Memilih Untuk Menjaga

Seharusnya tulisan ini belum sewaktunya untuk dipublikasikan. Tapi sudahlah, daripada saya harus melalui malam-malam yang sedikit lebih panjang dari biasanya karena gelisah.


“Matahari tidak pernah meninggalkan bumi sekalipun bumi tidak mampu melihatnya, entah tertutup oleh mendung gelap atau hujan lebat. Sekalipun bumi tidak bisa merasakan kehadirannya di malam hari, matahari titipkan cintanya kepada bulan. Matahari memberi ruang kepada bumi agar bumi paham, bahwa ada  atau tidaknya matahari, langit tetaplah menawan.” Hujan Matahari – Kurniawan Gunadi


Sejak tulisan ini dibuat, maka sudah hampir empat bulan saya terpaksa menikmati sebuah perasaan aneh ini. Perasaan yang setiap saat bisa kambuh di saat ada hal kecil menghampiri. Hal kecil mulai dari sebuah foto, sebuah lagu, sebuah film, hingga sebuah memori lalu. Apa pun wujudnya, yang ada dalam bayangan saya hanyalah dia. Sosok yang menjadikan saya sama sekali tidak tertarik dengan ‘yang lain’.

Hanya menikmati, intinya hanya itu. Kenikmatan yang belum tentu dapat saya rasakan untuk yang kedua, ketiga, atau kesekiankalinya. Kenikmatan memilih untuk menjaga.

Lalu, ada apa dengan empat bulan yang lalu?
Ya, empat bulan yang lalu kami bersepakat untuk membatasi komunikasi. Memilih untuk menjaga. Bisa jadi ini adalah pilihan yang berat. Berlangsung selama empat bulan juga sudah sangat luar biasa.

Keputusan ini bukanlah yang pertama kalinya. Setahun lalu kami pernah mencobanya. Tapi gagal. Karena ‘perpisahan’ kali itu bukan kemauan kami berdua, bukan kesepakatan bersama, tapi karena keegoisan saya yang tiba-tiba memutuskan komunikasi.

Bedanya dengan yang ini?
Kali ini, akhirnya kami berdua menyadari: masih belum waktunya. Masih belum waktunya untuk bersama. Berdua.

Memang bukan perkara mudah untuk dijadikan sebuah keputusan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi dua bulan, satu tahun, atau bahkan esok hari? Dengan membatasi komunikasi, jelas kami tidak akan tahu bagaimana kondisi masing-masing dari kami. Apakah sedang sakit, sibuk, atau membutuhkan pertolongan sekalipun. Kami sepakat untuk mempercayakannya kepada Allah dan keyakinan.

Keyakinan bahwa kami akan bertemu bila mana telah sampai pada waktunya.
Keyakinan bahwa masing-masing dari kami akan sanggup melaluinya.
Keyakinan bahwa pilihan berat ini adalah pilihan yang tepat.
Keyakinan bahwa kami benar-benar yakin.

Dalam posting “Dia”, saya mengungkapkan bahwa kami sudah saling mengenal sejak kelas 4 SD. Itu mengapa saya tahu betul bagaimana dia dulu dan sekarang. Jauh berubah. Jauh berbeda. Jauh lebih baik. Karena itu saya berani menantangnya membatasi diri. Membatasi komunikasi. Membatasi pertemuan. Memilih untuk menjaga.

Komunikasi, saat masih berkomunikasi. Komunikasi kami bukanlah komunikasi yang agresif, setiap ‘mikro detik’ harus tahu keadaannya, dan sebagainya. Singkatnya, kami berkomunikasi dengan efektif-efisien saja. Kalau tidak ada hal penting, mengapa harus membuat sesuatu tiba-tiba menjadi penting untuk dibahas? Kadang, pemaksaan hal tidak penting untuk dijadikan penting itu yang menyebabkan perdebatan. Semakin sering berkomunikasi, peluang untuk salah bicara atau miskomunikasi jadi semakin besar.

Pertemuan, saat masih bertemu. Pertemuan kami bukanlah pertemuan yang tiap hari, tiap minggu, atau tiap bulan pasti bertemu. Dalam setahun, mungkin hanya 2-3 kali saja. Ya, karena kami memang tidak berada dalam satu kota yang sama. Intensitas pertemuan kami sangat jarang. Saat bertemu hanya berdua, sering saya merasakan kegelisahan. Sekalipun di tempat yang ramai-meriah atau ditemani beberapa teman. Tetap saja membuat saya menjadi tidak tenang, ada perasaan dimana saya merasa diawasi. Takut. Saya mencoba untuk tidak memedulikan perasaan itu, tapi tetap saja tidak bisa.

Yang paling pokok, penampilannya. Penampilannya yang sudah jauh lebih baik daripada dulu, membuat saya harus ‘menjaganya’. Menjaganya dari omongan negatif orang-orang di sekelilingnya. Saya merasa sangat bersalah jika hanya berdua dengannya. Lalu apa bedanya dengan orang-orang di luar sana? Dengan wanita yang tidak berpenampilan seperti dia? Alhamdulillah kami masih memiliki rasa malu dan tahu diri.

Jika dengan penampilan yang tidak seperti sekarang, apa masih ingin sering berkomunikasi dan bertemu?
Kalau ingin, mungkin saja ingin. Manusia mana yang tidak ingin berinteraksi dengan dambaan hatinya? Manusia mana yang tidak memiliki naluri ingin mencintai dan dicintai? Saat masa remaja, tentu perasaan tertarik dengan lawan jenis sudah mulai tumbuh. Anak pesantren sekalipun pasti memiliki perasaan semacam ini. Tapi kita harus benar-benar pandai mengelola hati dan pikiran.

Sering kali saya merasa iri dengan teman sebaya saya yang memilih untuk menikmati masa muda bersama berdua dengan pasangannya. Dengan bebasnya membagi kebahagiaan di pelbagai media sosial. Tentu saya juga ingin seperti mereka. Tapi hati saya menolaknya. Sepertinya masih belum pantas untuk itu. Saya lebih memilih untuk menjaganya sendiri, dulu.

Arman Z, salah seorang teman satu mentoring saat dulu masih berada di STAN menceritakan kisah cintanya. Demikian juga dengan seorang teman satu prodi saat masih di IPB dulu, Akbar AU. Mereka ternyata mengalami ‘dilema’ yang serupa dengan saya. Sepertinya saya memang tidak sendirian dalam menjalani pilihan ini. Bahkan di sebuah akun media sosial milik Akbar, terpampang foto bertuliskan “Khitbah 2017”. Wah, mulia sekali. Dia menargetkan untuk menikah di tahun 2017. Saya kapan ya?

10450240_10203952862647238_1304319593698644480_oHanya kedua pilihan itu yang saya miliki. Tentu dengan perjalanan panjang ini, saya berharap akan segera berujung Halal. Tapi bukan sekarang. Dengan anggapan “Jik arek-arek” atau masih anak-anak, rasanya cukup sulit untuk dilanjutkan. Nanti saat anggapan itu sudah berubah menjadi “Wis siap” atau sudah siap, mungkin itu lah waktu yang tepat.

Sebenarnya saya cukup kesal dengan lelucon bahwa kedewasaan ditentukan oleh umur. Hingga saat ini saya masih belum menemukan korelasinya. Dengan umur saya yang baru 20 tahun, saya dianggap masih anak-anak. Padahal dengan umur 27 atau 30 atau berapa pun, belum tentu menjamin kedewasaan seseorang. Tidak sedikit orang dewasa yang masih bersikap kekanak-kanakan sekalipun umurnya sudah cukup banyak. Saya menyerah dengan umur yang dianggap masih anak-anak ini.

Maka, pilihan tersisa yang bisa saya ambil hanya Tinggalkan. Jelas saat ini saya belum bisa menghalalkan. Dilihat dari penghasilan, saya baru saja memulai bekerja. Bisa bertahan hidup untuk diri sendiri saja sudah sangat saya syukuri. Bagaimana untuk dua orang? Jangan sampai nantinya malah menyengsarakan anak orang.

CFiN-xoUUAA3ocVUmur? Ehm, dalam pasal 7 ayat (1) UU No.1/1974, perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun. Sudahlah, siapa yang peduli dibacakan undang-undang saat anaknya minta dinikahkan. Mungkin sebaiknya menunggu hingga mencapai umur yang bisa diterima mayoritas keluarga besar dan dianggap siap.

Jadi, sementara ini saya hanya bisa meninggalkan. Meninggalkan hingga tiba saatnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan selama menuju saatnya tiba?

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (Qs. An Nur:26)

Belajar. Belajar menjadi baik. Belajar ilmu agama. Belajar ilmu keluarga. Belajar ilmu keuangan keluarga. Belajar ilmu-ilmu lainnya, yang menjadikan masing-masing baik. Saat tiba waktunya, kita hanya perlu berbagi, memadukan, dan mengaplikasikan ilmu yang telah kita pelajari. Dan kegiatan belajar tidak berhenti sampai di situ, masih banyak hal yang harus dipelajari dan disempurnakan.

Saya sadari betul bahwa ilmu agama saya masih di bawah dia dan mungkin masih terlalu jauh juga dengan laki-laki  lain yang bisa meminangnya kapan saja. Saya khawatir waktu yang saya punya tidak cukup banyak untuk mempersiapkan dan memperbaiki diri. Dan saya tidak ingin hal yang saya impikan menjadi kacau.

Sebagai laki-laki, sebagai imam dalam rumah tangga, dan sebagai teladan bagi istri serta anak-anaknya kelak, sudah pasti ilmu agama adalah ilmu yang wajib dijadikan pondasi. Bahtera ini akan dipandu oleh seorang nahkoda yang bernama suami, ayah. Saya tidak ingin hanya karena kelalaian saya dalam memahami ilmu navigasi, membuat bahtera ini harus karam dan tidak mampu membawa para penumpangnya selamat sampai tujuan.

Bisa saja ada wanita lain di luar sana yang tidak mensyaratkan calon suaminya untuk menguasai terlalu dalam agama atau menjadikan saya tidak perlu berusaha terlalu keras untuk mendalami agama. Tapi apakah akan seperti itu? Apakah cukup dengan ilmu agama yang ‘sekenanya’? Apakah sebuah rumah mampu berdiri kokoh di atas pondasi yang rapuh? Saya rasa jawabannya: tidak. Mendalami agama adalah prioritas, bukan ditujukan untuk kepentingan orang lain, tapi kepentingan diri sendiri. Bukan hanya pondasi untuk rumah, tapi pijakan bagi penghuninya.


Jangan cepet-cepet nikah, nanti bla bla bla bla..!
Ya kan masih nanti, tidak ada yang tahu nanti akan seperti apa. Misal dikisahkan berdasar pengalaman pribadi si ‘pelarang’, ya pengalaman orang lain kan berbeda. Jangan disamakan. Dan banyak-banyak lah berdoa agar dihindarkan dari pengalaman yang ‘aneh-aneh’ itu.

Jangan cepet-cepet nikah, mending waktunya dibuat bahagiain orang tua dulu!
Bukannya dengan menikah orang tua jadi lebih bahagia dan tenang karena anaknya aman, ada yang menjaga, dan pasti sudah halal? Siapa tahu orang tuanya memang ingin segera menikahkan anaknya.

Jangan cepet-cepet nikah, nanti jadi males buat belajar ilmu baru atau berkuliah!
Siapa tahu dengan telah memiliki keluarga, motivasi untuk menjadi lebih baik dalam keilmuan akan semakin tinggi. Siapa tahu. Bergantung individunya.

Jangan cepet-cepet nikah, mending cari-cari yang lain dulu, siapa tahu lebih cocok sama yang lain daripada yang ini.
Saya jadi teringat tentang metafora ranting dalam film “Air Mata Surga”. Mungkin bukan ranting terkokoh, bisa jadi ranting dengan sejuta kelemahan. Tapi bagi saya, dia ranting terindah yang pernah saya temui, sehingga tidak perlu menunggu lama-lama, atau menggantikannya dengan ranting yang lain. Insya Allah.

Pacaran adalah suatu yang sudah jelas keharamannya dalam islam,
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan.” (Al Isra’ [17] : 32).

Sudah banyak dosa yang saya lakukan, mungkin dengan ‘memilih untuk menjaga‘, langkah ini mampu untuk tidak menambah dosa saya. AstaghfirullahalAdzim.. Astaghfirullahal’Adzim.. Astaghfirullahal’Adzim..

Maaf, sejujurnya saya merasa risih dan sedih melihat wanita muslimah di Indonesia yang menamakan dirinya hijabers tapi belum bisa untuk menjaga pergaulannya sehari-hari, utamanya hubungan dengan lawan jenisnya. Benar jika hijab berhasil menjaga dirinya, tapi dirinya gagal dalam menjaga hijabnya. Semoga saja dikemudian hari, wanita muslimah Indonesia mampu menjadi sebenar-benarnya muslimah. Begitu juga untuk para muslim di seluruh nusantara. Aaammiin..

Semua pilihan pasti ada baik-buruknya. Terlepas dia adalah jodoh yang ditakdirkan untuk saya atau bukan. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

Saat kita fokus untuk memperbaiki diri — sekalipun diawali dengan niatan untuk menjadi lebih baik bagi seseorang — yakinlah bahwa dengan terus istiqomah memperbaiki diri dan akhirnya tahu bagaimana menjadi baik, keinginan atau permohonan yang ‘berlebihan’ untuk bisa berjodoh dengan seseorang itu, akan sirna dengan sendirinya dan digantikan dengan hati yang bertawakal, berserah diri sepenuhnya kepada Allah untuk diberikan yang terbaik.

Memperbaiki diri tak lain adalah sebuah proses menabung. Awalnya kita menginginkan sesuatu untuk bisa dibeli dengan hasil tabungan yang nantinya akan terkumpul. Hari demi hari, receh demi receh, kita pun bersemangat untuk menabung, menyisihkan uang pegangan yang kita punya. Hingga tabungan kita dirasa sudah cukup banyak, kita memutuskan untuk mengambilnya dan menggunakannya untuk membeli sesuatu itu. Jika kita ditakdirkan, maka sesuatu yang kita inginkan masih bisa untuk kita beli, kita miliki. Namun ada kalanya sesuatu itu telah terbeli oleh orang lain.

Uang tabungan tentu masih di tangan, belum digunakan untuk sesuatu apa pun. Walau pilu, sedih, bingung, dan kecewa menghampiri saat mengetahui seuatu itu sudah dimiliki oleh orang lain. Tapi berkat tabungan itu, kita masih memiliki kesempatan untuk membeli sesuatu yang tak kala berharga dan tak kala diinginkan dari sebelumnya.

Akhirnya, saya belajar untuk memperkokoh pendirian saya. Mempersiapkan diri saya, apa pun yang terjadi. Memperbaiki diri untuk menjadi pantas bagi wanita paling pantas untuk bersama dengan saya kelak. Memang ini jalan yang harus saya pilih. Semoga jalan terbaik.

tumblr_nmlaqjbh5C1qkgf28o1_1280


P.S.: Bukan bermaksud ingin segera menikah. Segera, tentu ingin. Menikah, tentu ingin. Tapi biarlah terlaksana saat waktunya tiba dan benar-benar dalam keadaan siap. Mungkin 2-3 tahun lagi. Aaamiin.. Mohon do’anya, ya. 🙂

Now Watching: Anandito Dwis – Mencintai Kehilangan.

11 tanggapan untuk “Memilih Untuk Menjaga

  1. Amiin iz. Hehe. Semoga selalu diberkahi Allah. Siapapun wanitamu “dia” atau mungkin siapapun walaupun bukan “dia” atau mungkin “ia”, itulah yang terbaik untukmu. Syukurilah dan jagalah.
    Sebagai temanmu, aku cuma bisa mendo’akan yang terbaik buat masa depan dan kehidupanmu yang akan datang.

    Hahaha Semangat FAIZ

    Itu kenapa aku juga selalu berterima kasih kepada Allah atas petunjuk yang selalu dan selalu ditunjukkanNya ketika aku berada di jalan yang salah. Contohnya ketika aku pertama kali dan mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya aku merasakan yang namanya pacaran.

    Eh, ngomong-ngomong sopo se “dia” iku? Hehe *peace

    Suka

  2. Keren mas bro, benar benar menggugah hati, kata katanya asik dan gampang dipahami. Kalau meminjam beberapa kata dari pak tyo, bisa dibilang ‘ mantab dan bergaya’

    Suka

  3. jadi intinya saling menjaga, dan saling komitmen kan? nah kalo yang dijaga disana tibatiba memilih untuk dengan yang lain? bagaimana dengan penjaganya? apakah akan pasrah? atau tetap mempertahnkan yang dijaga ???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s