antarmanusia

Manusia adalah makhluk sosial, kalimat yang tersusun atas empat kata ini rupanya tidak pernah usang dimakan zaman. Selalu digembar-gemborkan. Nalurinya memang seperti itu: bersosialisasi dengan sesamanya.

Di era digital yang bersosialisasi dapat dilakukan melalui pelbagai cara ini, tidak ada alasan bagi umat manusia untuk tidak bersosialisasi. Jika ia tidak ikut dalam arus perubahan, cara baru dalam bersosialisasi, lambat laun mereka akan ‘punah’ seperti halnya dinosaurus jutaan tahun yang lalu.

Era digital layaknya sebuah penyaring yang tidak tampak tapi keberadaannya amat terasa.

Kelirunya adalah kita belum siap untuk menyambut era tersebut. Dalam era yang dulunya belum digital, pondasi kehidupan bersosial kita tidak dibangun dengan kokoh. Norma bergaul, cara mengungkapkan pendapat, bagaimana berinteraksi antarmanusia, dan sebagainya.

Itu mengapa dimanapun kita berada, kini, tangan manusia-manusia di sekitar kita tampak tidak bisa melepaskan gawainya untuk barang sedetik saja. Gawai sekarang juga tidak seperti gawai dahulu kala yang hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan singkat atau telepon, semua metode bersosialisasi bisa dengan mudah dilakukan hanya dengan usapan jempol. Sehingga mereka pun terhipnotis dengan sempurna hanya dalam genggaman gawai.

Anda pasti menyadarinya.

Saya melihat fenomena ini sebagai sebuah era peralihan, yang sayangnya saya tidak bisa memastikan beralih kepada hal yang baik atau tidak baik. Saya sangat prihatin terhadap hubungan antarmanusia yang seperti ini. Sepasang kekasih, segerombolan kawan sebaya, sepaket keluarga, raga mereka berkumpul—tapi tidak dengan jiwanya.

Anda pasti menyadarinya.

Terlepas apakah memang ada sesuatu yang penting atau tidak, dari kaca mata saya, mereka yang sekejap langsung meraih gawainya: menandakan bahwa sang pemilik gawai sedang merasa bosan, entah dengan lawan bicaranya, dengan lingkungan sekitarnya atau dengan kebosanan yang lainnya. Mereka lebih memilih untuk menyalurkan kebosanannya dengan si gawai canggih dari pada membuka percakapan dengan manusia yang nyata-nyata ada di depan matanya.

Yang lebih membuat saya sedih ketika saya melihat sepasang pasutri yang baru beberapa bulan hidup satu atap, bagaimana caranya saya tahu mereka pasutri baru? Karena dia adalah rekan saya sendiri. Tidak sengaja kami bertemu di sebuah restoran yang sama. Saya bersama kawan-kawan saya, dia bersama istrinya.

Beberapa saat setelah bertegur sapa, saya melirik ke arah meja makannya. Di benak saya, yang namanya pasutri baru pasti sedang lucu-lucunya, masih seperti jaman pacarannya dulu atau lumrahnya seperti apalah itu. Tapi yang saya lihat, mereka berdua sama-sama tertunduk, mengusap-usap layar gawainya, terdiam. Saya juga jadi ikut terdiam: menelan ludah yang tidak keluar.

Sedih rasanya.

Saya sendiri, jika memang sedang berinteraksi dengan manusia, sebisa mungkin saya menyimpan gawai di dalam saku atau di banyak kejadian malah tertinggal karena batereinya sedang diisi. Saya lebih nyaman dengan tidak adanya gawai saat sedang ngobrol atau diskusi. Namun memang jika sedang sendirian, bisa dipastikan saya juga menggenggam gawai saya. Tapi menurut saya tidak terlalu buruk juga, toh sendirian.

Bercerita tentang interaksi antarmanusia, pasti tidak akan ada habis-habisnya, sama seperti sebungkus lontong sayur menu sarapan saya yang tidak kunjung habis saat saya santap. Karena memang saya agak sulit untuk makan di pagi hari.

Dalam berinteraksi, rujukan saya adalah hadits berikut:

“Barangsiapa yang beriman pada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” – HR Bukhari Muslim

Sering kali tanpa kita sadari, ucapan yang keluar dari lisan adalah apa-apa yang membuat sebagian orang merasa terluka karenanya. Mutlak adanya bahwa setiap hal ada pro dan kontranya, namun di samping itu akan lebih baik saat tidak harus ada yang merasa tersakiti hanya karena mulut harimau ini.

Ucapan seperti apa yang melukai? Anda pasti lebih tahu dari pada saya. Beberapa di antaranya yakni ucapan dengan nada tinggi dan keras, ucapan yang bersifat mengejek, menjelek-jelekkan, mengolok-ngolok, ucapan yang tidak seharusnya diucapkan seperti umpatan, kata-kata jorok, dan sebagainya.

Tidak ada orang tua di dunia ini yang mengajari anak-anaknya untuk berbuat demikian, sedari kita kecil mereka pasti mendidik kita dengan sebaik-baiknya didikan yang bisa mereka berikan. Lihat saja, mana ada anak yang berani berbuat tercela di depan orang tuanya? Pasti mereka akan bersikap santun di depannya. Saat di belakang? Lain cerita.

Itukah wajah anak jaman sekarang?

Saya pikir tidak ada untungnya mengumpat atau menjelek-jelekkan sesama manusia. Karena belum tentu mereka yang kita ejek *gob*lo*k, memang demikian adanya. Bisa jadi justru kita yang *gob*lo*k. Hal-hal semacam ini yang nantinya bisa menimbulkan perselisihan. Penghakiman sepihak dan menohok.

“Keburukan yang keluar dari mulut itu lebih cepat kembali kepada pelakunya akibat dari rasa pedih orang lain karenanya.” – Pejuang Akhirat

Bercanda? Tentu saja boleh, tapi apakah tidak ada cara lain untuk dijadikan bahan bercanda? Jika semua bahan bercanda di atas bumi ini sudah habis dan hanya menyisakan mengolok dan mengejek, silahkan saja. Tapi mungkinkah akan habis?

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengucapkan ucapan yang kotor.” – HR Tarmidzi

Hadits tersebut adalah jawabannya.

“Siapa saja yang menunjukkan (kepada) kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” – HR Muslim

Sebaik-baiknya persahabatan adalah persahabatan yang saling memberi manfaat. Bukan justru menyakiti satu sama lain atau justru membuat kerugian yang lain.

“Antara nikmat terbesar ialah apabila Allah SWT rezekikan kepada kita sahabat yang sayang kepada kita kerana Allah. Bila kita silap, dia nasihat. Bila kita lemah, dia bagi semangat. Dia bersama kita ketika taat, dia gembira dengan kejayaan kita. Hargailah nikmat ini. Jaga ia. Syukur.” – Ust. Syed Mohd Norhisyam al-Idrus

Apa-apa yang saya tulis adalah hasil pemikiran semalam. Sudah pasti banyak kekurangannya. Tapi pada intinya adalah semoga saya dan kita semua akan tersadar akan interaksi sehat dan membawa manfaat. Waktu kita di dunia terlalu singkat jika hanya diisi dengan tertawa dan bahagia di atas penderitaan orang lain, apalagi orang yang kita buat menderita.

“Jaga selalu pergaulanmu di sana, aku cuma bisa kirim doa untukmu.” – Nenek

3 tanggapan untuk “antarmanusia

  1. Tapi bagaimana dengan sekumpulan orang yang menjadikan itu sebagai sebuah ‘kebiasaan’? Yang mereka anggap ‘hal’ itu adalah lumrah. Dengan perkembangan zaman seperti sekarang sudah tidak diragukan lagi dengan beberapa kalangan yang beranggapan seperti itu. Diluar sana banyak orang yang bingung bagaimana menempatkan diri sehingga memilih untuk ‘mengikuti’. Well, hanya menanyakan pendapat kakak saja kok. Sebelumnya maaf apabila masih jauh dari kata baik dalam penyampaiannya, Terimakasih:)

    Suka

    1. Kalau kebiasaan itu lebih condong pada kebiasaan yg buruk, kenapa tidak kita mulai membiasakan dg sesuatu yg baik? Kalau orang lain belum bisa berubah, at least kita dululah yg sadar ini yg berubah.

      Suka

  2. Mungkin balik lagi ke mental masing masing individu, ya?Terimakasih atas pendapatnya yang semakin menguatkan saya. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s