De Har: Warna

Pagi itu, di sekitaran jam enam pagi, seperti biasa saya sudah berada di atas angkot. Perjalanan menuju kantor kali itu terasa sedikit berbeda, bukan karena lebih macet dari hari sebelumnya. Tapi saat saya menyadari dalam satu angkot yang sama ada seorang bapak paruh baya bersama seorang putra kecilnya. Memang tidak aneh, namun seketika membuat saya terbayang kenangan bersama seseorang. Seseorang yang sering hinggap dalam lamunan saya sejak kelas X SMA. Lamunan tentang masa-masa bersamanya walaupun terbilang singkat.

Sering saat lamunan itu benar-benar saya hayati, mata saya tanpa disadari ikut berkaca-kaca. Ada yang menggantung di dalam kelopak mata saya, yang saya tahan-tahan agar tidak tumpah-ruah.

Tentang seseorang yang baru saya sadari memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup saya, setidaknya hingga detik ini. Bisa jadi saya tidak akan ‘semenakjubkan’ ini jika bukan karena dia. Dia adalah warna dalam hitam-putih.

Ini tentang kenangan tak terlupakan bersama seseorang.

47411255
Senyuman khas De Har.

Agus Eko Munoraharjo, pria yang biasa saya panggil Pakde Har, atau singkatnya “De Har”. Lahir di Muna, Sulawesi Tenggara. Dia adalah kakak sulung ibu saya. Ibu saya sendiri adalah anak keempat dari lima bersaudara. Mengapa bisa sampai jauh-jauh melahirkan seorang anak di Sulawesi? Itu karena nenek saya memang asli orang Raha, Muna, Sulawesi Tenggara.

Tidak banyak yang saya tahu tentang bagaimana De Har memulai kehidupannya. Seusai lulus SMA di Probolinggo, ia melanjutkan kuliah di Universitas Udayana, Bali. Sayangnya sebelum berhasil diwisuda, pikiran dan nalurinya mulai berkehendak. Dia memilih untuk keluar dan menjalani pendidikan yang lain, alam dan budaya menjadikannya sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi bernama semesta.

Yang saya kagumi tentang dia adalah bakat seninya. Di rumah nenek, di Probolinggo, lukisan-lukisan hasil karyanya terpajang di sudut-sudut ruangan. Peralatan-peralatan yang dulu pernah De Har buat, yang berguna untuk mempermudah pekerjaan sehari-hari, hingga sekarang masih laik digunakan dan manfaatnya masih dirasakan.

Tidak hanya itu, dia juga mahir memainkan alat musik, gitar, organ, dan beberapa jenis alat musik tradisional khas nusantara. Bakat seni, ide, dan kreativitasnya begitu melekat dalam dirinya. Sekilas memandang wajah serta perawakannya, tentu orang akan segera menyadari bahwa De Har memang berbeda dengan kebanyakan orang ‘normal’ pada umumnya.

Ia juga pecinta sastra dan bahasa. Melalui beberapa buku catatan dan lembaran kertas yang masih tersimpan rapi di kamarnya, saya mengetahui bahwa ia adalah pembuat puisi yang di atas rata-rata. Saya juga menemukan beberapa amplop berisi surat berbahasa inggris hasil bertukar informasi dengan kawan luar negerinya. Kalau tidak salah meliputi bidang pertanian dan perkebunan milik kakek.

Di balik diamnya, matanya tetap awas. Di balik diamnya, telinganya tetap peka. Di balik diamnya, otaknya tetap bekerja, menganalisis. Di balik diamnya, ide dan kreativitas diperas. Di balik diamnya, ada hal yang dengan segera ingin dia lakukan.

Dia adalah seni. Dia adalah sastra. Dia adalah budaya. Tiga kata itu yang bisa saya gambarkan tentang De Har.

Dulu, belum tentu dalam satu tahun saya bisa bertemu De Har. Suatu waktu dia ada di Surabaya, lalu ke Sidoarjo, bergeser ke Lombok, menyeberang ke Bali, terbang ke Jakarta, menuju Bogor, mengarungi hutan Kalimantan, balik ke Jogja, terbang lagi ke Sulawesi, di lain waktu ada di daratan Sumatera, dan entah kemana langkah kakinya membawa. Dengan perjalanan yang begitu padat, tak jarang cukup sulit bagi kami untuk mengunjungi atau sekadar bertemu dengannya.

Sekalinya dia mengunjungi kami, selalu ada hal-hal menakjubkan yang dia bawa atau ajarkan kepada saya. Eksperimen-eksperimen seninya yang bisa jadi sekarang ini saya anggap begitu remeh, tapi nyatanya begitu keren di waktu dulu. Salah satunya adalah eksperimen bagaimana pelangi bisa terbentuk. Untuk anak berumur tujuh tahun seperti saya dulu, eksperimen seperti itu adalah eksperimen paling ajaib.

Dia yang mengenalkan saya perangkat elektronik bernama laptop untuk pertama kalinya. Saat Windows masih Windows 98. Walau diajarkan dasar-dasarnya saja, rupanya sudah cukup membuat saya lebih maju dalam pengetahuan teknologi komputer dibanding kawan sebaya saya kala itu. Permainan komputer pertama yang saya coba adalah sebuah permainan paling menakjubkan untuk seorang bocah. Sebuah paket permainan yang didalamnya terdapat permainan mewarnai gambar yang telah berpola dengan satu klik untuk satu warna, menggambar, membuat cerita fabel yang tokoh dan alurnya bisa saya ubah sesuka hati*, dan permainan mengasyikkan lainnya.

*Salah satu cerita yang saya ingat adalah cerita tentang Gadis Berjubah Merah dan Serigala, dalam cerita tersebut alur atau tokoh-tokoh yang berada di dalamnya bisa saya ganti semena-mena. Misalkan untuk peran serigala bisa saya gantikan dengan seorang polisi. Yang menjadi nenek, saya tukar dengan monyet, dan sebagainya. Menakjubkan, bukan?

Dia juga lah yang mengenalkan saya kepada dunia fotografi. Dia menjadi orang pertama yang mengantarkan saya kepada hobi yang menurut saya paling menyenangkan sampai sekarang ini. Pada tahun-tahun itu pemilik kamera digital masih sedikit, tapi dia berhasil menjadi salah satu orang yang memiliknya. Tidak terlalu penting apa mereknya, yang jelas itu adalah sebuah kamera digital. Saya yang masih bocah tentu dijadikan sasaran objek paling masuk akal bagi dirinya. Dengan muka yang masih lucu nan menggemaskan, sedikit arahan, saya pun menurut saja untuk dijadikan modelnya.

Berhubung saya masih memiliki dua adik lagi. Akhirnya sesi pemotretan saya pun selesai. Kali ini saya yang diajarkan untuk menjadi fotografer dengan bermodelkan adik saya sendiri. Mengarahkan bagaimana mendapat angle (baca: enggel, bukan enjel) atau sudut yang tepat, mengarahkan si ‘model’ dengan pose-pose luar biasa, dan komposisi warna, minimal terang-gelapnya. Ya, dengan cara yang sederhana saja. Toh, masih anak seumur jagung ini.

Kebun yang dulu bukanlah yang sekarang.
Kebun yang dulu bukanlah yang sekarang.

Saat bocah-bocah, keponakannya, mulai lelah dengan aktivitas barunya menjadi seorang model, sasaran objek foto beralih ke benda-benda mati, bunga dan tanaman. Rumah nenek yang memiliki kebun cukup luas, dengan beragam objek foto, menjadi lokasi foto yang menarik. Kini tiba waktunya saya untuk mempraktikkan ilmu yang saya dapat, satu-dua kali jepret, lalu saya laporkan hasilnya ke De Har. Dengan tampang tiba-tiba serius, dia pun mengomentari hasil foto amatiran saya. Saya hanya bisa mengangguk dan entah bagaimana kelanjutan nasib foto saya. Menyenangkan sekali rasanya mengingat kebersamaan itu.

Ada cerita unik yang berkesan bagi saya, pada saat itu ibu saya mengajak anak-anaknya untuk mengunjungi De Har di Sidoarjo. Kami berangkat pada hari Jum’at siang, menaiki bus antarkota dari Lumajang. Jarak tempuhnya kurang lebih tiga setengah jam. Selama diperjalanan, seperti biasa saya akan disibukkan dengan mual-mual, pusing, dan kegiatan sejenis. Untuk meredahkan ketidaknyamanan saya itu, ibu pasti membelikan saya minuman atau obat antimo anak, yang dijual pedagang asongan di atas bus. Dasarnya memang anak kecil yang ramah lingkungan, dari pada saya membuang sampah sembarangan, lebih baik saya simpan saja di kantong kursi yang berada di depan kursi saya.

Setibanya di Terminal Bungurasih, saya langsung dijemput oleh De Har dan satu temannya. Perjalanan menuju rumah di kawasan Delta Sari Sidoarjo juga biasa-biasa saja. Selama berada di sana, De Har tak berhenti memberikan hal-hal baru kepada saya. Saya diajarkan bermain mini golf di pekarangan belakang rumahnya. Ya, tetap menyenangkan untuk belajar hal-hal baru.

Hari minggu malam kami kembali ke Lumajang. Kami diantarkan menuju terminal yang sama, tidak terlalu lama kami menunggu bus. Sekalinya bus dengan jurusan yang kami tuju sudah didapat. Ternyata itu adalah bus yang sama, yang kami naiki pada hari Jum’at, dan yang membuat kami tak kalah terkejut karena kursi yang kami duduki juga kursi yang sama. Itu terbukti dari sampah yang saya ‘simpan’ di kantong kursi depan. Ajaib!

Di ulang tahun saya yang ke sekian belas, De Har memberikan saya sebuah kado, sebuah keyboard. Saat itu saya memang sedang suka bermain keyboard. Sebenarnya ayah saya adalah pemain musik yang handal, utamanya gitar dan keyboard. Dengan tanpa diberi label do-re-mi-fa-sol-la-si-do, ia mampu bermain musik dengan baik. Sebelum keyboard dari De Har datang, saya hanya bisa bermain keyboard di rumah eyang, di Dringu, Probolinggo, itu pun saat saya berkunjung ke sana. Dengan keyboard ini, mungkin De Har berharap saya juga bisa memainkan alat musik. Menguasai hal baru lagi, sekalipun nyatanya hingga sekarang saya masih buta memainkan alat musik.

Tepat seusai lulus SMP, dengan bermodal kamera Canon 350D yang baru saja dibeli ayah, saya mulai menyambung lagi ilmu yang pernah diajarkan De Har dulu. Objek yang mudah saja, benda mati. Di sepanjang jalan raya yang baru saja jadi di dekat perumahan, terdapat sawah di samping kanan dan kirinya, pohon-pohon pun banyak ditemui, serangga-serangga acap kali loncat dari ranting pohon yang satu ke ranting pohon lainnya, dan sekalipun malu-malu berselimut daun, bunga masih berseri-seri memberi warna selain hijau dalam kemajemukan pemandangan. Saya asah kemampuan saya di setiap pagi atau sore hari bersama ayah dan ibu, terkadang adik juga ikut serta.

Bunga xxxxxx di suatu pagi yang berembun.
Bunga xxxxxx di suatu pagi yang berembun, hasil percobaan perdana saya.

Hasil foto yang saya ambil, yang menurut saya bagus, lantas saya unggah ke facebook. Saya juga menambahkan teman-teman yang tidak saya kenal, yang juga hobi fotografi, untuk nantinya akan saya tandai dalam karya foto saya. Dengan begitu saya harap ada kritikan atau masukan dari para pecinta fotografi mengenai hasil foto amatir saya. Setidaknya di-Suka-i. Waktu itu yang memiliki cara narsis seperti saya belum begitu banyak.

Tidak jarang De Har memberikan pendapatnya mengenai karya saya melalui layanan pesan facebook, dia memberikan kritikan tentang apa yang menurutnya kurang berkenan, dan tak lupa memberikan masukan tentang perbaikan-perbaikan yang harus saya lakukan. Kadang saya juga menceritakan kesibukan saya di sekolah dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya.

Memasuki bangku SMA, di SMA NEGERI 2 LUMAJANG, De Har mulai sulit untuk dihubungi. Akun facebook-nya tiba-tiba menghilang. Tak lama ada kabar bahwa dia akan berada di Swedia untuk beberapa minggu. Entah ada urusan apa dia di sana. Sekembalinya dari Swedia, tanpa bertemu saya atau bahkan keluarga besarnya di Probolinggo terlebih dahulu, dia kembali lagi ke Swedia. Sebagai bentuk perpisahan (saya kira demikian), dia memberikan saya sebuah kamera, sebuah Canon 1000D, melalui jasa pengiriman. Dari surat garansi, saya mengetahui bahwa kamera itu dibeli di Jakarta. Berarti De Har memang sempat kembali terlebih dulu ke Indonesia.

Siapa sangka, kamera itu lah yang membuat saya harus berurusan dengan banyak orang, dengan banyak pihak. Dengan kamera itu, studi saya di SMA harus disibukkan dengan kegiatan non-akademik. Dengan kamera itu, saya kerap kali menjadi anggota atau koordinator seksi dokumentasi di hampir setiap kegiatan OSIS sekolah, walau tak jarang kegiatan di luar OSIS juga sering melibatkan saya didalamnya.

Bersama ekstrakurikuler fotografi saat berkunjung ke Kota Batu.
Bersama ekstrakurikuler fotografi saat berkunjung ke Kota Batu.

Diterima di OSIS untuk menggantikan kakak kelas yang tidak mengikuti diklat kepemimpinan dan ditempatkan menjadi anggota pada Bidang Seni, Sastra, dan Budaya, bisa jadi salah satu pertimbangannya adalah karena kamera ini. Di situ saya bertanggung jawab atas ekstrakurikuler fotografi, teater, dan mading. Setahun kemudian, saya dipercaya oleh Ketua OSIS saya mendampinginya membawahi kewirausahaan, olah raga, seni, teknologi, dan bahasa menjadi Wakil Ketua OSIS II.

Layout bagian para kru di buku angkatan saya sendiri.
Layout bagian para kru di buku tahunan angkatan saya sendiri.

Dengan modal kamera ini, saya yang baru duduk di kelas X diikutsertakan untuk bergabung dalam kru pembuatan buku tahunan angkatan kakak kelas dua tingkat di atas saya. Saya diminta menjadi camboy atau juru kamera. Tugas saya ringan saja, mengambil gambar para kru, guru-guru di sekolah, gedung atau fasilitas sekolah, dan tugas yang paling ringan adalah meminjamkan kamera ke kru yang lebih senior. Berkat keiikutsertaan itu, dua tahun berturut-turut setelahnya, saya diamanahi menjadi pemimpin redaksi buku tahunan angkatan, sekalipun pembuatan buku tahunan untuk angkatan kakak kelas satu tingkat di atas saya.

Lulus SMA, selama berkuliah di STAN, kamera mengantarkan saya untuk bergabung dalam UKM fotografi kampus, bahkan menjadi ketuanya. Seperti yang saya ceritakan di pos sebelumnya. Di sana dan di sini. Lepas kuliah, ketika saya magang di KPP Pratama Cianjur, saya juga sering ditugaskan untuk mendokumentasikan acara kantor. Jujur saja kalau untuk pengetahuan yang langsung mengarah ke bidang perpajakan, saya masih kurang. Tapi untuk bidang kreativitas dan utamanya fotografi, kemampuan saya bisa diandalkan. Setidaknya ada hal yang laku saya ‘jual’.

Mungkin disangka berlebihan sekali ‘membendaemaskan’ kamera saya ini. Tapi jujur saja di tahun 2010, pemilik kamera DSLR di kota kecil (lebih halusnya Ketua OSIS saya menyebutnya dengan ‘desa besar’) seperti Lumajang belum begitu banyak. Di SMA saya saja, pemiliki DSLR masih terbilang sedikit. Selain kamera baru milik sekolah, salah satunya adalah kamera saya ini. Berbeda dengan sekarang yang bisa jadi di setiap kelas ada saja satu atau lebih dari satu siswa yang memiliki kamera DSLR.

Dimana ada kegiatan sekolah, di situlah siswa baru berperawakan tinggi-langsing bertengger. Alhasil Faiz kala itu dikenal dengan julukan Faiz “Fotografi” untuk membedakan dengan Faiz yang kakak kelas XI. Begitulah cara De Har menjadikan saya berbeda dengan kebanyakan orang. De Har memberikan kesempatan dan membukakan ‘pintu kemana saja’ untuk saya masuki.

Tidak terasa orang yang dulu sangat dekat dengan saya, kini sudah lebih dari lima tahun tidak ada kabarnya. Hingga kini dia belum juga kembali lagi ke tanah air. Begitu banyak cerita yang ingin saya sampaikan ke De Har. Termasuk tentang kamera pemberiannya yang sudah saya jual untuk ditukartambahkan dengan kamera bertipe lain, Canon 30D. Dengan canon tersebut, saya dulu mengantongi tiga jenis lensa. Lensa kit 18-55 mm, fix 50 mm, dan tele 75-300 mm. Sudah cukup banyak objek-objek bidikan saya yang belum tentu De Har pernah lihat. Tapi seperti ini lah mata kuliah yang perguruan tinggi bernama semesta ajarkan.

Terima kasih atas segala pemberian berupa apa saja kepada kami, utamanya kepada saya. Semoga De Har menemukan tulisan ini dan segera memberi kabar kepada kami, keluarga besarnya yang sedang merindu.


Dari De Har saya belajar banyak:

  1. Menjadi berbeda itu penting. Selain dikaruniai tinggi badan yang jelas berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia, saya juga berbeda dalam selera dan persepsi tentang sesuatu. Apa yang orang lain suka, di situ saya tidak suka. Dan sebaliknya. Secara tidak langsung saya membuat dunia saya sendiri yang menjadikan saya satu-satunya penghuni di dalamnya. Saya berkeinginan untuk tidak disamakan dengan orang lain;
  2. Menjadi kreatif itu perlu. Seorang kepala seksi menyampaikan ini kepada saya, “Kalau kemampuan teknis seperti perpajakan, peraturan-peraturan, dan hal birokrasi lainnya, lambat laun dengan sendirinya kita akan segera bisa menguasainya, tapi selera dan kreativitas itu belum tentu setiap orang bisa dengan baik menguasainya.” Saya percaya betul itu;
  3. Menjadi inspiratif itu harus. Pepatah mengatakan, “Apa yang kita tanam sekarang, pasti akan kita panen hasilnya nanti.” Itu yang De Har lakukan, dia memberikan inspirasi kepada saya saat saya masih anak-anak. ‘Bibit-bibit’ yang dulu dia tanamkan kepada saya, ternyata saya lah yang memanen hasilnya. Saya akhirnya percaya saat bukti itu nyata saya alami. Itu mengapa ketika ada anak pegawai berusia sekitar sepuluh tahun yang sering bermain ke kantor, sesekali saya ajak membaca buku tentang perjalanan keliling dunia. Sambil saya pangku, saya tunjukkan foto-foto yang tertera dalam buku sembari saya bacakan ringkasannya agar rasa ingin tahunya tumbuh;
  4. Menjadi inisiatif itu luar biasa. Banyak dari kita yang dewasa ini sangat enggan dalam memulai sesuatu. Mengkhawatirkan dampak buruknya, saja. Belum berani untuk mengambil sikap atas apa yang diri mereka sendiri yakini. Menjadi yang pertama, yang mengawali, bukan hanya berisi penuh risiko, tapi menjadi orang pertama adalah suatu keuntungan yang tidak diperoleh orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Inisiator menjadi pintu bagi banyak orang;
  5. Dengan permainan komputer mengubah tokoh dalam sebuah cerita, saya diajarkan menjadi sutradara kecil-kecilan. Ya, it works! Sejak SMP saya sudah mulai suka drama. Entah mendapat kemampuan dari mana, tapi saya begitu menikmati mengembangkan sebuah ide cerita dan menuangkannya ke dalam skenario. Saat perekaman video drama, selain menjadi kameraman, saya juga menyutradarai para pemain agar tetap berada dalam alur cerita sesuai naskah. Pengalaman-pengalaman itu masih berlanjut ke SMA hingga ke kantor sekarang ini;
  6. Di beberapa buku mengatakan, keberhasilan adalah saat bertemunya kesempatan dengan persiapan. Pada saat itu saya tentu belum siap dengan kesempatan: memiliki kamera, tapi dengan adanya kesempatan itu saya mencoba untuk menguasai dan memanfaatkannya dengan baik. Karena belum tentu orang lain memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Dan jangan sampai saya terlambat untuk memanfaatkan kesempatan yang ada itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s