Memilah Sikap

Menjadi pemimpin bagi sebuah kelompok bukanlah hal yang mudah. Itu benar saya rasakan sendiri. Manusia sebagai individu sejatinya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Di posisi saya, maka saya harus jadi pemimpin diri saya dan pemimpin bagi kelompok saya.

Ada suka dan duka menjadi sosoknya. Saya pun sedang mempelajarinya dan sedikit demi sedikit juga harus beradaptasi dengan posisi tersebut.

Sukanya mungkin karena saya bisa langsung terhubung dengan kelompok maupun antara kelompok saya dengan kelompok lain, berkenalan dengan orang-orang baru, ya di seputaran menambah jaringanlah. Apalagi saya secara tidak langsung adalah representasi dari kelompok saya.

Dukanya ya kadang-kadang tidak cukup mendapat sambutan baik, baik dari internal kelompok maupun eksternal. Tugas-tugas yang bisa jadi memang tugas saya, ya cukup dihargai sebagai tugas yang memang harus saya selesaikan. Effortnya bagaimana, mungkin ada juga yang sempat berpikiran biasa saja. Kembali lagi, it was my job and responsibility.

Adalagi, yaitu untuk bersikap adil. Akhirnya saya merasakan juga beratnya untuk menjadi adil. Entah adil karena seimbang proporsinya atau adil karena harus miring sebelah agar dianggap adil.

Kasusnya sederhana saja.

Suatu hari, Pembina kami menugaskan kelompok untuk turut hadir acara pagi-pagi dengan kelompok lain. Acara gabungan. Acaranya berisi apa? Itu bergantung dari Pembina. Saya hanya ditugaskan untuk menghadirkan anggota kelompok.

Dalam pelaksanaannya memang agak mendadak. Karena anggap saja iklim lingkungan kami memang serba mendadak dan kami dipaksa untuk senantiasa beradaptasi dan memahami. Dan itu bukan wewenang saya, tetapi Pembina.

Pemberitahuan terkait kepastian acara memang baru di malam sebelumnya. Saya anggap anggota sudah tau bahwa keesokan paginya akan ada acara. Karena pemberitahuan tidak dilakukan dengan menempel selebaran di mading tengah malam, melainkan via WhatsApp yang semua orang pasti akan membacanya.

Pada hari H, pagi-pagi saya sudah bersiap di lokasi. Kami para pemimpin kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan pengeras suara, layar, dan barisan. Realitanya acara baru dimulai setengah jam setelah waktu yang djadwalkan. Alasannya? Karena masih ada beberapa anggota yang terlambat hadir dan persiapan ini itu yang belum selesai.

Saya lihat wajah orang-orangnya, ternyata ada beberapa anggota yang lokasi rumahnya cukup jauh dari venue tetapi rela hadir. Saya salut. Agak sulit memang untuk mengenali semua wajah dan lokasi rumahnya. Tetapi beberapa anggota memang rela untuk itu.

Acara yang digadang-gadang ternyata tak berlangsung lama. Lebih lama persiapannya daripada acara itu sendiri. Saya anggap wajar-wajar saja. Karena lagi, iklim lingkungan kami memang seperti itu.

Acara usai. Problem pun dimulai. Tentang absensi kehadiran, hal yang terlewat oleh kami. Kami belum sempat menyiapkan selebaran absensi untuk membuktikan siapa saja yang datang dan tidak datang. Bisa jadi karena koordinasi antara pemimpin kelompok yang tidak lancar, akhirnya ada miss di bagian registrasi.

Malam harinya, Pembina meminta para pemimpin kelompok untuk mendata siapa saja yang tak datang. Ini adalah sesuatu yang langka. Biasanya tak seperti ini. Formatnya beliau sendiri yang buat, kami hanya ditugaskan mendata siapa saja yang tak hadir. Beliau memberi batasan waktu hingga esok sore.

Tak bersusah payah. Saya tanyakan saja ke pemimpin regu. Mereka pasti tau banyak atau minimal bisa menanyakan langsung ke anggota regunya siapa saja yang tak hadir acara.

Beberapa saat kemudian mulai ada jawaban. Tau apa jawabannya?

Semua hadir.

WOW

WOW

WOW

Padahal ada beberapa orang yang nyata-nyata tak hadir dan saya tahu sendiri, tetapi dianggap hadir semua. It’s funny enough, isn’t it?

Ketika kelompok lain yang tidak hadir 40%-70% dari total anggota mereka. Walau ada juga kelompok dengan kasus yang hampir sama, hanya melapor dua orang. Kelompok saya hadir semua, lho. Voilla! Saya sendiri tanpa menanyakan ke pemimpin regu sekalipun, sudah yakin 100% kalau tidak akan ada yang tidak hadir. Pasti ada beberapa orang yang tak hadir.

Tapi pemimpin regu bilang hadir semua. Memaksa mereka untuk menyebut siapa saja yang tak hadir, sudah pasti akan berujung nihil. Mereka sudah terlanjur tersandera dengan anggotanya yang meminta untuk mengabsensikan atau dihitung hadir.

So, cara saya: menanyakan satu per satu teman yang saya kenal di tiap regu, kira-kira siapa saja yang mereka temui saat acara. Mereka akan memberitahukan siapa saja yang mereka temui, baik sesama regu ataupun regu lain. Dan sisanya, nama-nama yang tak mereka sebutkan, akan saya tanyai langsung atau meminta tolong teman seregunya untuk bertanya kepada yang bersangkutan.

Dari cara itu, saya menemukan hampir dua puluh nama yang tak hadir. Dengan berbagai macam alasan yang mereka bawa. Berangkat dari nama-nama itu, saya masukkan saja ke daftar nama-nama tak hadir acara. Awalnya sudah akan saya tanda tangani, tetapi akhirnya urung dan menganggapnya sebagai draft saja. Siapa tau ada koreksi lanjutan. Baik pengurangan karena salah orang atau penambahan karena ada yang belum dimasukkan dalam daftar.

Daftar itu masih berupa draft.

Draft itu pun saya ajukan ke pemimpin regu. Berharap ada respon positif dari mereka.

Beberapa saat kemudian. Situasi mulai memanas. Pemimpin regu protes, kenapa nama-nama anggotanya saya masukkan daftar. Padahal sudah ia sampaikan bahwa anggotanya hadir semua. Protes itu pun mungkin buah dari protes dari anggotanya juga. Tak berbeda dengan para pemimpin regu, beberapa anggota yang mengenal saya pun protes. Mereka berkilah telah menyampaikan ke pemimpin regu untuk dihitung hadir, namun saya tetap tuliskan tidak hadir.

Karena kondisi tersebut, akhirnya saya mencoba berbicara dengan Pembina. Saya sampaikan masalahnya, yakni tidak adanya daftar hadir. Namun Pembina menyampaikan agar mencari nama-nama yang memang tak hadir. Karena apa, beliau juga tak percaya bahwa kelompok saya hadir semua. Beliau pun tak tahu menahu atas sanksi yang akan diberikan karena murni dari atasannya lagi yang memberi instruksi.

Akhirnya saya coba sampaikan ke pemimpin regu. Kalaupun tidak semua nama yang masuk daftar, saya minta saja sepereempatnya dari nama-nama yang memang tak hadir. Untuk melihat kewajarannya. Padahal dari nama-nama dalam draft itu pun, tak semua yang tak hadir ada dalam list. Masih ada beberapa yang tak hadir, tapi pemimpin regu enggan atau tidak tahu untuk memasukkan siapa lagi (karena tak ada yang mengaku).

Beberapa hari kemudian, atmosfer kami pun tak kunjung berubah. Beberapa masih panas dan menatap dingin kepada saya. Ada yang beranggapan bahwa saya tak adil, saya hanya ingin menyelamatkan nama saya saja di depan Pembina, dan sebagainya. Padahal jelas, daftar nama itu, walaupun masih draft, sayalah yang nantinya bertanggung jawab atasnya.

Daripada harus berlarut-larut seperti itu. Akhirnya saya beranikan saja untuk menyampaikan bahwa kelompok saya menolak untuk memberikan daftar. Alasannya: karena pemimpin regu tak bisa membuktikan siapa saja yang tak hadir karena tak disediakan daftar hadir.

Walaupun sebenarnya jika mereka yang tak hadir memang mengaku tak hadir, masalah selesai. Sepertinya mereka ketakutan atas sanksi yang akan diberikan. Sedang sanksinya berupa apa, saya juga tak mengetahui pastinya. Singkatnya, draft itu saya hapus. Tak ada apapun yang saya sampaikan ke Pembina. Beliau pun tak merespon penolakan saya. Mungkin marah, atau kecewa, saya tak tahu. Dan saya pun tak berani untuk mengungkitnya lagi.

Anehnya, hingga sekarang beberapa nama di draft itu dan juga pemimpin regu masih dingin kepada saya. Kendati saya sudah menghapus daftar. Saya pun bertanya-tanya, sebenarnya yang berbuat keliru dan salah ini siapa? Kok rasanya saya yang tersandera.

Kalau case seperti ini dianggap remeh. Apalagi hanya sekadar absensi yang mungkin di waktu yang lain mudah dimanipulasi. So, kenapa sanksinya tidak ikut dianggap remeh? That list adalah bentuk mengapresiasi mereka yang setidaknya rela bangun pagi-pagi dan datang ke acara yang durasinya lebih singkat dari gigilan mandi pagi. Kalaupun tak ingin mendapat sanksinya, kenapa tak mau hadir saja?

Kita adalah orang-orang yang selalu memberitahukan kepada klien kita bahwa kalau tidak patuh maka akan mendapat sanksi bla bla bla. Nyatanya, kita sendiri? Apakah kita sudah menjadi contoh baik bagi diri kita sendiri?

Untuk beberapa saat, saya (walaupun agak berlebihan) seakan berperang dengan sesuatu. Seakan saya adalah kesalahan yang berada di antara mereka yang benar. Saya juga sempat merasakan beratnya orang terdahulu yang mencoba melawan di lingkungan yang berbeda dengan dirinya.

Saya bukan orang yang tak pernah melanggar. Once saya datang ke acara dan di tengah acara saya keluar. Kalau itu jadi borok saya, maka saya sesalkan. Karena saya sedang ada acara lain yang saya kejar juga. Bukan untuk lanjut tidur.

Kita disuntik tentang integritas dan sebagainya dan sebagainya. Sedang sepertinya integritas hanya ada pada saat-saat tertentu saja. Saya bukan orang suci atau sok suci. Bukan juga cari muka atau pembenaran. Tak berharap pula ada yang membela.

Tell me if I did some mistakes. And teach me how to be better and understanding people.

Satu tanggapan untuk “Memilah Sikap

  1. Tetaplah berdiri di atas kejujuran walaupun itu pahit dan penuh cibiran. Tegak dan kukuh dalam kejujuran dan kebenaran memang laksana melawan deras dan kerasnya gelombang di lautan. Zaman sekarang para penggenggam kejujuran bukan hanya dianggap orang aneh bahkan diberi label oposan yang destruktif. Dusta memang sudah mensistem sampai ke urat-urat dan sumsum tulang. Naudzubillahimindzalik.
    Baarokallaahufik adikku, semoga ridho ALLaah selalu mengiringi langkahmu. Aamiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s