaimana dengan saya? Saya baru mengetahui STAN saat itu juga ketika STAN membuka pendaftarannya. Hanya sekadar tahu, tidak mengenal satu sama lain.

Jurusan Kebendaharaan Negara (KbN) saya jadikan prioritas pertama karena saya hobi sekali menjadi bendahara, baik di kelas maupun di kepanitiaan. Prioritas yang lain? Saya urutkan saja berdasar enak tidaknya saya melihat urutan itu. Minus mata saya yang lebih dari 2.00 membuat saya tidak diperbolehkan memilih jurusan Bea Cukai. (Alhamdulillah…) Maka, dari sembilan program diploma yang tersedia, saya hanya diperbolehkan memilih tujuh. Sengaja program Diploma I Pajak saya taruh paling bawah karena saya ingin berkuliah lebih lama di STAN. Awalnya.

Sembari menunggu pengumuman kelolosan tes tulis, saya juga ingin mencoba mendaftar ke PTK lain. Karena sering dijejali tontonan kuliner di televisi, tiba-tiba saya menjadi tertarik dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Saat itu yang ada dalam pikiran saya, saya akan berkuliah jurusan tata boga atau pattisier. Tak lama setelah lulus, saya membuka sebuah restoran dan melanjutkan dengan mimpi-mimpi heboh lainnya. Saat saya ceritakan mengenai keinginan saya ini, mentah-mentah ayah saya menolaknya, “Mau jadi apa? Udah, seriusin aja STAN-nya!” Saya hanya bisa menelan ludah sebanyak yang saya bisa dan balik kanan, bubar jalan!

Bersama Anta dan Robitah, kawan seperjuangan dari Probolinggo, saat usai Upacara Peringatan Dies Natalis IPB ke-50 di Kampus IPB Dramaga
Bersama Anta dan Robitah, kawan seperjuangan dari Probolinggo, saat usai Upacara Peringatan Dies Natalis IPB ke-50 di Kampus IPB Dramaga.

Keinginan saya berkuliah di luar Jawa Timur

masih sangat besar, saya mencoba lagi peruntungan mendaftar di IPB. Terus terang saya kurang persiapan untuk ‘menghajar’ program sarjana, apalagi materi tes masuknya yang terbilang ‘traumatik’ bagi saya yang berkali-kali gagal. Terlalu berisiko. Maka saya mengambil cara lain dengan mendaftar di program diplomanya saja. Alhamdulillah dengan hanya satu kali tes tulis, saya dinyatakan lolos pada pilihan pertama, Program Diploma Komunikasi. Padahal menurut senior saya, untuk menembus prodip komunikasi, saingannya cukup banyak. Beruntung sekali saya.

Pada saat saya memberitahukan kabar gembira karena anaknya berhasil mendapatkan satu bangku kuliah di IPB, dengan santainya saya bilang ke ibu, “Mi, udah beli tiket kereta ke Bogor belum?” Siang itu seisi rumah dan sekitarnya langsung berbahagia.

Memasuki tiga hari masa ospek dan hampir satu minggu berkuliah di kampus Cilibende-Gunung Gede-Baranang Siang, membuat saya mulai nyaman dengan suasana Bogor dan segala ‘kemeriahannya’. Namun semua berubah di suatu pagi ketika saya hendak berangkat kuliah dari rumah om saya di Dramaga. “Pengumuman USM STAN udah keluar!!” seorang teman memberitahukan melalui WhatsApp. Tanpa pikir panjang iPad kakak sepupu langsung saya ‘terkam’ dan secepat itu stan.ac.id terpampang. Dengan jantung yang saya rendam air hangat agar tetap rileks, saya cari nama saya di laman pengumuman:

MUHAMMAD AMMAR FAIZ — D1 PAJAK — JAKARTA

Ternyata saya mendapatkan prioritas terakhir. Nyaris saja.

Jadi berangkat kuliah? Tentu. Tapi sepanjang hari itu juga pikiran saya entah kemana. Sewaktu ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah Pengantar Komunikasi, saya meng-iya-kan saja. Tapi setelah jam kuliah berakhir, saat itu juga saya mundur menjadi penanggung jawab. Bisa jadi itu adalah masa jabatan seorang penanggung jawab mata kuliah tersingkat di jurusan saya.

Abby, kawan dari Lampung yang mendukung saya 'bermigrasi' ke STAN.
Abby, kawan dari Lampung yang mendukung saya ‘bermigrasi’ ke STAN.

Kawan dari Lampung yang mengidam-idamkan STAN dan tante dari Padang yang tidak kalah bangga mendengar keponakanannya diterima di salah satu PTK terbaik, memberikan masukan dan pertimbangan-pertimbangan kepada saya, salah satunya adalah kepastian mendapat pekerjaan.

Seingat saya, ayah dan ibu tidak secara langsung menunjukkan sikapnya. Mungkin karena mereka menganggap saya sudah cocok berada di sini. Apalagi ibu saya juga sangat yakin bahwa saya akan bekerja di salah satu stasiun tv di negeri ini dan muncul di tv. Tapi karena di awal perkuliahan sudah mendapat tugas mewawancarai orang, meresume berita, dan hal-hal jurnalistik lainnya. Saya merasa belum cocok ada di sini. Memang hanya waktu yang bisa menjawab, tapi harus sampai kapan.

Lalu selanjutnya apa?

Saya pamit dari kampus Cilibende secara ilegal. Karena waktu yang terbatas, saya hanya berpamitan kepada kawan sekelas dan dosen terakhir yang mengajar saya. Untuk persyaratan administrasi dan lain-lain, saya tidak sempat mengurusnya. Alhasil, dalam satu tahun, ibu saya di rumah menerima dua kali surat peringatan dari kampus.

Dengan segala kesibukan menyiapkan berkas daftar ulang di Bogor, setelahnya saya langsung menuju kampus Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Jakarta.

I'm the KING ! *langsung cuci piring
I’m the KING! *langsung cuci piring

Untungnya! Untungnya bukan saya saja putra Lumajang yang dinyatakan diterima di STAN, ada sembilan orang lainnya yang juga berasal dari Lumajang lolos USM STAN dan dilokasipendidikankan di Jakarta. Salah seorangnya adalah wanita dan dua diantaranya pernah mengenyam bangku kelas percepatan di SMA. Mayoritas yang diterima memang mereka yang telah beberapa hari atau minggu berkuliah di perguruan tinggi. Namun mereka lebih memilih STAN untuk dituliskan pada riwayat pendidikannya kelak. Kami menamakan diri kami sebagai MALTA (MAhasiswa Lumajang di sTAn).

Untuk tempat tinggal selama kami berkuliah di sini, kami dibantu senior mendapatkan rumah kontrakan yang nyaman. Kami hanya perlu membayarnya untuk satu tahun kedepan, ya, kira-kira kami memerlukan dana di atas tiga puluh juta untuk bersembilan orang.

Tapi ingat! Selama kuliah tentu kita tidak perlu meminta orang tua untuk membayar uang gedung, uang SPP, uang ujian, dan segala jenis iuran yang lain. Orang tua hanya perlu membayar uang kemahasiswaan untuk kegiataan non-akademik kita selama satu atau tiga tahun kedepan dan kita terbebas dari berbagai bentuk iuran yang biasanya ada di PTN/PTS. Urusan perkuliahan sudah difasilitasi oleh negara. Bahkan alat tulis yang bisa kita beli sendiri pun diberikan oleh negara.

Alhamdulillah..

Hari pertama saya di Bintaro disambut dengan dikejar anjing sepulang berbelanja keperluan rumah bersama Indra, sahabat saya sejak kelas X SMA. Lalu di malam harinya, saya mengalami fenomena sleep paralysis atau tindih hantu atau irep-irep atau tindien di tengah malam, di kamar seorang diri, ditambah dengan backsound berupa lolongan anjing tetangga yang hampir satu jam lamanya tidak kunjung berhenti.

Hmm.. Rupanya Bintaro menyambut saya dengan berlebihan.

Foto bersama saat Malam Inagurasi Dinamika
Bersama satu kelompok MIANGAS’29 saat Malam Inagurasi Dinamika “GENERASI MATAHARI”.

Memasuki masa DINAMIKA atau ospek, saya berkenalan dengan banyak orang dari seluruh penjuru Indonesia. Tidak pernah saya mendapati pertemanan yang seberagam ini. Dari Medan, Kep. Riau, Lampung, Padang, Bandung, Jawa, Bali, Makassar, Banjarmasin, Lombok, dan yang berasal dari kota-kota lain yang mungkin agak sulit ditemui jika kita hanya berkuliah di wilayah Jawa Timur. Pada awal perkuliahan, saya sangat kagum dan bangga karena mempunyai teman yang bermarga Gultom, Sihombing, Sitorus, Lubis, dan sebagainya. Menurut saya itu adalah suatu hal yang keren!

Salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan, untuk pertama kalinya lebih dari 24 jam saya tidak tidur. Saya sibuk menyiapkan perlengkapan-perlengkapan ospek. Ada tugas kelompok yang harus diselesaikan, ada juga tugas individu yang tidak kalah banyaknya, dan acara ospek yang tidak boleh dilewatkan. Hampir satu minggu jam tidur saya amburadul.

Acara perpisahan kelas di Pulau Tidung, Kep. Seribu. Untuk mendapatkan harga yang ekonomis, kompak satu kelas berjualan gorengan, minuman, dan bazaar sejak tiga bulan sebelum acara.
Acara perpisahan kelas di Pulau Tidung, Kep. Seribu. Untuk mendapatkan harga yang ekonomis, kompak satu kelas berjualan gorengan, minuman, dan bazaar sejak tiga bulan sebelum.

Selama satu tahun ini, saya akan bersama-sama dengan tiga puluh enam orang lainnya di kelas E D1 Pajak. Alhamdulillah hobi saya bisa tersalurkan juga di kelas ini, saya terpilih menjadi bendahara bersama dua teman yang lain. Ya, benar, bendahara kelas kami ada tiga orang. Itu karena kami merasa urusan keuangan adalah sesuatu yang sensitif, yang harus dijaga kemurniannya hingga receh terakhir.

STAN sendiri menerapkan sistem mata kuliah yang terjadwal atau paket. Tidak ada mahasiswa yang bisa memilih sesuka hati mata kuliah yang ingin mereka pelajari. Semua sudah diberikan dan mahasiswa harus patuh terhadap jadwal yang tersedia. Pilihannya hanya dua: LULUS atau DO delivery order.

Namun berkuliah di STAN ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Terutama bagi mereka lulusan IPA seperti saya yang minim ilmu akuntansi dan hukum. Selama tiga bulan berkuliah, yang bisa saya tangani hanya mata kuliah statistik, bahasa, agama, dan yang tidak terlalu berkaitan erat dengan rumpun tetangga. Walau pusingnya bukan main, tapi saya harus beradaptasi dengan rumpun ilmu yang bagi saya nyaris baru itu.

Di awal memulai perkuliahan, saya memberanikan diri untuk membuka usaha kecil-kecilan berjualan pulsa. Ternyata dengan cara tersebut saya lebih mudah mengenal teman baru di kelas. Karena mau tidak mau saat mereka belum melunasi uang pulsanya, maka saya pun datang dengan membawa buku catatan saya.

Sekitar satu bulan kemudian, salah seorang kakak tingkat menawarkan kepada saya untuk mengajar privat seorang anak SD. Satu minggu dua kali pertemuan dan per pertemuannya saya diberi uang saku Rp50.000. Menggiurkan sekali bukan? Mungkin karena saya kurang dapat mengajar dengan baik, aktivitas baru ini pun hanya bertahan sekitar satu setengah bulan.

Tak lama, saya menambah bisnis yang lain dengan berjualan risoles. Risoles yang saya jual dipasok oleh kakak tingkat yang memang memiliki usaha risoles. Setiap kali berangkat kuliah, saya membawa satu hingga dua kotak risoles di tangan saya. Malu? Tidak. Entah mengapa saya sangat senang berjualan risoles ini. Dapat dipastikan dagangan saya selalu ludes terjual oleh teman satu kelas.

Selain fotografer, ada juga yang menjadi model, penata rias, dan orang-orang kreatif lainnya.
Selain fotografer, ada juga yang menjadi model, penata rias, dan orang-orang kreatif lainnya.

Aktivitas saya selain berkuliah yakni mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) fotografi, Masyarakat Fotografi STAN (MAFOS). Pada saat diklat fotografi, saya dipilih menjadi senat yang mengoordinasi teman seangkatan sewaktu diklat. Alasan saya dipilih, salah satunya karena saya memiliki tinggi badan yang tidak biasa. Dengan demikian saya akan mudah ditemukan oleh senior yang mendiklat kami. Mungkin saja demikian.

Karena kami tidak memiliki kakak tingkat yang masih aktif berkuliah, maka kepengurusan baru UKM diserahkan kepada angkatan kami. Tidak disangka-sangka karena diklat itulah pada saat pemilian ketua baru, saya mendapat suara yang signifikan besar. Dan mulai saat itu, saya sah menjadi Ketua MAFOS 2014-2015. Memang tidak mudah, tapi saya bersyukur hampir genap satu tahun mereka masih bertahan saya pimpin.

Di MAFOS, kami juga memiliki kegiatan wirausaha. Seperti mendokumentasikan suatu acara, membuka usaha jasa foto ijazah, hingga memfasilitasi pembuatan buku angkatan. Untuk anggota MAFOS yang aktif di kewirausahaan tentu ada komisi bagi mereka.

Alhamdulillah selain mendapat uang saku dari kampus yang dibayar tiap tiga bulan sekali, ditambah penghasilan yang saya dapat dari berjualan apa saja, komisi dari kewirausahaan di UKM, dan uang saku untuk PKL selama tiga minggu, hampir tidak pernah saya meminta tambahan uang untuk membeli jaket angkatan, jaket pajak, buku angkatan, keperluan UKM, bahkan untuk perpisahan kelas ke Pulau Tidung.

Pertama kalinya mengunjungi Kawasan Kota Tua Jakarta.
Pertama kalinya mengunjungi Kawasan Kota Tua.

Nah, karena lokasi kampus yang berdekatan dengan ibukota, tentu sayang jika tidak dijelajahi. Mulai dari ke Kota Tua, Bundaran HI, Museum Nasional, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Galeri Nasional, dari mal kelas menengah hingga kelas atas (menumpang toilet), ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, ke kota tetangga sampai ke Bandung pernah saya kunjungi.

Selama berkuliah di STAN, sejak masa ospek kami telah diperkenalkan dengan pelatih-pelatih dari KOPASSUS. Bukan hanya kali itu, kami dipertemukan lagi pada saat Capacity Building selama 3 hari 3 malam di Bumi Perkemahan Grahawisata Cibubur. Tiga hari itu dunia seakan berjalan slow motion. Rasanya ingin sekali mempelajari kerja jam matahari agar segera tahu kapan jam istirahat tiba.

Kami tidur di dalam tenda beralaskan terpal dengan kapasitas 20-30 orang, tak jarang terpal kami mendadak menjadi genangan air ketika hujan tiba dan jika sedang tidak beruntung kami pun harus tidur di atas air yang menggenang itu atau setidaknya tidur dengan kondisi basah.

Saat istirahat makan, tidak ada mulut yang bersuara, makanan harus habis kurang dari sepuluh menit. Untuk yang terbiasa makan dengan kecepatan penuh mungkin tidak sulit, tapi untuk mereka yang terbiasa makan dengan slow motion sembari menikmati makanan tentu tidak mudah. “Dorong pakai air!” seru pelatih. Apa yang terjadi jika makanan dalam kotak belum habis? Kami akan disuruh lompat-lompat, guling-guling, dan sebagainya. Ini lah tantangan sebenarnya: banyak yang berujung, maaf, muntah. Kebanyakan kegiatan dilakukan di luar ruang, maka tak heran jika sepulang dari aktivitas yang ‘menarik’ ini, kami seperti telah dibakar setengah matang tinggal ditambah mentega.

Sesi guling-guling berjamaah saat Diklat Teknis Umum bersama KOPASSUS. (Dok. Pusdiklat Pajak)

Walau manis dikenang dan pahit diulang, nyatanya kegiatan serupa juga saya rasakan saat Diklat Teknis Umum di tempat yang sama selama sepuluh hari dan Diklat Prajabatan di KOPASKHAS-Bandung selama tiga hari. Semoga saja memang tidak diulang untuk kesekian kalinya. Ada yang mengatakan lebih berat, ada juga yang mengatakan mulai terbiasa.

Lupakan.

Kehidupan di kampus sangatlah kondusif dan menyenangkan, walaupun dibayang-bayangi ancaman DO. Dari 37 siswa satu kelas, yang di-DO ada 3 orang. Dari ±550 mahasiswa satu angkatan diploma I, yang di-DO tidak kurang dari 25 mahasiswa. Di sanalah kami, selain dituntut untuk memiliki hard skill (penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis), kami juga harus mempunyai soft skill (kemampuan intrapersonal dan interpersonal). Sering soft skill ini yang membuat kami tergelincir.

Oleh karenanya, untuk meminimalisasi ‘tergelincirnya’ para mahasiswa, kampus sering memberikan seminar, kuliah umum, apel, ceramah, capacity building, holiday camp, dan kegiatan-kegiatan serupa yang sifatnya meningkatkan soft skill. Kami diberikan materi-materi yang akan banyak berguna saat berada di lingkungan kerja. Sebagai calon abdi negara, tentu kami disiapkan sematang mungkin sejak masih di kampus agar kami benar-benar menjadi tenaga handal di bidang yang kami tempuh nanti. Saya rasa strategi pembimbingan yang seperti ini yang membedakan kami dengan kampus lain. Ambil saja hikmahnya.

Sebagai penutup, menjadi mahasiswa STAN tentu harus siap dengan pengabdiannya kepada negara. Bukan hanya “Sampai Tua Abdi Negara”, tetapi juga selama raga masih sanggup menopang jiwa, sebisa mungkin terus mengabdi kepada negara tercinta ini. Dimulai dari hal kecil, dimulai dengan perlahan, ditambah konsistensi dan semangat, insyaallah dengan segera negeri ini akan jaya-raya.

Foto di depan Studen Center usai wisuda.
Foto di depan Studen Center usai wisuda.

  1. Memang di awal cerita, dengan gagah berani saya mengambil risiko. Tapi langkah saya ini memang dirasa tidak tepat. Sehebat apapun risk taker, sudah pasti mereka adalah orang-orang dengan risiko yang terukur, penuh pertimbangan. Dalam hal ini keberuntungan bukan yang menjadi fondasi keyakinan menentukan pilihan;
  2. Penolakan demi penolakan seharusnya tidak dijadikan penghalang. Ketika satu pintu rezeki tertutup, yakinlah bahwa masih ada banyak pintu rezeki yang terbuka. Tugas kita adalah bagaimana caranya agar kita dapat menemukan pintu rezeki yang terbuka dan mau menerima kita itu;
  3. Fokus dengan target! Jadikan target itu adalah sesuatu yang HARUS dicapai dengan langkah-langkah yang mendukung tercapainya target tersebut. Kalau target ingin berkuliah di luar Jawa Timur tapi mendaftar kuliah untuk universitas di Jawa Timur, nonsens;
  4. Pilihan untuk berkuliah di luar Jawa Timur bukanlah tanpa sebab, bukan karena memaksakan diri atau terlalu terobsesi. Lebih kepada untuk merasakan apa yang kebanyakan teman-teman saya di Jawa Timur tidak rasakan. Naik KRL lintas provinsi, mengenal banyak orang dari berbagai penjuru Indonesia, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tidak bisa dirasakan di Jawa Timur;
  5. Walaupun jauh dari teman-teman SMA, saya merasa tidak terlalu kehilangan mereka. Cepat atau lambat kita tentu akan berpisah. Menyusuri kehidupan yang berbeda. Dan semua hanya masalah waktu. Tidak akan selamanya bersama;
  6. Lumajang di kampus tercinta bisa dibilang adalah minoritas. Tapi bukan berarti hal itu menjadi pembatas, nyatanya dengan kami yang hanya ber-10 di kampus, banyak dari kami yang juga memegang peran penting dalam lingkungan barunya, entah sekadar di kelas, di UKM, bahkan di lingkungan kampus;
  7. Keluar dari comfort zone atau zona nyaman. Disadari atau tidak, dengan kita jauh dari orang tua, jauh dari kawan-kawan lama, dan jauh dari zona nyaman kita. Maka kita akan belajar bagaimana menyesuaikan diri, berbaur dengan keadaan baru, dan juga bertahan. Orang bijak berkata, “There’s no comfort in the growth zone, and there’s no growth in the comfort zone“;
  8. Terlepas dari jalan yang saya tempuh ini, masing-masing individu pasti memiliki jalannya sendiri. Bisa benar menurut saya, bisa salah menurut mereka. Dan sebaliknya. Yang lebih penting dari itu, dimanapun kita berada dan dari kampus mana kita berhasil diwisuda, kita sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki peranan yang terbaik bagi bangsa ini. Dengan caranya masing-masing.

7 tanggapan untuk “Sampai Tua Abdi Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s