Pajakmu Berarti: Tidak Langsung

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung, dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (Pasal 1 ayat 1, Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan)

Tidak akan ada habisnya saya berbagi cerita tentang hal yang bagi saya penting bagi Negara ini. Saya tak tahu seberapa besar Anda bosan membacanya. Berbagi menurut saya tidak harus melihat dan terus berpikir apakah Anda sebagai orang yang saya bagi merasa diuntungkan atau justru tidak berguna sama sekali. Karena saya hanya sedang berbagi.

Dunia sekarang adalah dunia yang dipenuhi visual. Orang lebih cenderung tertarik dan memperhatikan sesuatu jika hal tersebut tertulis, tergambar, tervisualisasikan. Lihat saja, di pelbagai acara dengan metode penyampaian materi berupa berbicara, orang tidak begitu banyak memperhatikan. Mereka lebih memilih berkutat pada gawainya dan membaca apapun yang sedang menarik di genggamannya. Mendengarkan terasa begitu membosankan bagi manusia abad ini.

Hal-hal viral dan kesemuanya, bukan menjadi terkenal gara-gara didengarkan, tetapi karena dibaca dan dilihat. Direkam, dibagikan.

Manusia sekarang lebih memilih bertatap muka dengan layar gawainya masing-masing.

Tidak salah jika saya mencoba masuk di dalamnya. Tentu tidak mencoba menciptakan kegemparan atau hal-hal nyeleneh yang sekejap menjadi viral.

Topik saya untuk beberapa saat ini akan tetap sama, Pajak. Hal yang paling tidak saya ketahui saat duduk di bangku sekolah dulu, masa putih-abu-kebiruan.

Saya bukan seorang pegawai pajak yang tahu betul pajak dari A hingga AZ, setiap jengkal peraturan yang terus diperbarui, dan ntah apa lagi. Tapi saya hanya sedang berusaha melakukan pendekatan yang berbeda. Itu pun jika Anda setuju dengan kalimat saya barusan.

Menjadi seorang pegawai pajak jelas tidak mudah. Apalagi beban moral dan bahkan agama.

Jika penerimaan tidak tercapai, maka orang pajak yang disalahkan.

Jika masyarakat tidak membayar pajak, maka orang pajak yang disalahkan.

Jika uang pajak yang sudah dibayarkan, nyatanya disalahgunakan, maka orang pajak yang disalahkan.

Jika sudah bayar pajak rutin, tiba-tiba di tengah jalan mandek dan memboikot pajak karena uangnya disalahgunakan, maka orang pajak yang disalahkan.

Jika tarif pajak naik, jelas orang pajak lagi yang disalahkan.

Di artikel yang ini, saya sudah jelaskan bagaimana Negara ini mencoba mengelola keuangannya. Rasanya sudah cukup untuk tidak diulas lagi di sini.

Jika membayar pajak dianggap sebagai mendzolimi rakyat.

Jika tidak berhasil menyejahterahkan rakyat dianggap mendzolimi rakyat.

Jika menarik subsidi dianggap mendzolimi rakyat.

Jika menambah utang dianggap mendzolimi rakyat.

Lalu bagaimana Negara ini akan tetap berdiri kokoh tanpa berbuat apa-apa atau berbuat apa-apa tapi dianggap mendzolimi rakyat?

Masihkan pegawai pajak yang harus terus disalahkan?

Ada orang yang enggan membayar pajak karena beranggapan tidak mendapat manfaat pajak secara langsung, seperti halnya membeli semangkuk indomie ayam bawang yang begitu dimakan langsung kenyang. (tapi jangan kebanyakan dan keseringan makan indomie, ya!)

Percayalah, tidak semudah itu menciptakan keajaiban. Semuanya butuh proses. Dengan Anda enggan membayar pajak, maka potensi penerimaan Negara akan hilang. Bayangkan jika bukan hanya Anda yang berpikir seperti itu, berapa banyak potensi pajak yang hilang? Menambah hutang jelas tidak menjadi solusi jika Anda sendiri masih enggan untuk merubah pandangan Anda tentang pajak. Sampai kapan Anda akan beranggapan seperti itu?

Negara membuat sesuatu atau memberikan sesuatu tidak semudah yang Anda perkirakan. Sama halnya Anda ingin membelikan anak sebuah mainan yang sudah ia inginkan berminggu-minggu lalu. Tapi Anda enggan bekerja apalagi berhutang. Maka mainan itu tidak akan segera terbeli kecuali sang pemilik toko sudah bosan melihat Anda sejak dua minggu terakhir hanya berdiri di ujung toko sambil terus bertanya berapa harga mainan ini dan itu, tapi tak kunjung membelinya.

Sebagian lainnya enggan membayar pajak karena dianggapnya haram. Tidak ada dalilnya. Tapi mereka pun tetap bertapak di bumi yang penuh sesak oleh manfaat pajak ini.

Jika menganggap gaji pegawai pajak yang dibayarkan oleh uang pajak yang katanya haram itu haram. Lalu bagaimana dengan nasib gaji presiden, tunjangan menteri agama, sertifikasi guru-guru sekolah, pemuka agama yang menerima honor setelah mengisi kajian agama di sebuah instansi pemerintah yang dananya diambil dari APBN yang sumbernya juga dari pajak  yang katanya haram itu?

Jika uang pajak yang diambil dari masyarakat itu adalah haram, maka keharamannya terus ada untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum, bantuan sosial, bendera merah putih, tiang listrik, beasiswa, dan seterusnya dan seterusnya.

Cukup aneh menganggap yang ini haram tapi yang itu halal, dengan sumber penerimaan dana yang sama, sama-sama dari pajak juga. Adakah dari sebagian Anda yang bisa membantu memperbaiki nalar atau logika saya yang mungkin keliru ini?

Memprotes fasilitas ini tidak ada, fasilitas itu tidak, tidak akan memecahkan masalah. Menjadi enggan membayar pajak juga tidak akan menyelesaikan masalah. Membayar pajak pun belum tentu menyelesaikan masalah. Tapi setidaknya lakukan apa yang bisa Anda lakukan. Dan jika membayar pajak dan mengikhlaskan sebagian uang Anda untuk diberikan kepada pemerintah menjadi hal termudah untuk Anda lakukan, maka lakukanlah.

Kita semua setuju bahwa Indonesia ini punya kita semua, milik seluruh unsur kependudukan di dalamnya. Jika merasa hidup Anda tidak begitu mudah untuk dilalui, begitu juga dengan Negara ini. Jika Anda adalah orang dengan perekonomian pas-pasan, begitu juga dengan Negara ini. Negara yang kita cintai ini bukanlah Negara yang kaya raya hingga cucunya cicit bisa tetap hidup walau tanpa bekerja. Tapi Negara ini adalah Negara yang akan terus kaya raya jika semua garis keturunan dalam pohon silsilah berjuang bersama dan sadar akan kewajibannya, apapun itu.

Maka berbuatlah sesuatu, berkontribusilah, bergotongroyonglah, bersatulah, ramai-ramai peduli. Hingga di titik dimana anggaran bukan menjadi kendala dalam menyejahterahkan seluruh lapisan masyarakatnya. Hingga di titik orang marah dan mendemo saat uang pajak yang telah mereka bayarkan disalahgunakan. Hingga di titik penyebutan “Uang Rakyat” memang uang rakyat. Hingga di titik orang miskin yang dipelihara oleh Negara pun membayar pajak. Hingga di titik semua orang dengan pelbagai profesi dan apapun usahanya, tak lupa membayar pajak.

Semoga saja. Suatu hari nanti.


“… bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

2 tanggapan untuk “Pajakmu Berarti: Tidak Langsung

  1. Tempo hari jg baca posting-an d IG, kata2nya krg lbh blg kalau org yg kerja d pajak ga akan masuk surga (disertai haditsnya jg) tapi entah haditsnya shahih atau ga. Dr situ smpet was2 dan takut jg kan mana calon org pajak.. Tp stlh dipikir2, masuk surga atau ga nya ssorg kan hak prerogative nya Alloy swt, jd ga trllu dipikirin lg. Mau husnudzon aja..

    Suka

Tinggalkan Balasan ke muthiaocta Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s