Sebuah Permainan

Saya bukanlah seorang gamer, entah kenapa setiap ponsel yang saya punya, hampir tak muat untuk disusupi game. Bisa jadi karena memang RAM-nya yang tidak mendukung atau sayanya yang terlalu banyak memasang aplikasi media sosial. Toh, memang saya juga tidak berminat dengan game.

Tapi belakangan ini akhirnya saya memasang juga satu game sederhana (yang MB-nya kecil), namanya Snake vs Block (<-klik). Pertemuan pertama kami berawal dari iklan di instagram. Ya, saya akui saya adalah korban iklan.

Permainan ini terlewat sederhana dan cenderung biasa saja. Berbeda dengan tetangga sebelah yang lebih memilih permainan bergenre pertempuran, strategi, harus main secara daring (online), dan seterusnya dan seterusnya.

Alkisah setelah beberapa hari bermain, saya langsung terbawa perasaan. Tidak pernah saya bermain game yang sefilosofis ini. Syarat akan makna dan hikmah kehidupan. Walaupun bisa jadi bukan niatan pembuatnya untuk menginput pesan moral di dalam game-nya. Sayanya saja yang a l a y.

Tapi marilah kita plototi bersama.

Game ini, sesuai judulnya: Snake vs Block, yaitu perversusan antara ular dengan balok yang di sepanjang permainan akan ditemui angka-angka berdigit satu hingga dua.

Ular membawa angka, balok memuat angka, dan di area kosong juga terdapat angka-angka sebagai ‘santapan’ si ular. Jadi, selain menabrakkan antara ular dengan balok, kita juga ditantang untung berhitung kira-kira angka yang dibawa si ular akan mampu menembus balok atau tidak.

Tugas si ular adalah harus membawa angka yang jumlahnya lebih besar daripada angka yang terdapat dalam balok agar si ular dapat menembus balok tersebut. Bagaimana caranya? Ular harus memakan angka-angka yang berada di area kosong. Angka tersebut akan terakumulasi dan dijadikan sebagai bekal si ular untuk menembus balok dan mendapat skor sesuai jumlah angka yang terdapat dalam balok. Jika angka yang dibawa ular tidaklah lebih besar dengan balok, bisa dipastikan ular tersebut akan kalah dan game berakhir.

Di awal permainan, ular sudah ter-default membawa angka 4. Dan sebelum menabrak balok-balok di deret terdepan, biasanya terdapat tiga angka yang bisa memuat berapapun angka, paling tinggi angka 5. Ketiga angka tersebut sangatlah acak, kadang 1-1-5 atau 2-1-3 atau 4-4-5 dan sebagainya.

Pada balok deretan terdepan, biasanya memuat angka 1 atau 2. Untuk menembusnya, sangat mudah. Bisa dengan modal angka 4 yang sudah dibawa atau juga tambahan angka yang sudah dimakan terlebih dulu oleh si ular sebelum menabrak balok.

Semakin ke depan, balok-balok itu memuat angka yang lebih besar, juga campuran antara angka kecil dan angka besar. Sedang santapan ular di area kosong tak begitu signifikan, paling banyak adalah angka 5.

Dengan menabrakkan ular ke balok, maka angka dalam balok dan angka yang dibawa oleh ular akan sama-sama berkurang. Semisal ular membawa angka 20, lalu menabrak balok berangka 15, maka angka tersisa yang dibawa ular adalah 5. Untuk menembus balok berangka lebih dari 5, maka ular harus mencari santapan agar angka yang dibawa ular menjadi bertambah.

Namun, beberapa balok terdapat bintang yang memuat angka mulai dari 25, 30, hingga kelipatan 5 lainnya. Balok berbintang ini adalah sebuah bonus, dimana jika ular membawa angka lebih dari 25 dan menabrak balok berbintang yang memuat angka 25, maka si ular akan lebih mudah untuk menembus berapapun angka yang terdapat dalam balok di depannya. Tapi, bonus ini hanya berlaku sebentar. Oleh karenanya, si ular harus lincah untuk menabrakkan diri ke balok-balok yang berangka besar agar skor yang didapat juga semakin bertambah banyak.

Kira-kira demikian gambarannya, hal yang mulai membuat baper adalah ketika game seenggak jelas itu saya kaitkan dengan kehidupan yang fana ini yang juga adalah hanya sebuah tempat bersenda gurau.

Manusia pada umumnya terlahir sama, terstandar, seperti itulah wujud manusia, kita asumsikan diberikan angka 4. Di awal kehidupannya, mereka mulai tumbuh dan bisa jadi berbeda-beda bagaimana cara mereka bertumbuh, kita asumsikan ada yang mendapat asupan 1-2-2, ada yang 4-2-1, ada juga yang 5-5-5, atau ada juga yang tak sempat mendapat angka karena terlewat begitu saja.

Di masa awal ini, tantangan yang mereka hadapi masih tidak begitu besar, di kisaran angka 1 hingga 2. Mereka yang berangka 9 (4+1+2+2) tentu jauh lebih beruntung dari mereka yang tetap berangka 4 (karena tidak sempat mendapat angka).

Di tahap berikutnya, tantangan semakin sulit, bisa diangka 10 sampai 20. Mereka yang berangka 17 (4+5+5+5-2) tentu akan mudah untuk menembus tantangan itu ketimbang mereka yang berangka 7 (9-2). Mereka yang berangka 7 akan kalah dan mati, ketika yang berangka 17 masih bisa bertahan karena ia menghadapi tantangan angka 10 dan terisa 7 sebagai bekalnya.

Di perjalanan, tak semua dari mereka mendapat kesempatan untuk menambah kompetensi diri. Beberapa dari mereka sering mendapat angka 2 atau bahkan 1. Jarang sekali mereka mendapat 5. Walau terkadang ada satu atau dua orang yang karena kelihaiannya mampu mendapat angka hingga 5 dan terjadi berulang-ulang.

Apa dampaknya? Mereka yang punya kompetensi/angka lebih banyak, akan semakin kuat untuk berhadapan dengan tantangan yang semakin besar. Mereka akan mampu bertahan dan berjuang. Karena di balik tantangan yang berhasil mereka hadapi, terdapat juga nilai yang berhasil mereka raih.

Pun sebenarnya bisa juga mereka yang berawal dari angka kecil, karena mereka yang terus menerus menambah kompetensinya (walau juga sering kali lebih memilih untuk menghindar dari tantangan atau memilih tantangan-tantangan kecil) sesekali mampu berhadapan dengan tantangan yang besar.

Akan tetapi, di beberapa tantangan ternyata justru mempermudah mereka untuk menjinakkan tantangan lain yang bisa jadi belum sempat mereka bayangkan akan tertaklukkan. Tentang balok berbintang angka 25 dan kelipatan 5 lainnya. Tugas mereka hanya bagaimana caranya untuk mencapai kompetensi yang ditentukan, dengan begitu mereka akan mampu menyelesaikan tantangan tersebut, dan sebagai kompensasinya mereka akan lebih mudah menaklukkan tantangan yang lain.

Sayangnya, mereka-mereka yang berkompetensi tinggi akan lebih diuntungkan untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan itu ketimbang mereka yang harus berusaha lagi untuk mencapai standar minimal yang ditetapkan.

Tapi ingat, kemudahan itu tak berlangsung lama. Mau tidak mau, semua pun harus tetap menambah kompetensinya untuk menembus balok berbintang lagi yang mungkin angkanya bukan lagi 25 atau 30, melainkan sudah 50 atau 75. Mereka harus berjuang terus agar kompetensi mereka meningkat, mengalahkan kompetitornya, atau melawan tantangan yang mereka hadapi sendiri.

Mereka yang punya kompetensi banyak, akan mendapat nilai yang lebih banya karena mereka berhasil menaklukan sebesar apapun tantangan yang mereka hadapi, ketimbang mereka yang hanya meningkatkan kompetensi tetapi tak sering menaklukkan tantangan. Karena di setiap tantangan itulah sejumlah nilai akan didapat.

Kehidupan yang kita jalani hingga mampu mencapai titik yang sekarang (walau sudah pasti tidak akan merasa puas hanya berada di titik yang sekarang) bisa jadi adalah pergulatan antara kompetensi dan tantangan yang kita hadapi dari waktu ke waktu. Seburuk-buruknya kondisi kita, kita masih tergolong berhasil,  buktinya kita masih bertahan. Walau bisa jadi kompetensi kita sudah terkuras dan mulai tergerus oleh kompetitor kita yang lain.

Beberapa dari kita mungkin adalah mereka yang memang berambisi untuk menaklukan kehidupan, sedang ada juga yang lebih memilih untuk mensyukuri dan berkata:

“Aku sudah selesai.”

Bintaro, 10 April 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s