Pakai Macbook

Sejak SMP saya belum pernah punya laptop sendiri. Ketika temen sekelas sudah boyong laptop kemana-mana saat ada tugas sekolah, saya cuma bisa mengandalkan komputer di rumah atau nebeng laptop temen.

Dari laptop satu ke laptop lainnya, pengalaman saya ya begitu-begitu saja. Dengan tampilan Windows yang sudah sangat familiar. Karena alasan tampilan yang begitu-begitu saja, saya selalu urung untuk berniat memiliki laptop sendiri. Toh kalau bisa pinjam, kenapa harus beli?

Sudah hampir semua merek laptop berbasis Windows pernah saya coba. Dari punya temen, punya ibu, punya adik, sampai punya kepala kantor. Dari axioo, acer, hp, vaio, lenovo, ASUS, Toshiba, Samsung, apa lagi ya? Kurang lebih tampilannya begitu-begitu saja kan? Karena basis sistem operasinya memang sama semua.

Ada satu merek yang belum saya sebut di atas, Apple.

Pertemuan pertama saya dengan produk laptop Apple, Macbook, adalah di hari-hari Pakde saya mudik lebaran. Beliau yang sedari lama adalah pengguna MacBook, tak pernah melewatkan membawa MacBooknya untuk menemani menyelesaikan gawean sekalipun saat mudik lebaran.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia atau bahkan dunia, punya produk Apple adalah sebuah prestige sendiri. Karena kualitasnya yang tak main-main dengan bandrol harga yang langsung bikin jatuh kere, apalagi untuk yang berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini.

Macbook 256 GB saya ini adalah produk keluaran akhir 2013 yang baru saya punyai di pertengahan 2017 ketika hendak kuliah. Waktu itu saya sudah ingin punya Macbook dari setahun sebelumnya, tapi dana yang ada masih terpakai untuk keperluan yang lain. Keinginan untuk punya Macbbook semakin bertambah karena saya tak kunjung punya laptop saat akan kuliah. Laptop selain Macbook sudah tak masuk to-buy list saya. Daripada memaksakan membeli barang yang tak saya suka, lebih baik saya tak punya.

Tapi untunglah, berkat rekomendasi beberapa teman, saya menemukan satu akun Instagram @sediamac yang berbasis di Kota Jogja. Akun tersebut menjual pelbagai produk Apple, utamanya Macbook dan iMac. Produk-produk tersebut ada yang dijual dalam kondisi baru, ada juga dalam kondisi masih layak pakai dengan bervariasi harga. Jika saya beli baru di tokonya, selisih harga bisa sampai lebih dari 5 juta. Toh produk yang di jual di akun tersebut sudah melewati serangkaian pemeriksaan perangkat keras dan lunaknya oleh si empunya akun.

Macbook yang saya pilih adalah Macbook Pro, bukan Macbook Air. Alasannya sederhana, karena saya tak suka bentuk dan desain Macbook Air. MacBook Air itu secara bobot memang lebih ringan. Namun untuk perkara kinerja laptop, MacBook Pro lebih unggul dalam penggunaannya untuk desain dan menjalankan aplikasi berat ketimbang Air.

Walaupun saya sudah sering sekali membuka video-video ulasan tentang Macbook dan berbagai cara mengoperasikannya, ketika benar-benar saya gunakan langsung, rasanya memang beda. Sehari pertama saya masih bingung bagaimana mengoperasikannya.

Lama kelamaan karena sering digunakan, akhirnya saya pun paham juga cara kerjanya. Ternyata memang lebih mudah ketimbang mengoperasikan Windows. Semua pengaturan dikondisikan semudah mungkin untuk diakses dan malah dapat dikustomisasi sendiri. Jadi lebih berasa eksklusif dan memanjakan.

Tampilan layar yang super jernih dan buat mata tak mudah lelah jadi nilai plus. Apalagi bagi saya yang mendewakan tampilan. Hasil-hasil foto yang saya ambil seakan nyata dan enak dipandang. Nonton film pun enak juga. Hobi koleksi wallpaper desktop pun semakin semarak. Walaupun wallpaper yang kita pasang di Macbook tak bisa sering-sering kita tengok karena layar sudah penuh sesak dengan rentetan jendela macam-macam aplikasi.

Nah jendela yang terbuka semua di tampilan desktop itu menunjukkan kehebohan MacBook dalam multitasking. Kita tinggal geser touchpad ke sana ke mari, aplikasi yang memang tak kita tutup sedari awal, langsung bisa diakses.

Touchpad dengan beragam fitur, bisa zoom in-out, drag sana-sini, scroll up-down, semua kebutuhan mouse manual sudah tercakup maksimal di touchpad Macbook tanpa harus ditekan “tek”. Keyboard juga terasa nyaman untuk ditekan-tekan.

Kinerja operasi yang handal, lancar, gesit, dan halus juga jadi keciamikan sendiri yang dirasakan bagi Macbook user. Pehobi editing gambar maupun video dengan macam-macam aplikasi berat rasanya sangat nyaman dioperasikan.

Yang beda lagi dari laptop biasa, Macbook ini bisa juga kita anggap hanya sebagai CPU. Jadi Macbook yang kita sambungkan ke layar TV dengan kabel HDMI, walaupun dalam keadaan Macbook tertutup, tampilannya akan teralih ke layar TV dan kita pun masih bisa mengoperasikannya dengan tambahan keyboard dan mouse nirkabel. Cara itu sering digunakan bagi mereka yang mengidam-idamkan punya tampilan super lebar, bisa untuk keperluan nonton film atau pekerjaan sehari-hari biasa.

Masih banyak lagi kecanggihan Macbook ini. Harga yang tak murah sepadan dengan fitur-fitur yang dimiliki. Pengalaman pertama saya menggunakan Macbook bekas ini malah semakin membuat saya gatal untuk beli saja yang barunya saat sudah punya rejeki nanti.

3 tanggapan untuk “Pakai Macbook

Tinggalkan Balasan ke Ammar Faiz Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s