Beras yang Ditukar

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel di salah satu situs dunia maya, yang membuat saya tertegun sejenak adalah berita mengenai mulai sulitnya regenerasi petani.

Sudah jamak diketahui bahwa menjadi petani identik dengan kemiskinan. Seorang petani yang sudah terlanjur dihakimi sebagai orang miskin pun tidak menginginkan anak cucu turunannya menjadi petani lagi. Berpendidikan setingkat lebih tinggi daripada dirinya pun rasanya sudah sangat disyukuri.

Le, sinau sing pinter nggih. Ben mengko ra koyok bapak ibukmu iki. Dadio dokter, dadio pengusaha, dadio insinyur, pokok ojok nggarap sawah koyok bapak ibukmu iki. Ben koe nggak melarat koyok kene.

“Bro, belajar yang pintar ya. Biar nanti nggak seperti ayah ibumu ini, jadilah dokter, jadilah pengusaha, jadilah insinyur, yang penting jangan berladang seperti ayah ibumu ini lagi. Biar kamu nggak susah seperti kami.”

Walaupun di kesehariannya sang anak telah terbiasa dengan kehidupan sederhana ala petani dan berladang bersama kerbau ke sana ke mari, doa orang tuanya selalu terpatri agar anak tak bernasib serupa dengan diri mereka dalam hal ekonomi.

Tidak salah menjadi petani, tidak salah menjadi sederhana. Tapi orang tua selalu berharap agar anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari kehidupan mereka.

Akibatnya, pekerjaan tani pun berhenti di dirinya, anaknya sekarang telah merantau jauh dari pematang sawah. Mungkin juga sedang bertani, tapi tidak pada ‘ladang’ yang sama.

Akibatnya lagi, petani kini mulai gulung ladang. Alih-alih ingin berkehidupan lebih baik dengan cara menjual lahannya untuk dijadikan modal usaha, tanah yang dulu hijau kekuningan pun sekarang telah berwarna putih kapur, di beberapa bagiannya sudah berdiri tegak tiang-tiang besi.

Yang dulunya sawah, sekarang menjadi rumah.

Bagaimana beras plastik tak marak menggempur? Sawahnya saja sudah bukan beralas lumpur.

Indonesia dulunya terkenal dengan pengekspor beras. Tapi mungkin, sekarang negara agraris yang kita cintai ini sudah melenggang manja sebagai importir bahan-bahan pokok. Apa saja yang bisa diimpor, mungkin sudah diimpor juga oleh Indonesia.

Hal serupa yang membuat saya cukup sedih adalah habisnya lahan pertanian itu tadi. Sawah-sawah sudah berubah menjadi perumahan atau bahkan lahan industri.

Di salah satu kabupaten di Jawa Barat contohnya, kabupaten tersebut sangat terkenal dengan produksi berasnya. Sampai-sampai pernah sekali waktu saya membeli satu karung beras yang saya gotong turun naik bus, kereta api, dan bus lagi untuk dibawa ke kampung agar keluarga di rumah merasakan enaknya beras daerah itu.

Menurut saya, tidak bijak jika lahan produktif penghasil beras itu malah sekarang tergantikan dengan penghasil sepatu merek terkenal luar negeri. Berapa hektar yang telah dihabiskan untuk membunuh lahan pertanian produktif?

Yang dulunya petani, sekarang sudah berstatus menjadi buruh pabrik. Yang dulunya seharian penuh dihujani terik matahari yang sesekali dilindungi bayangan awan, sekarang sudah bermandikan hembusan penyejuk ruangan.

Jika memang ingin menjadikannya kawasan industri, biarlah lahan yang memang sudah rusak dan tidak berproduktif yang dipakai. Jika sudah terkenal dengan julukan kota penghasil beras, biarlah sampai kiamat menjadi seperti itu saja. Jika dalah pemasaran atau hal lain mengalami kendala, pasti ada solusinya. Pasti bisa dikembangkan lagi dan lagi.

Hingga terkenal seantero alam semesta.

Makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia adalah beras/nasi. Tapi untuk memperjuangkan makanan pokoknya, sepertinya tidak sedemikian besarnya dengan kebutuhan. Bagaimana kita tidak terus-terusan mengimpor bahan makanan pokok?

Lahan pertanian berkurang, diakibatkan tumbuhnya lahan perumahan atau pabrik. Untuk menambah lahan pertanian, mungkin saja lahan perhutanan yang ditumbalkan. Dampaknya sekarang berkurangnya lahan perhutanan.

Persoalan demi persoalan lahan ini bagai efek domino. Jika ada yang bertambah, pasti ada yang berkurang.

Lalu, kemana sekarang para anak petani itu?

9 tanggapan untuk “Beras yang Ditukar

  1. Ini beras cianjur bukan iz yg dtulisan? Hehehe. Sedih bacanya tapi bingung jg sbnrnya kalau pribadi hrs berbuat apa. Ngerasa agak gimana gitu bacanya soalnya kuliah d institut pertanian😢 tapi emg pembangunan besar2an saat ini sulit dibendung karena faktor demografi (pertambahan jml penduduk dr thn k thn), kebutuhan dan selera org thd jenis pemukiman/pabrik smkin meningkat dan berbeda2, bbrp pengusaha jg liat pangsa pasar yg prospektif (another word for greedy) jd lahan produktif pun dibabat.

    Suka

    1. Iya betul, liat pabrik yg di daerah mau ke arah bandung tea.. sedih kan.. memang benar membuka lapangan kerja, tapi jadi gimanaaa gitu. Nunggu muthia jadi menteri pertanahan atau pertanian kali ya.

      Suka

      1. Iya tau tau, skali wktu pas lwt ksana sm klg jg prnh ngediskusiin itu pabrik. Ya wlaupun mmbuka lap kerja baru, lbh byk menyedihkannya sih sbnrnya, soalnya lahan buat makan sekian ribu pnduduk cianjur jd berkurang😢 kyknya kalau utk menteri pertanahan atau pertanian I’m not capable😅

        Suka

      2. Orang yg bukan orang cianjur aja sedih, gimana lagi orang asli cianjur.. wkwkkw..
        Cocok jadi kepala bkkbn ya muth?

        Suka

  2. Bagi anak2 petani gurem memang kemungkinan besar (tp ga menutup kemungkinan) mereka ga akan meneruskan profesi orang tua mereka utk mjd petani kembali, karena sbnrnya pertanian itu memiliki arti yg luas (dr on farm sampai off farm) namun anak2 petani yg memang memiliki sawah sendiri tdk menutup kemungkinan utk terjun langsung meneruskan usaha orgtuanya sbg petani. Cmiiw

    Suka

      1. Kalau menurutku sih biar regenerasi petani tetap berjalan, mindset masyarakat dan petani itu sndiri jg hrs diubah, jd petani bkn strata paling bawah, citra petani itu miskin jg hrs diubah. Pernah dulu wkt KKN d sumedang, pemilik sawahnya sekaligus jd petani jg dan beliau ga miskin. Udh gtu doktrin dr orgtua sejak dini jg penting, intinya sih membiarkan anak mau jd apapun ssuai keinginannya, ga perlu menjelek2an suatu profesi dan ga ada yg salah sm suatu profesi asalkan halal. Tapi memang sih pd kenyataannya hal itu jg sulit dilakukan, sbagian bsar pemuda d desa skg merantau k daerah lain utk dpt kerja lbh baik dan cenderung enggan membangun desanya (pengalaman KKN jg)…

        Suka

  3. Iya euy jd sedih gini jgn smpai gabisa makan beras cianjur lg😢 nah kalau itu kyknya rada capable iz hehe Aamiin semoga someday🙏 iya, kita sih anak muda terutama uwe alumni pertanian, asa rada malu…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s