Untuk Apa

Tak sedikit dari kita yang setelah beranjak remaja mulai mengenal namanya dekat dengan lawan jenis, ketertarikan. Ada juga mungkin yang malah sudah memulainya sebelum remaja. Duh, Nak.

Dari hubungan-hubungan itu pasti muaranya ingin hingga ke jenjang pernikahan. Apalagi kalau sudah saling kenal cukup lama. Tuntutan untuk segera melegalkan baik dari internal, lebih-lebih dari eksternal semakin keras menerjang.

Tentu ada alasan mengapa tekanan demi tekanan, pertanyaan demi pertanyaan itu muncul ke permukaan. Ada dari usia yang sudah mulai membanyak, dilihatnya sudah siap, atau mulai bisa diserahi tanggung jawab. Ada juga yang hanya ingin mengetes bagaimana reaksi kita ketika ditanya. Apakah terperangah, tiba-tiba pingsan, mimisan, atau pamit pulang ngerjain PR.

Bertambahnya usia jelas adalah sesuatu yang mutlak. Usia bagi laki-laki mungkin tidak terlalu menjadi masalah, sampai tua juga ‘bisa’. Namun berbeda dengan wanita, mereka punya waktunya sendiri. Maka dari itu, kadar tekanan ‘kapan nikah?’ begitu terasa di sisi wanita dibanding laki-laki karena tuntutan usia.

Jika faktor usia adalah berat bagi pihak wanita. Maka faktor kemapanan cukup menjadi momok di pihak laki-laki. Inilah salah satu marwah lelaki. Bertanggung jawab atas nafkah keluarga.

Kecukupan rezeki jelas sesuatu yang sifatnya relatif. Ada yang mengaku 3 juta per bulan itu sudah cukup, ada yang jauh lebih dari cukup, ada juga yang merasa tidak cukup sama sekali.

Saya sendiri berprinsip, saya menikahi seseorang bukan untuk diajak susah. Saya akan merasa bersalah ketika saya berhasil ‘mengambilnya’ dari orang tuanya, lalu mengajak dia bersusah-susah dengan saya. Saya bukannya tidak ingin membuatnya merasakan susah dulu agar nanti ketika sudah tidak susah bisa dijadikan kenangan indah tak terlupakan. Tapi jika saya bisa membawanya bahagia, kenapa saya harus mengajaknya bersusahria?

At least, standar hidup yang kita tawarkan beda-beda tipis dengan standar hidup di keluarganya. Syukur kalau lebih baik. Kan nggak enak juga kalau dari orang tua (apalagi orang tuanya) masih ngurusin ini-itu keluarga kita. Ya, walau nggak menutup kemungkinan dan nggak ada yang ngelarang juga sih.

Sesiap apapun, saya rasa ada saja yang bagi kedua pihak tidak bisa disiapkan saat memang belum sah menikah. Jika ditunggu kesiapannya hingga 100%, mungkin tidak banyak orang yang akhirnya menikah. Menikah menurut saya tidak harus menjadi siap 100%. Toh akhirnya dengan menikahlah yang 100% itu bisa sama-sama diwujudkan.

Ada orang yang melihat menikah itu mudah, tapi ada juga yang melihatnya cukup rumit dan butuh super duper persiapan. Semua itu bergantung kepada keyakinan, apakah yakin sudah siap umur, agama, mental, materi, dsb.

Yang challenging juga adalah ketika pihak wanitanya sudah yakin dan siap dunia-akhirat, tapi di pihak laki-laki 0 besar. Yang seperti ini nih yang harus diselesaikan oleh kedua belah pihak sebelum semakin jauh melangkah. Hmm…

Siap jelas tak menunggu 100%, tapi keyakinan tidak bisa jika tidak 100%.

Ketika sudah yakin, apalagi?

Jujur, saya pernah memiliki keinginan untuk menikah di usia yang relatif muda. Ada saja mungkin yang melihat saya sudah cukup siap (walaupun sesungguhnya tidak). Terlebih kedua orang tua dan nenek juga masih lengkap. Sepertinya lucu juga kalau sudah bisa kasih cicit ke nenek. Walau bukan itu poinnya.

Tapi, saat saya renungkan lagi, saya tanyakan lagi ke diri saya, saya yakinkan. Ternyata memang belum waktunya. Lalu, saya juga berpikir kembali. Saya lulus SMA kurang lebih di umur 18. Setelah itu saya langsung kuliah dan lulus di usia 19. Tak lama, alhamdulillah langsung bekerja dan sekalian jauh sakjauh-jauhnya dari rumah, dari keluarga. Sekarang sudah 22 tahun dan balik kuliah.

Saya belum siap ketika akhirnya di rentang waktu yang tidak begitu lama itu, saya sudah memiliki keluarga sendiri, dan bertambah dengan keluarga pihak wanita. Saya merasa, saya harus menghabiskan waktu bersama keluarga saya sedikit lebih lama lagi. Sekalian saya rasakan juga masa muda dan melajang saya ini. Enak juga.

Terlebih jika kita terlalu dini menjalin sebuah hubungan, tidak ada jaminan bahwa orang yang dekat dengan kita sekarang, akan dekat juga di pelaminan kelak. Dekat dalam artian menjadi pasangannya (bukan dianya malah jadi bridesmaid). Tidak salah juga kalau sudah yakin dengan dia. Toh, memang banyak yang menikah karena memang sudah mengenal sangat lama. Walaupun ada juga yang akhirnya nggak jadi menikah, ya.

Saya sempat membuat pertanyaan sendiri:

  1. Apakah kau rela membuang waktumu untuk seseorang yang belum pasti kau miliki nanti?
  2. Apakah kau rela menyesal karena tidak membuang waktumu untuk seseorang yang ternyata kau miliki nanti?

Maksud saya, memiliki hubungan di saat kita tidak tahu kapan akan membawanya ke pelaminan, rasanya cukup menghabiskan tenaga, perasaan, pikiran, bahkan uang (kalau sering jalan bareng, ya). Untuk apa harus dekat-dekat sekarang, dari pada ujung-ujungnya, eh malah jagain pasangan orang. Menjajaki masa perkenalan bisa jadi diperlukan, tapi jika sampai multy-years seperti proyek infrastruktur, kelamaan juga.

Kita tidak bisa memprediksi bagaimana hubungan kita setahun ke depan, sebulan, atau seminggu ke depan. Ada mungkin tiba-tiba pecah. Atau ganti pasangan. Nggak lama memutuskan ingin melamar, eh terus nggak jadi. Tiba-tiba ini, tiba-tiba itu. Penuh ketidakpastian.

Lagian, menikah itu bukan cuma atas dua individu, tapi sak keluarganya juga. Saat kita belum bisa berdamai dengan diri kita sendiri, jangan sekali-kali malah ngajak ribut orang lain.

Baiknya menurut saya adalah ketika kita sudah cukup siap, keyakinan untuk menikah sudah muncul, barulah cari pasangan. Selagi belum siap, tidak yakin, lebih-lebih tidak ada pasangan, mungkin lebih enak bagusin belajar, perbaiki hubungan dengan keluarga, orang-orang sekitar, dan Tuhan, bekerja dan berkarya maksimal, yaa cukup nikmati harimu dan dirimu seorang. Jangan koleksi korban perasaan.

Hidup tidak berakhir hanya karena kamu nggak nikah-nikah. Persiapkan dirimu dan jadilah dirimu dalam versi terbaikmu. Lumayan bisa buat ‘dia’ juga ya kan?

Finally, everyone has their own time zone. None’s late. None’s early.

Menerima undangan pernikahan via email, ya. Bukan cetakannya tak mengapa.

10 tanggapan untuk “Untuk Apa

  1. Uuuuuuugh cant agree more!
    Betul tuh brader, Intinya siap.

    Like, ketika di benak kita literally terlintas untuk cepat menikah, sok atuh ditelaah ulang. Apakah menikahnya karena : teman saya sudah pada menikah, dwi handayani, selebgram idola saya akan menikah, pertanyaan memuakkan keluarga yang selalu bertanya tanya, ceramah ustad favorit kita, atau justru karena kita memang siap menikah.

    Karena menikah itu kita lho yang rasain, bukan mereka🤤🤤
    Memang, menikah harus disegerakan untuk menghindari dosa dan fitnah. Tapi yha jangan grusak grusuk pokok nikah, pokok tangan harus pake hyena, pokok harus ala ala Laudya Cinthya Bella, Bla Bla Bla. Inget, menikah tidak satu dua hari loh ya tapi selamanya.

    Menikah itu bukan masalah cepet cepetan, tapi “awet-awetan” (gitu sih katanya) 🤣🤣

    Kasih ke Allah aja, biar Allah yang aturrre👌🏻

    Btw, tulisan bagus untuk people jaman now yang jadiin nikah sebagai trendsetter 2017 heuheuheu

    Suka

    1. Ah, your comment always make me stronger and braver to face the world. Saya lantik Anda menjadi komen jaman now terpomade aduhai. Couldn’t agree more! Thanks sista. Don;t be baper seeing your friends (I mean, dwi handayani and Laudya). You can face your future brighter, trust me.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke fajarashari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s