Komunitas Khayalan: Single Berprinsip

Umurku baru saja memasuki dasawarsa kedua. Baru, benar-benar baru. Aku yang sejak kecil memang hobi berimajinasi atau lebih tepatnya ‘dikit-dikit dipikirin’ menjadi merasa dewasa sebelum waktunya.

Hal sekecil apapun pasti kupikirkan.

Termasuk dalam urusan asmara.

Bukan. Bukan aku yang menjadi objek pikiranku kali ini. Aku sudah beralih dari cinta-cintaan sebelum waktunya. Berbeda dengan kawan-kawan sebayaku.

Ehem…

Kawan sebayaku yang masih asik dengan aktivitas pacar-pacarannya, bermesraan dengan yang belum tentu akan menjadi pasangannya sampai ajal menjemput kelak, dan hal-hal lainnya yang menjauhkan mereka dari bingkai agama. Sekalipun mereka juga beribadah tentunya: sholat, puasa, sedekah, dan sekitarnya.

Aku mencoba mengamati sembari belajar dari realita sekitarku, utamanya yang sebaya denganku.

Saat putus, mungkin mereka akan segera mencari penggantinya, menggantikan pacar yang sudah menjadi mantannya beberapa waktu lalu. Berganti dengan pacar baru, yang di awal-awal terlihat sangat meyakinkan dan yaa.. mungkin saja lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya.

Yang katanya lebih sholeh dan taat agama.

“Hello? Do you hear me?” – Adele.

Kalau ngakunya sholeh, ya sudah pasti jauh dari berdua-duaan dengan lawan jenisnya. Hei, stop! Jangan kau usik kesholehannya dengan iming-iming kasih sayang yang semu itu.

Kalau keliatannya sholeh, jangan cuma dijadiin pacar dong. Are you kidding me?

Mereka beranjak dewasa dengan cara yang (rupanya) berbeda denganku.

“Ih cowokku tuh dewasa bangeeetz. Bisa jagain aku kapanpun dan dimanapun. Pengertian. Rajin sholat. Puasa senin sampai kamis. Bla.. bla.. bla..” terangmu ke sahabat-sahabatmu.

Hmm.. bisa sih dia menjagamu dari ‘lelaki nakal’ di luar sana. Lalu siapa yang bisa menjagamu dari pacarmu sendiri?

Pacar.

Kalau dewasa dan siap, tentu ia sudah menghadap walimu untuk melamarmu. Bukan dengan aktivitas yang tidak jelas akan berujung seperti apa. Sudah berapa detik waktu berlalu yang kau sia-siakan bersamanya, heh?

Ini bukan ungkapan atas sakit hati, balas dendam, atau kesepiannya seseorang yang tidak terima dirinya single walaupun pilihan single-nya berprinsip dan menurut kehendaknya sendiri.

Tapi ijinkan aku untuk berbagi pandangan dengan kalian, kawan sebayaku atau siapapun yang membaca ini. Yang masih sering bergandengan tangan, berboncengan dengan lawan jenis, keluar berduaan saja, dan apalagi ya? Mungkin kalian lebih tahu banyak.

Dari detik ke detik, hari ke hari, aku semakin tersadar bahwa pendekatan seperti itu bukan hal yang dibenarkan agama.

Eits.. wait..

Bukan berarti aku sudah beragama dengan baik dan benar. Tapi setidaknya dengan agama, aku tahu mana yang benar dan tidak dibenarkan. Aku pun masih belajar.

Banyak dari remaja sekarang, utamanya mereka yang mengaku beragama Islam, yang melakukan pembenaran dengan dalil-dalil yang mereka buat sendiri hanya untuk mengamankan aktivitas keseharian yang sebenarnya sedikit banyak telah mereka ketahui kebenarannya seperti apa.

Fahimtum?

Dunia mungkin akan lebih indah saat yang biasanya ada di pojokan-pojokan atau tempat-tempat sepi itu tidak ada penghuninya atau cukup dengan penghuni yang tidak mampu kita lihat bentuk fisiknya.

Taman-taman rekreasi dan fasilitas umum mungkin akan tampak semakin cantik di kala yang berkumpul atau bermain di sana adalah pasangan suami istri atau keluarga-keluarga sakinah yang begitu lepas menikmati kebersamaan mereka.

Ya, karena memang halalnya seperti itu.

Bukan aku yang sok suci atau tidak pernah melakukan aktivitas sejenis. Impas.

Tapi apalah arti sebagai manusia yang berotak saat tidak bisa belajar dari masa lalu? Apalagi kalau sudah mengetahui ilmu dan konsekuensinya seperti apa.

Saat menyadari itu adalah sebuah kesalahan atau keteledoran karena miskin ilmu dan lebih menuhankan hawa nafsu, aku pun belajar akan kebenaran yang betul.

Bukan belajar dari kebetulan yang benar.

Memang ada positif dan banyak negatifnya dengan memiliki pasangan yang tidak halal. Mungkin kalian juga sudah tahu apa itu.

Jangan sedih karena jomblo.

Jomblo di dunia ini bukan kamu seorang.

Teman berbagi banyak hal bukan dia (lawan jenis yang kau idamkan itu) saja.

Bisa jadi kawan sesama single berprinsip, ibu, ayah, kakak atau adikmu, saudara, keluarga besarmu dan siapapun yang kamu kenal sedang menunggu kamu untuk berbagi hal menarik dengan mereka. Bukan dengan yang haram (baca: pacar).

Lebih baik isi keseharianmu dengan hal-hal positif. Memantaskan diri misalnya. Memperbaiki diri. Berkaca, sudah pantaskan aku untuk seseorangku kelak?

Terus belajar. Mencari ilmu apa saja yang menambah wawasanmu tentang banyak hal, utamanya tentang kehidupan setelah lulus kuliah nanti.

Atau justru ingin segera memulai kehidupan ‘baru’  sebelum lulus kuliah? Kehidupan baru bersama seorang pendamping yang sudah legal. Wah, mulia sekali.

Mendekatkan diri kepada yang Mahacinta. Memperbaiki, meningkatkan, dan memelihara hubunganmu dengan-Nya.

Hmm… masih banyak hal menakjubkan bin bermanfaat lainnya kok. Bukan hanya meratapi nasib seraya menjerit “Tuhaaan!! Kenapa harus terjadi padaku!!”

Pfft…

“Ah, yang kayak gitu nanti-nanti dulu lah.  Namanya juga masih muda. Mendingan banyakin foya-foya. Kapan lagi? Mending sekarang nakal, terus tobat. Dari pada sekarang sok alim terus nantinya malah jadi nakal. Wkwkwk.” kilah beberapa dari kalian.

“What do you mean? Ooooh..” – Justin Bieber

Sungguh rezeki, jodoh, dan kematian adalah milik-Nya, sang Maha Penentu Takdir.

Kalau ajal menjemput selagi kamu muda, apakah bisa berkilah dan menghindarinya?

Apa benar-benar sudah yakin akan berumur panjang?

Apa ada jaminan bahwa ‘kenakalanmu’ di masa muda akan tertebus dengan ibadah singkatmu di usia senja?

Kawan, tidak ada yang tahu bagaimana kita nanti. Yang kita ketahui hanyalah sekarang, detik ini, saat ini juga.

Jika bukan hari ini kamu berubah, apakah ada kesempatan yang lain? Sedang kau pun tak tahu pasti kesempatan itu kapan datangnya.

Setidaknya kurangi dosa-dosa yang biasa kamu lakukan. Kalau sudah mulai terbiasa, segera hentikan. Kalau mulai nyaman, tambahkan dengan pahala-pahala kecil yang mudah kau lakukan. Kalau takarannya sudah pas, kerjakan sesuatu yang berpahala besar.

Hanya tulisan ini yang bisa aku buat untuk berbagi pandangan. Bukan untuk menghakimi, tapi membantu menyadarkan saja. Dan semoga tersadarkan.

Okey, selamat tersadar! Semoga kamu bangga dengan prinsip yang sedang atau baru kamu pegang ini.

Selamat datang di komunitas khayalan:

Single Berprinsip

Medan, 25 Desember 2015


Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa tahun yang satu ini menjadi tahun yang mengesankan, banyak cerita seru, dan perubahan-perubahan diri ke arah yang insyaallah lebih baik.

Tak pernah terbayangkan juga bahwa posting penutup di tahun ini akan berwajah sedemikian rupa berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Insyaallah tahun 2016 akan diisi dengan hal-hal yang tidak kalah menakjubkan dan dapat dibanggakan oleh diri sendiri, keluarga, dan sekitar.


Bonus:

Kang Abay – Jomblo Mulia

Ku tak mau terjebak dalam cinta palsu
Biarkan ku sendiri menikmati sepi
Keyakinanku semua sementara
Menguji kesabaran kuatkan imanku

Menanti dalam ketaatan
Ku ikhlaskan semua harapan
Ku pantaskan diriku di hadapNya
Ku arungi semua malamku
Dalam do’a hati mengadu
Ku yakin Tuhan berikan yang terindah
Jomblo mulia

Tak punya pacar bukan berarti tak keren
Biar sekarang ku mengejar imipanku
Akan tiba saatnya ku bertemu kamu
Jodoh sejati tuk mendampingi hidupku

10 tanggapan untuk “Komunitas Khayalan: Single Berprinsip

  1. jomblo sih, tapi kalau dalam proses dia menjadi baik “katanya”, dia asyik memposting segala macam aktivitas dan menshare segala sesuatunya di media sosial, apa bedanya dengan tabarruj? Dan rupanya foto2nya bertebaran hampir setiap hari di beranda.
    What do you mean??? – Justin Bieber

    Disukai oleh 1 orang

    1. Tabarruj yang dimaksud apakah seperti ini:

      “Di dalam kitab Zaad al-Masiir dinyatakan; “Tabarruj, menurut Abu ‘Ubaidah, adalah seorang wanita menampakkan kecantikannya. Sedangkan menurut al-Zujaj; tabarruj adalah menampakkan perhiasaan, dan semua hal yang bisa merangsang syahwat laki-laki…”

      Menurutku, sesama muslim hendaknya mengingatkan. Bukan menghakimi. Pasti kita sama-sama sedang belajar. Dan tidak serta-merta kesemuanya dapat segera terkuasai. Mungkin ada hal tertentu yang lebih, tapi pasti ada hal lain yang kurang. Diberitahukan saja kepada yang bersangkutan ihwal apa yang kurang pas menurut anda dan bagaimana benarnya menurut agama. 🙂

      Suka

  2. Keren lah tulisannya. Saya bangga Faiz yang sekarang lebih dewasa pemikirannya (atau saya yang baru tahu ya? Hehehe..). Jujur, iri sekali dengan perkembanganmu, Iz. Lanjutkan, ya. Semoga sukses. Aamiin.

    Suka

    1. Mungkin efek sendiri di kota orang, pergaulan terbatas, males juga macem-macem, jadinya cuma bisa bergaul dengan diri sendiri, bermonolog. Wkwkkw.. apa yang harus diiriin Mor? -_- banyak salahnya..

      Suka

  3. yap itu awalnya memang dimaksudkan pada tabarruj untuk wanita, tapi apa bedanya ketika lelaki juga turut melakukan aktivitas yg sama?
    Konten yg sebenarnya untuk konsumsi pribadi tapi disebar sana sini, pengumuman prestasi, pencapaian, dan hal-hal yg seolah mengukuhkan pendapat bahwa ia “telah hebat, telah berubah, telah berbeda dari teman sebayanya”.
    Hello, do you hear me? – Adele
    Bukankah ia secara tidak langsung menyebut dirinya lebih baik???
    Buat yg merasa sih, tp sejatinya manusia selalu belajar, dan tidaklah menganggap kedudukan dirinya lebih tinggi dari orang lain, karena jatuhnya pencapaian dan pemikirannya adalah ujub menurut orang lain.

    Suka

    1. Ya, I hear you. Lebih tempatnya mungkin itu ‘Aku’. Aku kira kamu benar. Terima kasih atas pengingatnya, boleh lah sharing tulisannya, siapa tahu dapat turut menggugah yang lain, mengingatkan apa salah dan kurangnya. Biar sama-sama tahu. Hehehehe.. bener-bener setuju deh. Mantap! 🙂

      Suka

  4. Coba pengantarnya dibuat lebih pas. Buat tulisan ente seolah note to your self, meskipun sejatinya ente merasa sudah cukup baik drpd teman2 ente yg lain. Baca ulang deh, ‘almighty’ banget tulisan ente. Jadi, orang yg baca ngrasa ada unsur2 ujub di sini. Entah sih, perasaan ane gitu. Trus juga, kalau emang tujuannya mau sharing sm temen sebaya, harusnya mikir juga ‘siapa sih kita’, posisikan diri ente bukan seperti yg benar sendiri, sehingga pembaca juga respect. Bukan jd males. Coba baca ulang, temukan kata2 yg kurang pas, reformulasi ulang. Oiya, ane jg baca di komentar ente di atas, ente bilang “Menurutku, sesama muslim hendaknya mengingatkan. Bukan menghakimi”, what do you mean? Orang baru di paragraf2 awal aja udah menghakimi kok 😕 ane jd bingung sama ente yg tidak konsisten.

    Suka

    1. komentar kayak gini nih yang aku tunggu-tunggu.. korektif, konstruktif.. hehehe.. jadi orang lain yang baca juga tahu kalo emang bukan tulisan yang sempurna dan justru banyak cacatnya.. insyaallah jadi ikutan tersadar juga.. semoga kedepannya apa yang aku tulis bukan yang terlalu ‘almighty’, paling bener atau malah jadi ujub.. makasih makasih.. 🙂 🙂

      Suka

  5. Sekedar buat referensi kak, tulisannya yang bernuansa islami gini pasti lebih mengena kalo diyakinkan dengan kitab/penjelasan shahih para ulama. Misalnya kaya’ kitab al hikam karangan ibnu atha’illah 🙂

    Suka

  6. Semakin dewasa membuat pemikiran seseorang pada akhirnya mengarah ke (sana). Mungkin bisa ganti topik dari cinta-cintaan ke kisah lain yang tentunya bisa kau bagi dengan kami para pembaca(mu).
    Bisa jadi soal kehidupan di tanah rantau yang kini sedang kau jalani.
    Hoho

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Al-vatikasari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s