Menuju D3 Khusus PKN STAN

Seperti kalian ketahui atau kalian belum ketahui, saya lulus diploma I pada akhir tahun 2014. Tak lama dari itu, saya mendapat tugas magang di Kab. Cianjur – Jawa Barat, sekitar sepuluh bulan lamanya. Lalu di awal bulan Desember 2015, pengumuman penempatan kami akhirnya keluar setelah hampir empat puluh Jumat keramat kami nantikan.

Kakak-kakak diploma III yang magang di Kantor Pajak Cianjur kala itu berjumlah sepuluh orang. Hanya satu yang di ibukota, satunya di Jambi, satu di Sulawesi, dan kebanyakan sisanya bertempat tugas di Papua. Kawan-kawan penerimaan jalur umum ada tujuh  orang, seingat saya satu orang di Bogor, satu di Bekasi, satu di Purwakarta, satu di Sampit, sisanya di Ende. Dan yang magang dari diploma I, ada lima orang, dua di Tangerang, dua lagi di Jakarta, dan satunya menyendiri ke Medan.

Itu saya.

Banyak orang yang bercerita bahwa selain memang ingin belajar, motivasi terbesar untuk kuliah lagi adalah ingin ditempatkan ulang karena lokasi penempatan yang kurang sesuai. Dan memang benar terjadi pada saya dan beberapa teman saya yang lain.

Bukan saya tidak suka Medan, tapi coba bayangkan saja: saya adalah orang di kantor saya yang basis rumahnya paling jauh. Kerja di agak ujung utara Pulau Sumatera, kampung di agak ujung timur Pulau Jawa. Ketika beberapa rekan yang punya kampung di Jakarta bisa agak sering pulang, saya paling banyak baru bisa pulang setahun sekali, itupun pas lebaran.

“Masih mendingnya kau di Medan lae, Padang Sidempuan, Sibolga kekmana lagi lah. Yang di Papua-Papua sana, pedalaman Kalimantan.” Ya, kadang manusia memang punya alasan saja untuk merasa berada dalam kondisi buruknya walau ada rekan lain yang mungkin lebih buruk. Tapi kan kitorang ingin maju dan merubah nasib to.

Terlebih ketika kita tidak memiliki prestasi gemilang dalam karir atau tidak melanjutkan study–utamanya di STAN lagi, bisa dipastikan kita akan berlokasi kerja di sekitaran penempatan kita pertama…. sampai tua. Karena dengan study lagi, maka kita akan ditempatkan ulang oleh instansi. Bisa lebih baik, bisa juga mungkin lebih buruk.

Sejujurnya saya kurang cocok saja dengan makanan Medan, kecuali lontong sayur dekat Hotel Grandika, makanan mandailing belakang kantor (terutama ikan acar dan daun ubi tumbuknya), sop sipirok, ayam ungkep Mbak Melin di Marendal, dan Lekker Urban Food House, eh kok banyak.

Singkatnya, motivasi terbesar saya untuk bisa kuliah lagi adalah agar bisa pindah lokasi kerja. Syukur jika nanti dapat kota yang kulinernya memang pas di lidah dan di kantong, juga tidak perlu pakai pesawat terbang atau kapal laut untuk bisa pulang ke rumah. Paling kenceng pakai kereta lah.

But, dalam hati terdalam, saya sangat bersyukur bisa pernah penempatan Medan dan punya banyak teman di sana. Kalau nggak penempatan Medan, mungkin sampai sekarang saya belum berani naik pesawat. Eaa..

Nah, di sekitar bulan November kemarin, beralasankan ingin mengisi waktu luang dan memperbaiki kemampuan berbicara Bahasa Inggris saya, saya memutuskan untuk mencari tempat kursus. Niatan awalnya hanya itu. Dari beberapa tempat, saya akhirnya memutuskan Briton di Jalan dr. Mansyur. Selain lokasinya yang dekat dengan kontrakan, jadwalnya ternyata sangat mengisi waktu luang: setiap Senin sampai dengan Jumat berdurasi dua jam di malam hari. Tak kurang tiga bulan saya kursus di sana sampai capek.

Ternyata teori-teori dari Briton yang pernah saya dapat, sangat membantu dalam belajar di tempat kursus lain. Ya, di Medan ada tempat kursus khusus Tes Potensi Akademik dan Bahasa Inggris persiapan ujian masuk STAN, namanya Adzkia. Tempat kursus terhits se-Medan dan sekitarnya untuk masalah ingin masuk sekolah kedinasan. Kami ditempa selama empat puluh kali pertemuan setiap minggu hingga menjelang ujian. Selain kelas rutin, beberapa kali juga diadakan Try Out bebarengan dengan adik-adik unyu yang masih SMA.

Nah, rupanya itu juga jadi kelebihan sendiri penempatan di Medan. Karena di beberapa kota, oleh teman saya bercerita, tidak ada kursus sejenis di kotanya.

Di hari H tes tulis, tes awal, saya berangkat ke Balai Diklat Keuangan Medan. Di sana saya berjumpa banyak orang seantero Sumatera Bagian Utara yang juga ikut ujian. Bukan hanya seangkatan saya, tapi angkatan sebelum saya yang prasayarat umurnya masih terpenuhi pun ikut ujian.

Sejak Try Out, atau bahkan sejak ujian saat pertama masuk STAN dulu. Saya selalu mengerjakan apa yang saya bisa saja. Tidak memaksakan harus mendapat berapa jumlah soal selesai dikerjakan. Tapi tetap, saya prediksikan bahwa jumlah benar jawaban saya sudah melewati nilai mati. Melewati nilai mati versi saya berarti benar-benar melewati sedikit saja batas minimalnya. Dari 1/3 minimum, palingan saya jawab 1/2. Dari 60 soal, paling saya jawab 40. Sisanya kosong.

Itulah mengapa setiap bubar ujian, saya lebih memilih untuk pergi jauh-jauh. Entah kemana. Kalau mendengar teman-teman sedang mengobrol dan sharing tentang berapa jumlah soal yang berhasil mereka kerjakan, saya langsung layu. Walhasil hari itu saya terpaksa mengasingkan diri ke warung makan Makassar di dekat Kejaksaan, makan konro dan es pisang ijo untuk menghilangkan stres dan perasaan down.

Beberapa minggu dari hari tes tulis, saat itu sedang puasa, kantor berakhir lebih cepat beberapa jam. Saya memutuskan segera pulang ke kontrakan karena sedang lemas saja. Jadwal pengumuman yang seharusnya hari X, ternyata bergeser maju beberapa hari. Belum sempat saya menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Tiba-tiba di sore itu, Imam teman saya meng-chat: “Faiiizzzzz selamat yooo”. Terperanjak saya dari tempat tidur. Langsung dingin kaki saya.

Alhamdulillah, menjadi satu dari dua ratus enam puluhan yang lulus tahap I dari seribu dua ratusan pendaftar awal.

Tak lama dari itu, dengan bermodal jatah pertemuan yang masih tersisa beberapa, kursus kami yang tadinya khusus Tes Potensi Akademik langsung banting setir menjadi latihan Tes Psikologi. Kami diberikan tips-tips bagaimana menjawab dengan benar beberapa jenis tes psikologi yang diujikan.

Pertama, menuliskan biodata serta menceritakan secara singkat pengalaman bekerja yang berkesan. Kedua, tes PAPI (Perception And Preference Inventory), pilih satu dari dua kalimat yang paling sesuai. Ketiga, saya tidak tahu namanya, intinya memilih dua kalimat dari empat kalimat, masing-masing adalah yang paling sesuai dengan diri dan paling tidak sesuai. Keempat, Wartegg tes, ini yang menggambar delapan kotak. Kelima, Draw A Person, menggambar orang. Keenam, BAUM, menggambar pohon. Dan terakhir, Tes Pauli, atau tes koran, menjumlahkan angka-angka sebanyak luas kertas A3 semampusnya.

Ini jawaban versi saya di tiap jenis tesnya. Tes pertama, saya bercerita tentang hal paling pribadi yang pernah saya alami selama kerja, yang sekiranya tidak banyak orang yang mengalami hal serupa. Kedua, saya pilih yang sesuai dengan saya, walau sepertinya tidak konsisten jawabannya. Itu karena dari sembilan puluh soal, sering dari jawaban itu dibenturkan lagi. Ketiga, saya pilih lagi yang paling pas dengan saya, sebisa mungkin tidak bertentangan. Keempat, lupa apa saja yang sudah saya gambar. Kelima, saya menggambar laki-laki seumuran saya sedang sosialisasi pajak. Keenam, saya menggambar pohon apel. Dan terakhir, saya nyaris berhasil menyelesaikan A3 bolak-balik dengan pola aneh.

Sebenarnya untuk tes psikologi sendiri, sangat tidak disarankan menerima suntikan-suntikan saran seperti di atas. Itu juga yang dilakukan oleh kakak kelas saya yang jurusan psikologi, Mbak Khusnul. Beliau cuma bisa memberi sedikit gambaran umum kepada saya. Karena dikhawatirkan malah akan menjadi sugesti dan justru tidak menggambarkan diri kita sesungguhnya. Saya sendiri mendekati hari H ujian, sudah tidak menyentuh soal latihan lagi. Rasanya kepala saya nyut-nyutan setiap akan latihan. Akhirnya pasrah saja dengan apa yang akan terjadi nanti di hari H.

Semenjak selesai ujian, tak sedikit pegawai kantor dan atasan saya yang bertanya perihal kapan pengumuman akan dirilis. Ada yang mulai menggoda untuk saya menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk, ada yang mulai mengadu domba dengan satu teman saya yang juga lulus tahap I, ada yang mendoakan walau tidak begitu merelakan, ada yang sampai setiap hari bertanya kepada saya kapan pengumumannya keluar, dan ada juga yang mewanti-wanti harus jadi orang pertama yang mendapat kabar. Manis nggak tuh. Dengan keringat dingin, setiap hari pasti saya sempatkan untuk membuka situs-situs pengumuman di Kemenkeu, di BPPK, di STAN, semuanya.

Beberapa minggu dari tes psikologi itu, pengumuman yang dinantikan lagi-lagi datang mendadak. Dan lagi-lagi Imam teman saya itulah yang menjadi orang pertama yang memberi kabar kepada saya. Saya yang ketika itu sedang bercokol di meja kerja saya, terkaget, mata berkaca-kaca, sedikit berteriak barangkali, tak kuasa mengungkapkan kegembiraan. Sampai-sampai Ibu Kepala Seksi saya yang kala itu sedang mendapat laporan dari stafnya, melihat ke arah saya, memastikan ada apa dengan saya. Begitu saya ceritakan, rasanya ingin saya rangkul juga beliau waktu itu. “Udah telpon orang tua? Telpon gih.” kira-kira begitu.

Alhamdulillah, menjadi satu dari seratus sembilah puluhan yang diterima dari dua ratus enam puluhan yang lolos tahap I.

Ada juga teman yang bertanya apakah ada ibadah khusus saya lakukan. Seingat saya tidak ada, hanya saja kalo tiba-tiba terbesit ingin sedekah, ya sedekah. Ingin ikut kajian, ya pergi ke kajian. Mana disuruh hati saja.

Doa, pasti doa. Minta doa juga ke orang tua, nenek, saudara, teman-teman, rekan kerja, dan siapa saja yang ikhlas mendoakan atau mereka yang diam-diam berdoa untuk saya. Saya beruntung memiliki mereka. Tak kalah beruntung juga saya memiliki atasan yang mendukung penuh pegawainya untuk bersekolah. Di saat ada teman dari kantor lain yang tidak diizinkan atasannya.

Dari Medan sendiri, rata-rata dua orang setiap kantornya yang lulus. Di kantor saya, dari delapan pendaftar, dua di antaranya yang lulus.

Untuk kalian gengs, sedikit saran dari saya jikalau memang ingin dibaca: siapkan dari jauh-jauh hari apa yang bisa kalian lakukan. Les Bahasa Inggris dulu mungkin. Lalu les untuk TPA kemudian. Dicicil saja sedikit-sedikit. Perbanyak latihan soal. Saya sendiri tidak menguasai semua jenis soal TPA, tapi saya fokuskan di apa yang kiranya bisa saya kerjakan saja. Ada orang yang mudah menjawab soal artikel, saya sama sekali tidak. Maka dari itu, hampir dipastikan soal artikel tidak ada satupun yang saya jawab. Waktu mengerjakan sangat singkat dan berharga, kerjakan yang dikuasai, jangan berfokus pada satu soal yang membuat habis waktu.

Ini cerita saya, kurang lebihnya mohon maaf. Semangat kawans! Bisanya kelen..

16 tanggapan untuk “Menuju D3 Khusus PKN STAN

  1. Mau tanya kak..

    Maksudnya penempatan ulang kak?

    Kalau misal, dulu saya d1 BC, trus ambil D3 khusus akun, penempatan saya setelah d3 khusus itu bisa diluar BC kak?

    Makasih sebelumnya…

    Suka

  2. Halo Kak. makasih atas cerita yang dibagiin kakak ya, Skrg sy juga sama kaya kakak dulu, jauh dari homebase (Hombes Jogja, penempatan Kotamobagu). Semoga 2 tahun sejak TMT CPNS saya, saya dapat seperti kakak, diterima D III Alih Program/ Tugas Belajar seperi kakak ya!! Aamiin. Semangat Kuliahnya kak 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ammar Faiz Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s