Sulut Menyulut Menjadi Satu

Tak dapat kita pungkiri, di era penyebaran informasi sekarang ini, apa yang kita tulis, ucap, atau tindakan apa yang kita lakukan begitu mudah untuk diakses oleh siapapun.

Pun demikian dengan isu-isu SARA yang mulai banyak dibahas lagi pasca ‘terpelesetnya’ lidah Bapak dan diikuti dengan demo berjilid-jilid untuk menggolkan beliau ke balik jeruji penjara.

Beliau yang akhirnya ditahan, bukan karena beliau terlalu bersih, terlihat anti-korupsi, atau pekerja keras sehingga banyak orang atau sebagian orang tidak suka terhadapnya. Tapi beliau ditahan karena perkataannya atau perbuatannya yang dari kalangan mayoritas sangat tidak sesuai dan cukup disesalkan. Beliau lah yang awalnya membawa isu SARA itu sendiri.

Jika saja Bapak bekerja dengan baik tanpa harus membawa isu-isu SARA apalagi menyangkut agama tetangga yang kemungkinan juga sensitif untuk dibahas, maka semuanya tidak akan menjadi terlalu masalah.

Namun rupanya Bapak juga bukan orang terakhir, setelahnya mulai banyak  bermunculan orang-orang yang karena ketidaksetujuannya atau ketidakpahamannya menyerang orang lain. Mulai dari rakyat biasa yang bercap netizen hingga anggota dewan yang terhormat.

Tuduhan-tuduhan pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong (hoax), atau yang dikategorikan lagi sebagai pengujar kebencian juga mulai terpampang nyata. Orang bisa dengan mudah main lapor ke Pak Polisi.

Yang disayangkan yakni kentaranya keberpihakan aparat penegak hukum kepada salah satu golongan. Mereka yang memancing keramaian atau gesekan-gesekan, terlihat masih aman-aman saja dan berkilah ini-itu begitu mudah. Beda dengan pihak sebelah yang begitu ada yang melapor, langsung diusut sak akar-akarnya.

Saya ambil contoh satu, si A dituduh menyebar berita hoax dan mengujar kebencian terhadap penguasa. Walau masih berstatus tuduhan, si B sudah melontarkan komentar dan bahkan makian kepada si A. Isinya tak kalah pedas.

Si B berpendapat bahwa si A berhak diadili karena berujar kebencian, sedang di posisi yang sama sebenarnya B pun melakukan hal yang sama. Tapi B berkilah bahwa A lah yang memulai dan pantas diadili.

Begitu seterusnya hingga A berhasil di penjara ketika B bebas-bebas saja. Pendukung A ngamuk-ngamuk dan melakukan aksi balasan dan sebagainya-dan sebagainya. Pasukan pendukung B juga tak kalah panas, mulai lagi memaki pendukung A dan sebagainya-dan sebagainya.

Kalau sudah menyangkut cacian dan makian, rasanya dua puluh enam huruf alfabet pun masih kurang untuk digunakan. Begitu bebas seakan sudah tidak ada hati yang bisa menyaring perkataannya lagi.

Saya kira masyarakat kita memang belum siap untuk dihadapkan kepada akses informasi dan media-medianya. Tata krama dan cara berkomunikasi atau menyampaikan pendapat begitu amburadul. Pun memang beraninya hanya di belakang, bermodal jempol. Saat dihadapkan kepada orang yang bersangkutan secara langsung, tak banyak yang bertahan, malah banyak yang balik badan. (Semoga ini bukan dikategorikan kebencian juga.)

Kita boleh tidak setuju, kita boleh tak sepaham. Namun alangkah lebih bijak, jika aspirasi tersebut dapat kita sampaikan dengan baik tanpa harus diberikan pemanis cacian balik dan makian-makian yang tidak pantas disampaikan oleh masyarakat yang ngakunya beradat ketimuran.

Jika berbeda adalah sebuah anugerah, maka sudah cukup untuk tidak dipaksa sama. Jika apa yang kita yakini terhadap sesuatu itu memang berbeda, maka sudah cukup untuk tidak dipaksa sama.

Jika kita membenci orang yang berucap atau bertindak kebencian dengan cara-cara kebencian, apa bedanya kita dengan mereka?

Jangan jadi masyarakat yang mudah tersulut dan menyulut.

PEACE !

Satu tanggapan untuk “Sulut Menyulut Menjadi Satu

Tinggalkan Balasan ke randa prawira Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s