YXGQ: Pahawang

Assalamualaikum!

UAS akhirnya usai, jatah liburan yang dinanti pun tiba. Jauh-jauh hari sudah ingin rasanya ke Bandung lagi, ke Lembang sih lebih tepatnya. Soalnya liburan yang nggak terlalu jauh tapi nggak ngebosenin rasanya cuma ke Lembang. Tapi yang beda, kali ini I’ll go with my latest circle: Pam, Uli, and Harry. Ada kepsyenan bilang “Nggak penting kemananya, yang penting sama siapanya.” Jadi ya kemana aja sih hayuk, yang penting orangnya cucmey.

Tapi dengan semboyan yang kita anut bersama-sama: “kalo nggak deadline nggak jalan”, akhirnya ya topik bahasan ke Bandung timbul-tenggelam sampe akhirnya UAS udah senin besok aja. Sama seperti ke Kebun Raya Bogor dan Jazz Goes to Campus UI dulu, nunggu di menit-menit terakhir baru keliatan hilalnya.

Untuk akomodasi, kita punya mamang-mamangnya yaitu Pam. Dengan berbekal pengalaman melalang buana ke Korea paket hemat, rasanya tak ada alasan untuk tidak memercayakan akomodasi ke dia. Walaupun kita nggak liburan ke Korea, tapi Pam adalah orang dengan mode lapangan. Merakyat.

Udah dipikirin sama Pam kira-kira ke Bandungnya mau ngapain aja, naik apa, rutenya gimana, pokonya paket hemat tapi komplit dah. Tapi Raisa pun bernyanyi: “Mau dikatakan apalagi…” Nggak ada angin nggak ada duit, si Harry tiba-tiba ngusulin pengin ke Pulau Pahawang, Lampung. Padahal posisi pas udah dalam suasana UAS. Yasudah, putar haluan, Kapten! Tadinya ke Timur, jadinya ke Barat.

Dengan kekuatan internet tak seberapa, browsing lah kami mencari paket liburan open trip ke Pahawang. Satu situs nampaknya meyakinkan, langsung coba kami hubungi kontaknya. Dibandrol harga hampir 500K untuk 2D3N tidak termasuk ongkos menuju Pelabuhan Merak, lumayan juga.

Tadinya mau ngajak banyakan, cuma takutnya udah pada beli tiket pulang kampung kan. Jadinya ya sekelewatnya aja. Toh juga belum tentu bakal banyak yang minat. Jadi, yang awalnya cuma mau jalan berempat, malah jalan bertujuh. Bertambah Izty, Lintang, dan Mas Yopi. Lintang ahli dalam kebendaharaan, Izty ahli dalam keibu-ibuan, sedang Mas Yopi ahli dalam keahliannya yang sayangnya nggak bisa saya sebut di sini.

Drama pun segera dimulai. Drama pertama, menuju H-3, tiba-tiba keluar pengumuman dari kampus bahwa akan ada pengarahan KKN di Jumat malam. Yang itu seharusnya adalah jadwal kami berangkat menuju ke Pelabuhan Merak. Sudah diperkirakan sebelumnya bahwa untuk menuju Merak, kita akan berangkat via komuter ke Rangkas Bitung, di lanjut naik kereta jam 8 malam ke Pelabuhan Merak. Yang itu berarti, secara matematika, kami harus berangkat segera setelah UAS Manajemen berakhir, sekitar jam 4 sore dari Bintaro.

Membatalkan liburan jelas nggak mungkin, karena sayang udah bayar uang muka 250K. Lumayan buat makan beberapa kali. Akhirnya pada hari H, dari kampus, kami naik Grab Xenia menuju Pelabuhan Merak. Drama kedua pun dimulai, kami salah masuk Grab. Dengan kondisi tujuh orang beserta barang-barang sudah berada di dalam mobil, mau nggak mau kami bongkar lagi. Rupanya Grab yang ini tujuannya cuma ke Bintaro Xchange. Tidakkah Bapak Grab-nya terkesima dengan orderan yang hanya ke BXC tapi penumpangnya bawa ransel dan topi pantai(?)

Perjalanan 350K ini memakan waktu sekitar 2 jam. Yang tadinya kami ketakutan ditinggalin peserta open trip yang lain, ternyata kami datang lebih awal. Drama ketiga terjadi ketika kami bertemu dengan salah satu peserta open trip. Basa-basi singkat, ternyata sama-sama ke Lampung. Kami merasa agak aneh ketika si muka mbaknya nggak ada di daftar member grup WhatsApp open trip kami. Benar saja, walau sama-sama ke Lampung, si mbaknya ternyata mau ke Krakatau. Yaile~

Jam 1 dini hari, kapal ferry kita berangkat. Dengan kondisi yang udah loyo sebelum liburan, si kawan cepat sekali tertidur pulas di ruang lesehan kapal. Karena jam biologis saya selama UAS ancur-ancuran, rasanya jam 1 malem masih kuat aja matanya melek. Tidur pun susah, gelombang sedang lumayan besar, ruangan penuh orang melintang ke sana ke mari. Akhirnya saya baru bisa agak tidur di setengah jam terakhir sebelum kapal ferry bersandar.

Di sepertiga malam, kami pun sampai di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Akhirnya ketahuan juga berapa orang yang ikutan. Hampir 20 orang. Perjalanan selanjutnya yakni menuju Dermaga Ketapang yang memakan waktu sekitar 4 jam. Agenda kami di Dermaga Ketapang ini adalah ganti baju untuk persiapan snorkeling dan sarapan.

Kami menyeberang ke Pulau Pahawang menaiki perahu berkapastias 20 orang. Ombak yang tenang, air yang biru, langit yang cerah, dan angin yang bertiup manja, membuat saya yang duduk di bagian moncong perahu terlelap juga.

Tujuan kami pertama adalah Pasir Timbul. Area antara dua pulau yang kalau kita mengunjunginya di pagi hari, selagi air laut surut, maka akan timbul daratan berpasir putih di sana. Sayangnya air laut tak bisa berlama-lama surut, kami hanya bisa bertahan sekitar setengah jam. Karena sudah terlanjur siang kami  sampai di sana. Mungkin akan lebih bertahan lama jika dari jam sarapan sudah berada di Pasir Timbul.

Drama keempat disponsori dengan wahana hiburan yang apasih namanya itu, bertuliskan nama saya. Saya kan jadi agak ge-er. Apa iya mereka menyambut saya dengan sedemikian sederhananya. Sudah begitu, saya cuma foto-foto aja, nggak dinaiki atau disewa.

Dari Pasir Timbul, kami mengarah ke titik snorkeling. Dasarnya saya adalah orang yang terlalu perhitungan, jadinya di titik pertama ini, saya yang nggak yakin di bawah bakal lebih bagus dari titik snorkeling di Sabang, akhirnya mengurungkan niat untuk turun. Daripada udah capek-capek tapi nggak ada apa-apa, kan sayang tenaga.

Di titik kedua akhirnya saya turun, karena di situ ada papan bertulis “Wisata Taman Nemo Lampung”. Ikannya sih lumayan rame. Dengan berperi-keikanan, tak ingin melihat sisa makan siang tergelatak menganggur, akhirnya saya berikan kepada ikan-ikan. Rame sekali. Kasian belum makan nasi dari pagi.

Acara snorkeling pun kami cukupkan. Kami kembali untuk istirahat bobok siang. Drama kelima terjadi ketika air dan listrik mati. Badan yang mulai gatal dan ingin segera membilas dengan air tawar pun tak terealisasi segera.

Sore hari, rencana awalnya adalah snorkeling lagi. Tapi diubah menjadi jalan-jalan sore saja. Ke Pulau Kelagian namanya. Pulau kecil yang indah, dengan pasir putih menghampar. Agendanya tetap sama: foto-foto. Nggak mungkin kita belajar accounting pas liburan ya kan(?) Sedang asyik-asyiknya potret sana potret sini, drama keenam pun datang: angin tiba-tiba berhembus kencang. Baru kali ini rasanya terpapar angin badai seperti ini. Langit tiba-tiba gelap. Ombak ngacir. Pepohonan bergoyangan. Perahu terombang-ambing.

Berlangsung lebih dari seperempat jam, sangat menggetarkan. Kami hanya bisa berlindung di balik gubuk-gubuk penjaja makanan ringan. Sambil membuang muka ke arah yang berlawanan dengan datangnya angin. Agar supaya tidak kelilipan alasannya. Untung kami belum berlayar lagi. Saya tak bisa bayangkan jika angin kencang ini terjadi di tengah-tengah perjalanan kami di atas laut. Tak surut angin ribut, pelangi indah menyambut.

Angin perlahan melunak, kami bertekad kembali ke Pulau Pahawang. Perahu yang kami tumpangi pun masih bergoyang-goyang akibat gelombang yang tak setenang sewaktu berangkat. Hanya bisa berdoa dan menguatkan satu sama lain. Lega akhirnya ketika sudah berhasil merapat dan mendarat dengan selamat tanpa kekurangan sparepart.

Untungnya di Pulau Kelagian, kami sempat ambil banyak stok foto keluarga.

Malam hari agendanya cuma makan malam dan makan ikan bakar. Ngobrol a la sharing session di tepian pantai bertemankan suara deburan ombak. Drama ketujuh, melintas sebuah bola api menyala merah membara di atas langit, terbang beberapa lama, lalu lenyap. Pam said that it was ‘something’. Tapi saya mah yaudahlah.

Sepulangnya dari makan, kami merayakan ulang tahun Pam yang sudah lewat beberapa tahun lalu, eh beberapa hari lalu. Karena Pam orangnya memang sangat nerimo dan sederhana bin yaweslah, kami kasih aja lilin mati lampu untuk dia tiup. Tapi untuk menambah gegap gempita acara, ya ada lah kami kasih kado sikit.

WhatsApp Image 2018-01-31 at 5.57.49 PM

Agenda malam kami berikutnya yakni maen welfare, eh Werewolf, sampai tengah malam. Saya bukan pemain mainan, jadi agak payah kalo masalah main-main. Mungkin kalian tau gimana teknis permainannya, yang jelas ketika saya jadi narator atau menjabat sesuatu, dipastikan akan garing dan “aelah, kuingin tidur saja”.

Keesokan harinya! Langit mendung, matahari terbit tak muncul. Bangun tidur, drama kedelapan muncul: mata Harry terkena gigitan serangga atau sejenisnya. Bengkak. Seperti ditinju petinju. Walhasil, Harry hanya bisa menghabiskan liburan dengan tidur siang di buritan perahu.

Seusai sarapan, kami sudah harus keluar pulau untuk ber-snorkeling kembali. Perlengkapan diangkut ke perahu. Cabut! Tak seperti kemarin, kali ini saya memberi makan si ikan Snickers. Karena takutnya si ikan jadi rese kalo lagi laper.DCIM100GOPROGOPR0550.JPG

Tak seperti pada umumnya, untuk mengisi waktu luang sembari ngambang, kami bikin acara tebak-tebakan tak berhadiah. Yuk simak kerecehannya!

(Tadinya mau upload video, tapi karena situs saya ini masih paket gratisan, jadinya nggak bisa upload video. Maafkan.)

Seusai dari snorkeling, perahu pun melanjutkan perjalananya ke Dermaga Ketapang. Baru setengah jalan, eh drama kesembilan datang. Angin tiba-tiba kencang, ombak kembali menggoyang perahu. Segera kami merapat ke pulau terdekat sembari menunggu tenang.

Setengah jam kami terdampar di sana.

Akhirnya kami mendarat di Dermaga Ketapang dengan selamat setelah mengarungi ombak yang tak setenang dahulu. Seusai mandi dan jajan ini itu, kami kembali menuju Pelabuhan Bakauheni untuk kembali menyeberang. Karena belum sempat makan siang, mampirlah kami ke Bakso Sony yang tersohor itu. Rasanya sih seperti bakso pada umumnya. Bentuknya pun sama. Yang membuatnya berbeda karena dia bakso sony saja. Lain itu, bakso ini juga dijual dalam kemasan beku, supaya bisa dibawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh untuk ibu kos. Satu kemasan berisi 50 buah dengan harga 125K. Tapi emang rasanya bakso banget sih.

Dari Bakso Sony, kami mampir lagi ke tukang jualan oleh-oleh khas Lampung. Di sana terdapat keripik pisang kepok dalam berbagai varian rasa. Ada material, labor, dan overhead. Sori, itu varian cost accounting. Ada rasa manis, asin, cokelat, durian, melon, BBQ, keju, dan lainnya. Per kemasan dijual di bawah 20K.

Akhirnya kami tiba juga di Pelabuhan Bakauheni dan berlayar menuju Pelabuhan Merak tepat pukul 5 sore. Pada mulanya ombak masih lunak-lunak jambu. Kapalpun berlayar seperti wajarnya hingga akhirnya drama kesepuluh pun datang: cuaca buruk dan kapal menjangkar. Dikabarkan kami harus menunggu sampai 2 jam hingga cuaca membaik.DSCF0567

Jam 7, bukannya kami melanjutkan perjalanan, tapi drama kesebelas datang: masih cuaca buruk dan harus menunggu lagi 2 jam. Angin memang sedang kencang-kencangnya, ombak besar, malam semakin malam. Setelah sekian lama terombang ambing, akhirnya kami bisa merapat ke Pelabuhan Merak sekitar pukul 11 malam, atau hampir 6 jam.

Setibanya di Pelabuhan Merak, drama keduabelas datang: bakso sony saya tertinggal dalam kapal. Melayang sudah bakso bu kos saya. Maafkan saya bu kos, karena saya tak becus menjaga bakso buat oleh-oleh bu kos. Rasanya saya menjadi anak kos yang gagal. Jangan naikkan ongkos kosan saya.

Drama ketigabelas: No Grab, No Gocar. Abang-abang penyewa mobil mengongkosi 125K per orang untuk tiba di Jakarta. Bisa tekor nih. Alhasil dengan kondisi badan yang udah pegel, kami memilih bus jurusan Kampung Rambutan. 35K kami turun di Tol Kebun Jeruk, dan saya baru sampe kosan di Kebayoran Lama jam setengah 4 subuh.

Drama keempatbelas: dengan kepercayaan diri dan pikiran positif terhadap alam semesta, saya nekat nggak pake sunblock. Tau apa akibatnya? Leher saya merah, kedua tangan merah terbakar, dan belang di bagian pergelangan jam tangan.

Cukup sekian dramanya, pasti nanti akan berkembang sendiri seiring berjalannya waktu. Semoga drama-drama ini menjadikan pembelajaran untuk selalu memitigasi risiko yang sekiranya berpeluang dihadapi. Yang pertama kadang tak begitu manis, tapi yang pertama selalu memberi kesan.

DSCF9807
Pam, Harry, Lintang, Mas Yopi, Izty, Uli, dan Saya.

Wassalam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s