Ke-ber-agama-n

Menjadi muslim di era sekarang itu bisa dikatakan susah-susah gampang. Apalagi dengan dinamika yang terjadi di negeri kita ini. Ada pihak-pihak yang menuntut berdirinya Negara islam, yang ingin menegakkan hukum islam di Negara yang heterogen sekali seperti Indonesia. Pun ada masyarakat di luar islam yang berpandangan bahwa jika islam, maka tidak nasionalis.

Gejolak pascapilkada DKI memang rasanya masih susah untuk diredupkan. Ada saja yang menjadi hal untuk dibelah-belah. Selesai pilkada DKI, muncul lagi pilkada di daerah lain yang porosnya juga terbelah jadi dua. Puncaknya nanti ketika pemilu atau pilpres 2019. Wallahualam.

Yang membuat suasana tak nyaman juga adalah dengan disusulnya tragedi pemboman di beberapa kota di Indonesia beberapa saat lalu. Apesnya, pelaku bom adalah muslim. Semakin terpojoklah umat islam ini. Apalagi mereka-mereka yang berafiliasi dengan partai-partai non-pemerintah. Mereka-mereka yang menuding bahwa kejadian itu hanyalah rekayasa, pengalihan isu, dan sebagainya.

Di lain sisi, umat islam pro pemerintah jelas-jelas menentang tudingan itu. Bagaimanapun menurut mereka, itu adalah tragedi natural tanpa ada campur tangan pemerintah dalam perumusan skenarionya. Walaupun tak akan pernah kita ketahui juga mana yang benar. Bisa jadi memang benar atau justru 100% salah.

Kita sepakati bersama bahwa tak ada satu pun yang setuju dengan aksi brutal seperti itu. Apalagi membom tempat-tempat ibadah dimana ada saudara-saudara kita umat kristiani yang hendak melakukan ibadah minggu. Yang disayangkan juga adalah pelaku pemboman melibatkan satu keluarga yang nampaknya baik-baik saja dan anaknya yang penghafal quran.

Dari beberapa keadaan itu, meruncinglah kecurigaan horizontal antarmasyarakat beragama. Baik yang sama-sama islam, maupun di luar islam. Mereka-mereka yang mencoba taat beragama sering dikait-kaitkan dengan aksi-aksi terorisme. Walaupun disampaikan dengan nada bercanda. Entah karena jidatnya yang menghitam, celana menggantung di atas mata kaki, berjenggot lebat, wanitanya bercadar, rajin ke masjid, rajin ikut pengajian-pengajian, dan lain sebagainya.

Hal itu mengakibatkan kondisi psikologi yang tidak menguntungkan. Secara spiritual, selayaknya umat islam, tentu menjalankan kewajiban dan sunnahnya merupakan hal yang lumrah dilakukan. Tapi saat malah membuat orang lain atau umat lain curiga, itu juga menjadi ketakutan sendiri.

Tidak ada orang yang nyaman dicurigai. Bagaimanapun bentuknya. Apalagi dijadikan bahan bercandaan yang tak sepatutnya. Dugaan-dugaan bahwa menjadi muslim taat adalah mereka yang tidak nasionalis, tak Pancasilais, jauh dari kebhinnekaan, dan intoleran. Macam-macam.

Padahal seharusnya kejadian seperti itu bisa juga kita anggap sebagai segelintir orang atau oknum saja. Sama seperti kejadian-kejadian lain. Tak sepatutnya digenaralisasi. Koruptor yang membawa lari uang Negara berapapun nilainya atau hingga triliunan rupiah, sejatinya juga kejahatan luar biasa. Yang uang itu sebenarnya bisa untuk membuat hidup orang banyak. Bukan malah mematikan bangsa. Tapi toh tak pernah dikaitkan dengan umat tertentu atau kesukuan tertentu. Tak pernah masuk berita suatu rumah ibadah tertentu mencetak koruptor.

Yang tidak adil lagi kalau yang kebetulan korupsi adalah umat muslim juga. Ditambah dengan penampilan yang dianggap ala-ala orang radikal kebanyakan. Makin babak belur islam dikatakan buruk. Kalau umat lain? Belum tentu demikian dihajar.

Terorisme dan korupsi itu sama jahatnya. Kalau terorisme saja sering jadi bahan generalisasi, kenapa korupsi tidak? Atau malah ada yang berpikir bahwa lebih baik korupsi daripada meneror? Kan enggak.

Tak ada penganut agama satu pun yang ingin dikaitkan dengan aksi-aksi tak terpuji. Anggaplah tak ada agama apapun di dunia ini. Adanya adalah kebangsaan. Saat ada satu orang Indonesia melakukan korupsi yang uangnya dipakai untuk melakukan bom bunuh diri kepada bangsa lain. Apakah dua ratus jutaan orang Indonesia yang lain mau menerima dicap sebagai koruptor bin teroris? Kan enggak.

Bukan maksud saya membanding-bandingkan atau mengadu panco. Ayolah kita melihat kejadian sewajarnya saja. Tak semua orang dari SARA tertentu seperti demikian. Jadi jikalau pun ada orang yang ingin menjalankan ibadahnya sebaik yang ia bisa, lihatlah mereka sebagai umat taat. Bukan orang-orang yang nantinya akan menindas atau berbuat jahat kepada orang lain atau penganut agama lain. Jangan malah akan membuat orang jadi takut untuk taat karena takut dicurigai atau dijauhi oleh manusia lain.

Pun jika ada yang berpandangan pemerintah kini tak seperti yang diidam-idamkan, bukan berarti tak nasionalis dan ingin menggulingkan pemerintahan sah. Bukan berarti tak tau berterima kasih dengan pemerintah. Tapi demokrasi mengakomodasi hal tersebut. Dan bukan suatu yang dilarang.

Bukan juga jika tak menyetujui hal tertentu berarti berpihak, mungkin saja ada beberapa yang masih perlu diperbaiki hingga dapat berujung sama-sama setuju. Berdebat tak menyelesaikan masalah, tapi akan selesai dengan jalan musyawarah.

Jika agama tak mampu menjadi harmoni, cukup kembalikan status kita sebagai manusia yang punya nurani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s