YXGQ: Bandung

Sama seperti ujian semester lalu, di ujian kali ini pun saya manfaatkan libur setelah ujian yang hanya 2-3 hari untuk liburan ke luar, jalan-jalan. Karena semakin ke sini semakin doyan yang namanya main ke luar. Untuk menghilangkan kepenatan dunia perkuliahan dan menyeimbangkan antara Upin dan Ipin. Belajar dan bermain seperti halnya siang dan malam. Harus seimbang, seiya sekata.

Bandung menjadi pilihan. Selain karena kemarin sudah ke pantai, sekarang saatnya ke dataran tinggi. Mau naik gunung tapi sepertinya timing kurang pas. Apalagi kami jauh dari bersiap-siap. Alasan pendukung mengapa kami memilih ke Bandung, karena calon kakak ipar Pam punya villa di sana, di Lembang. Kalau kita bermalam di sana, kita akan mendapatkan potongan harga calon saudara. Miring sekali.

Kami berangkat berenam dari Bintaro. Ada saya, Mas Yopi, Pam, Brigita, Devi, dan Mbak Lintang. Awalnya akan mengajak beberapa teman kami yang lain, tetapi semakin mendekati hari H, ternyata semakin tipis orang-orang yang tersedia untuk diajak main.

Ujian Pajak Internasional selesai jam dua siang. Kami berencana untuk berangkat di sekitar jam empat sore untuk menghindari jam macet bubaran kantor Jakarta. Walaupun setelah dalam perjalanan ternyata tetap macet. Ya kali. Kami menghabiskan waktu hingga enam jam untuk sampai di villa menggunakan mobil keluarga Pam.

Setibanya di villa, kami langsung tercengang. Kami belum sempat membayangkan kalau villanya sebagus itu untuk ditinggali dua malam dengan harga curam. Masing-masing orang langsung sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Ada Pam yang sedang membakar sate taichan, ada Mbak Lintang dan Brigita yang sedang menggoreng kentang, Mas Yopi yang sedang leyeh-leyeh setelah lulus menjadi sopir andalan dari Bintaro, Devi yang instastory-an mengabadikan momen-momen berharga, dan saya yang bagian menyiapkan edisi foto keluarga, pasang tripod dan cari angle.

Tengah malam pun dilalui dengan melanjutkan obrolan di dalam mobil, sesekali ditimpali dengan guyonan artis ‘priampuan’ yang sedang tenar, menonton youtube, foto keluarga, dan berakhir lelah tapi tetap ngobrol sampai jam dua dini hari. Yang perempuan tidur bertiga satu tempat tidur di kamarnya. Saya dengan Mas Yopi. Dan Pam memilih di sofa tanpa selimut. Sudah biasa katanya.

Keesokan paginya, saya dan Pam sudah bangun untuk jalan-jalan pagi. Berkeliling komplek villa. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu yang tak asing bagi kami. Seperti lagu dengan lirik “…selamat datang di Jakarta Raya…”, rupanya lokasi villa yang berada di komplek Villa Istana Bunga-Lembang ini, berdekatan dengan markas TNI. Di situ juga banyak villa-villa yang disewakan. Dengan beragam bentuk dan harga. Villa kami termasuk yang menurut saya unik dan solid sekali jika dibandingkan dengan villa yang lain walau saya hanya melihat dari luarnya saja. Furniturnya minimalis, ruangan-ruangannya fungsional, dan kalau saya punya rejeki, rasanya ingin punya rumah dengan desain seperti villa yang kami tinggali ini.

Setelah bersih-bersih dan belum sarapan-sarapan juga karena memang tak ada stok sarapan yang berupa nasi dan makanan mengenyangkan lainnya. Agenda selanjutnya adalah foto keluarga. Villa ini memang instagramable sekali. Setiap sudutnya mampu dijadikan latar belakang foto kekinian. Mulai dari latar belakang bata, rumput-rumput, kayu-kayu, ada saja pokoknya. Nama villanya adalah Rumah Teras Bata, bisa dipesan melalui airbnb. Bersih, nyaman, cocok untuk anak muda.

Seusai mulai kebingungan akan berpose seperti apa lagi. Terlebih hari mulai terik. Kami melanjutkan agenda berikutnya yakni menuju objek wisata terdekat. Mumpung lagi ada di Lembang, kami pun mampir ke Farmhouse. Sesampainya, karena hari Jumat, Farmhouse tak sepadat akhir pekan biasanya. Walaupun tetap saja ramai. Tiket seharga 25K bisa ditukarkan dengan susu sapi segar aneka rasa. Ada cokelat, original, dan stroberi. Baik sekali bukan? Di dalam Farmhouse, kita dapat menemukan beberapa wahana andalan. Ada rumah-rumah bergaya Eropa, toko-toko penjaja buah tangan, ada taman bunga, rumah hobit yang hits itu, area memberi makan domba berbulu dengan wortel seharga 10K, atau juga kita bisa menyewa kostum ala noni Belanda dengan harga yang nggak tau berapa, kayaknya mahal.

Sepulangnya dari Farmhouse, karena Mbak Lintang sudah harus berangkat kembali ke Jakarta. Akhirnya kami merapat ke Bandung. Menuju pusat kota. Perjalanan tak terlalu macet menurut saya. Masih lancar saja. Perut yang kelaparan akhirnya diisi di tempat makan yang sedari dahulu kala ingin saya rasakan hidangannya. Karniv.012 di Jl. Riau. Lokasinya ternyata bersebelahan dengan Nanny’s Pavillon yang pernah saya kunjungi dulu. Seporsi tenderloin dihargai 65K, untuk sirloin masih di bawah itu. Kalau mau yang lebih mahal dari itu, juga ada. Di luar ekspektasi, saus lada hitamnya tak sekuat warung KW, saus black pepper di Karniv.012 pas di lidah. Mashed potato nya juga bikin kenyang banget. Dagingnya apalagi.

Perut kenyang, kami lanjutkan jalan-jalan patroli di Braga dan di sekitaran Alun-alun Bandung. Maklum ada yang belum pernah ke Bandung. Jadi kami berbaik hati untuk mempersembahkan Bandung kepada Devi yang orang Makassar untuk ditilik suasananya. Pam sekalian lepas rindu dengan kota tempat ia bertugas dulu. Ramai Bandung sangat terasa. Pejalan kaki seperti biasa berlalu lalang. Kendaraan memadati sepanjang Jl. Braga. Temaram lampu menambah syahdunya Bandung di malam itu.

Malam usai. Mbak Lintang sudah kami antarkan ke Stasiun Bandung tepat setengah jam sebelum keberangkatan. Ya, Stasiun Bandung, dimana saya pernah memiliki pengalaman kurang baik nan tak terlupakan pada lebaran beberapa tahun lalu.

Keesokan harinya, di hari Sabtu. Saking capeknya, setelah bangun pagi untuk sholat, kami pun pulas tidur hingga agak siang. Sampai-sampai penjaga villa sudah datang untuk bersiap membersihkan villa. Untungnya tak ada penyewa villa setelah kami, kami pun agak leluasa untuk memperpanjang durasi bermalas-malasan beberapa menit ke depan.

Menyadari sepenuhnya bahwa hari ini adalah akhir pekan. Dimana sudah dapat dipastikan objek wisata di Bandung akan penuh sesak oleh lautan manusia. Membuat kami semakin tak bergairah untuk mengeksplor Bandung. Terlebih sudah terlalu siang untuk mengunjungi tempat wisata. Akhirnya kami hanya fokus untuk mencari tempat makan enak di Bandung.

Yang bikin pusing kalau sedang di Bandung adalah memilih tempat makan. Bandung itu sudah seperti surganya kuliner. Semua macam makanan ada. Yang sunda, jawa, sampai eropa ada. Dari yang murah, meriah, muntah. Hingga yang agak membuat kantong kering. Kita tinggal pilih saja mana yang cocok untuk kita.

Rencana awalnya kami akan ke rumah makan seafood yang lumayan terkenal di Jl. Diponegoro. Eh, ternyata sedang direnovasi. Googling, brb, brb, brb, ketemu! Namanya Indischetafel di Jl. Sumatera. Sekilas dilihat di situs tripadvisor, tempatnya sangat unik dan ulasannya cukup meyakinkan untuk jadi ajang coba-coba. Daaaan… voila! Kami sangat terpukau. Gedung bergaya kolonial terawat, katanya bekas Kantor Pos, memanjakan visual kami. Ini sih rasa makan siang di dalam museum. Suasananya sangat antik dan otentik. Furniturnya khas jaman dulu. Lukisan, ornamen, barang-barang seperti radio jadul, mesin jahit, dan rekan-rekannya menambah nilai historis gedung. Plus, pelayannya yang berkostum seperti di Belanda sana membuat betah pengunjung.

Saya kurang tahu kapan jam-jam sibuk restoran ini, karena ketika kami tiba di sana sewaktu jam makan siang, pelanggan hanya ada dua hingga empat rombongan. Kami sudah berpikiran bahwa makanannya pasti akan biasa-biasa saja. Wong sepi ini. Ndlalah, ternyata di luar ekspektasi, menu makanan yang bercita rasa nusantara dan beberapa menu ala bule, sukses membuat kami girang. Saya sendiri memesan Nasi Cikur Parahyangan yang nasinya saya ganti dengan Nasi Daun Jeruk dan Es Buah Kuah Mangga. Raooos pisaaaann!! Ini mah wajib mampir untuk merasakan kuliner sekaligus nuansanya.

Sekian jalan-jalan dua hari dua malam kami. Gimana rasanya usai liburan? Sedih karena seharusnya bisa nggak hanya berenam. Karena villanya juga pas diisi enam orang rasanya masih agak sepi. Tapi ya nggak seprodi juga biar rame.

Bingung mau kemana buat liburan di hari kerja? Ke Bandung aja!

Yakali Nggak Kuy~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s