Kaitkan Saja Terus

Menciduk sedikit dari tulisan Bang Tere yang diposting pada tanggal 8 September 2017 di Fan Page-nya :

“Ah, saya dulu sempat diterima di STAN loh, yg DIII atau D-IV sy lupa, omong2 soal Pajak ini. Sy sudah serahkan ijasah SMA saya, karena ikatan dinas. Tapi karena sy diterima di FEUI juga, sy memutuskan tdk jadi di STAN. Bukan apa2, sy itu penakut sekali. Saking takutnya, sy pernah janji tdk akan jadi PNS, karena sy takut korupsi. Maka berbangga hatilah jika kalian PNS, kalian orang yg berani. Dibutuhkan mental baja tiada tara untuk jadi PNS yg amanah. Saya penakut, sy tidak bisa membayangkan kalau sy jadi ambil di STAN tahun itu, sy satu angkatan sama Gayus itu. Mungkin sebelahan meja di kelas. Mungkin, sebelahan sel juga sekarang.”

Jamak kita ketahui bahwa di bulan-bulan ini beliau melalui Fan Page-nya dadakan mengumumkan tidak akan mengeluarkan tulisan lagi dalam bentuk cetakan karena urusan pajak yang menurutnya terlalu mencekik dan tidak adil.

Sebenarnya masalahnya ada di antara beliau dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tidak ada kaitannya dengan STAN yang kini sudah jadi politeknik layaknya kampus yang lain, ya Bang. Nggak ada tuh arahan dari Direktur PKN STAN untuk mempersulit atau menggerakkan alumninya untuk merunyamkan Bang Tere. Tapi kok di tulisan yang saya ciduk di atas si kampusnya teh jadi ikutan kebawa-bawa.

Nggak semua lho pegawai DJP itu alumni STAN. Dirjennya bukan alumni STAN. Banyak juga alumni FEUI yang mungkin juga senior Bang Tere yang jadi pejabat di DJP. Ayolah, maksud saya ndak usah juga bawa-bawa almamater atau sampe repot-repot bawa nama alumni kami yang sudah sukses mencoreng-moreng kampus kami ini.

Mungkin benar kata banyak orang, “Lebih mudah memaafkan daripada melupakan.” Ya walaupun alumni kami si G itu juga tidak termaafkan.

Dari penggalan kalimat abang yang nggak tau apa hubungannya dengan urusan perpajakan abang itu, saya melihat ketidaksukaan yang kentara dari abang. Kok jadi yang ‘diserang’ kampusnya.

Kalau mau fair dan blak-blakan, bandingkan lebih banyak mana FEUI atau STAN yang berhasil ‘mencetak’ koruptor? Kenapa kalau udah berbicara tentang pajak, terus merepet ke PNS, terus ke STAN, terus ke si G, terus tembusnya ke korupsi (lagi)?

Anggapan seperti itu memang bukan Bang Tere saja yang pernah mengutarakan, di sekeliling saya, guru saya, dan bahkan di keluarga saya sendiri juga sama pernahnya.

Sampai kapan terus dikait-kaitkan, itu kasus juga sudah berapa tahun yang lalu. Mbok ya cari mangsa lain gitu lho, kalo ada.

Memang ndak mudah merubah mindset, apalagi kalo itu anggapan yang emang sudah dari sananya. Korban masa lalu.

Seperti saya ini, setiap kali bertemu nenek, entah dari mana mulanya tiba-tiba bahas kerjaan saya di kantor dan keluarlah itu nasihat-nasihat untuk terus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Nggak usah ikut-ikutan kalo ada yang gitu-gitu, ngerti? Nenek ndak suka ada cucu nenek korupsi. Hidup cukup udah. Disyukuri aja yang dipunya. Ngerti Faiz?”

Ada juga yang lain mencoba mengaitkan antara gender dengan korupsi. “Pantesan korupsi, mahasiswinya dikit sih. Kalo cewek kan lebih bisa teliti, ndak mungkin korupsi-korupsi gitu.”

“Ngapain bayar pajak kalo nanti dikorupsi juga, mending juga bayar zakat, jelas peruntukkannya untuk umat. Ndak kemakan koruptor.”

Kalau sudah begitu, lidah ini pun langsung kelu. Dijawab langsung ndak mungkin. Dikiranya nanti melawan. Ndak dijawab ini juga khawatirnya secara tidak langsung membenarkan. Serba salah.

Sebelumnya saya nggak pernah menyangka akan jadi PNS, makan uang rakyat (yang bayar pajak). Masuk STAN dah syukur kali, kuliahnya juga dibayar rakyat (yang bayar pajak). Tapi Alhamdulillah STAN kasih tambahan pondasi yang kuat untuk saya, selain agama, dan keluarga saya tentunya.

Ndak pernah kami diajar mata kuliah korupsi efektif efisien oleh STAN. Kami selalu dicekoki dengan nilai-nilai luhur integritas, rasa syukur, dan kawan-kawannya. Insyaallah bekal itu nikmat untuk kami bawa ke sana ke mari mengabdi.

Sekarang gini deh, kalo misal ternyata perumus tarif atau kebijakan pajak atas profesi penulis itu dulunya adalah alumni FEUI. Sedang alumni STAN cuma sebagai pelaksana kebijakan, apa Bang Tere akan melakukan hal yang sama? Mengait-ngaitkan dengan koruptor alumni FEUI? Saya rasa ndak bakalan.

Saya memang pegawai baru kemarin sore, ndak tau masa lalu atau masa kelam instansi saya itu seperti apa. Jadi maafkan kalau saya terlihat munafik atau sok bego.

Yang saya tahu, instansi, alumni, dan kampus kami sudah jauh berubah dan berbeda. Ndak kayak jaman Bang Tere dulu waktu pertama dinyatakan lulus terus takut korupsi akhirnya pindah ke UI dan nggak jadi ngerasain jadi mahasiswa STAN.

Saya yakinkan sekali lagi bahwa kampus kami ndak pernah ada niatan buat nyetak-nyetak koruptor. Yang ada, kampus kami pengin alumni-nya minimal jadi teladan PNS yang lain.

Rasa sedih saya akan Bang Tere rasakan juga kalau kampus abang dikait-kaitkan dengan korupsi-korupsian. Itu kalau abang punya rasa cinta dan bangga yang sama terhadap kampus abang seperti halnya saya.

Kita sepakati bersama bahwa korupsi itu jahat, korupsi itu nggak banget. Tapi tau ndak kalau korupsi itu ndak harus pejabat atau lulusan STAN tok? Siapa aja punya kesempatan untuk korupsi. UI, ITB, UGM, IPB, atau kampus yang kita sendiri nggak tau kalau ada kampus seperti itu pun ada aja.

Banyak lho alumni STAN yang bener, banyak lho alumni FEUI yang keren, apa ndak yang itu-itu aja yang dibahas? Ya emang ndak seterkenal koruptor sih, tapi please lah jangan alumni STAN aja yang dikait-kaitkan dengan PNS, pejabat, koruptor. Saya ndak terima.

Saya tahu Bang Tere kecewa sama pajak, sama DJP. Tapi abang sadar lagi nggak kalau abang punya banyak penggemar? Pasti sadar sih. Dari anak remaja sampe bapak-ibunya. Dengan baca tulisan abang tentang pajak, terus PNS, terus DJP, terus STAN, terus si G, terus korupsi. Apa ndak tambah banyak yang nggak respek sama yang itu-itu (red: PNS, pajak, DJP, alumni STAN)?

Kami ini kerja dimaki, ndak kerja dicaci, Bang.

Terus lagi, takutnya jadi saling membenci nih. Saling serang. Berabe. Padahal saya penggemar Bang Tere juga. Masih banyak novel abang yang belum saya baca.

Ada bagusnya emang harus ngerasain dari dalam untuk tahu bagaimana semangat itu dibangun. Kami di internal DJP lapisan pengawasan kepatuhan internalnya udah banyak. Dari level unit kerja, kantor pusat, sampe kementerian. Kalau macem-macem udah pasti siap-siap dipecat kalau nggak ya ‘dibuang’ entah kemana. Bisa ujung ke ujung. Belum lagi kalo udah kena ‘cap’, sampe pensiun juga nggak bakal bisa tenang.

Saya doakan saja Bang Tere bisa cetak lagi itu karya-karya abang dan urusan perkara royalti binti pajak juga cepet selesai. Biar penggemar abang ndak nyalahin pajak: “Gara-gara pajak jadi ndak cetak buku. Free di-share sih, tapi hape sama internet kan ndak punya. Wong listrik juga baru minggu kemarin masuk.”

Terakhir, anggaplah pemerintahan itu kotor. Sak kotor-kotornya kotor adalah pemerintahan. Lalu, Anda berada di posisi rakyat; yang kesemuanya diatur oleh pemerintah–yang dianggap kotor itu tadi. Kalau emang beneran rakyat yang waras, apa tega membiarkan pemerintahan itu tetap kotor? Kalau ndak setuju sama pemerintah, merasa harus ada yang diperbaiki, jadi penonton bukan solusi. Jadilah motor penggerak perbaikan. Kalau kerjaannya nonton, komen, nyinyir, ya kapan jadi baiknya?

Rasakan dari dalam, alami, gerakkan! Noh, daftar jadi PNS mumpung lagi buka rekrutmen.


Anda semua juga bisa korupsi kalau ndak bayar pajak. Pajak itu penerimaan Negara. Kalau ada penerimaan Negara yang nggak jadi masuk ke kas Negara gara-gara ada yang nggak bayar pajak, otomatis Negara dirugikan dong?

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

  • perbuatan melawan hukum, (pajak itu produk hukum lho. Malah amanah UUD’45 pasal 23A. Kalo ndak melaksanakan ya berarti melawan.)
  • penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
  • memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan
  • merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. (ndak bayar pajak, Negara ya rugi.)
Sumber: wikipedia

Sebenarnya unsur itu berlaku kumulatif sih. Jadi kalau udah dua terpenuhi, apa mau nunggu jadi empat dulu biar afdol?


Saya ndak disuruh DJP, STAN, atau alumni-alumninya buat curhat-curhatan kayak gini, ndak mutu sih, ini murni dari saya aja yang ikutan gusar. Sebagai alumni kemarin sore yang bangganya ndak ketulungan sama kampusnya. Maafkeun.

Time will heal, time will tell, time will forgive (?)

20160522_131159

I’m still your tallest fans, Bang!

Saya sudah baca Negeri Di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah seperti yang abang rekomendasikan waktu itu. Walhasil saya jadi ketagihan baca novel genre serupa. Thanks Bang!

20 tanggapan untuk “Kaitkan Saja Terus

  1. Very well said dik, jangan pernah lelah untuk memberikan pemahaman tentang pajak, negara, rakyat dan hidup bernegara kepada siapapun juga pada nenek 🙂

    Suka

  2. Fallin’ love at first sight😍 Keren pisan euuuyyy.. Tulisannya tidak menjudge.. Setiap orang psti punya salah dan silap ya iiiz, mngkin bang Tere jg demikian.. Izin share yaaaak👍

    Suka

  3. Saya merasa sedih membaca tulisan ini. Apalgi klo sampai bang Darwis baca dan komen. Hadeuh, tambah tercoreng lgi citra lulusan stan.
    Saya lulusan STAN trakhir, dan saya trkadang merasa sprti ini jg, baper dikit2 ada yg nyinggung kampus dan institusi tmpat saya mengabdi.
    Saya salut dgn pikiran kritisnya, tulisannya dalam dan tuntas. Namun perlu diperhatikan jg inti dri masalahnya.

    Saya penggemar bang Darwis jg, dan jujur saat membaca tulisan itu saya bangga. Kenapa? Liat paragraf selanjutnya.
    Disitu jelas2 beliau merasa pamer dgn menunjukkan prestasi bisa lulus seleksi stan. Artinya apa? Lulus STAN itu udah jdi standar kepintaran. Lulus STAN berti pintar. Gak bodoh2 bgt sampai berani komen tntang pajak (baca tulisannya smpai hbis). Bang Darwis mau mnunjukkan bahwa dia bisa diterima di stan, berti dia termasuk org yg cukup pintar dan punya kemampuan yg mumpuni utk berbicara tntang pajak. Bukan org yg asal bicara.

    Belajar dri bang darwis, sebelum menulis, belajar membaca dulu. Biar gak salah langkah.

    Salam literasi !

    Suka

    1. Mungkin hak Anda utk bebas menulis disini, bung. Saya sbg “teman” yg merasa seangkatan hanya ingin mengingatkan. Ini jg media, yg bisa diliat semua org dri sluruh dunia.
      Salam literasi!

      Suka

    2. Iya.. sama bangga dan kaget juga kalau belio pernah ketrima STAN walau akhirnya jadi alumni FEUI. Sama” kampus beken lah. Semua tulisan belio terkait pajak royalti penulis emang bagus banget, ndak nyangka. Cuma ya itu tadi, andai kata ndak ada gayus”an mungkin saya ndak bikin tulisan ini. Capek lho kena cap terus. Ngerasa juga kan ya?

      Suka

  4. Meskipun saya Maba, mahasiswa ba(r)u amis, saya sangat merasa” sekali dengan tulisan mas Ammar, perbedaan idea sangat kentara di ruang lingkup kampus yang tercinta. Dari tulisan mas Ammar saya jadi semakin yakin, dikampuslah kita akan ditempah, bukan hanya akademisnya melainkan mental dan idealismenya, agar tidak lembek seperti agar-agar.

    Pertahankan apa yang kita anggap benar.

    Salam literasi!

    Suka

Tinggalkan Balasan ke i'm iim Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s