Kakak Asuh

Berawal dari ajakan Mas Kadek, ketua kelas saya semester III, untuk menggalang dana pasca mendapat rezeki tambahan dari kantor. Dia pun mempekenalkan saya kepada sebuah komunitas sosial di kampus yakni, Program Kakak Asuh (PKA).

PKA adalah komunitas sosial internal kampus yang memiliki tugas untuk mengelola dana donasi yang didapat dari donatur (mayoritas alumni STAN) untuk disalurkan ke Mahasiswa/i STAN kurang mampu, semacam scholarship gitu. Tapi fokus untuk membiayai di sektor domestik mereka. Selain itu, PKA juga melakukan pembinaan kepada para mahasiswa tersebut yang PKA sapa dengan “Adik Asuh” agar bisa mandiri, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial juga nantinya.

Waktu itu kami bisa mengumpulkan dana sekitar 3 juta, karena memang hanya satu kelas yang berpartisipasi. Di kesempatan kedua, penggalangan dana mencapai belasan juta karena rekan-rekan yang lain turut serta.

Dari interaksi-interaksi itu, akhirnya datang tawaran dari Bang Toto, Ketua PKA, untuk mengajak saya bergabung di kepengurusan yang baru. Saya tidak tahu apakah Bang Toto juga menawarkan hal serupa kepada Mas Kadek. Saya ditawarkan sebuah posisi strategis meski belum tau posisi apa. Tapi bagi saya, ini adalah sebuah tantangan sendiri. Karena sebelum-sebelumnya saya belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Bukannya yang antisosial-antisosial-club, tapi menjadi orang yang peduli dengan sesama, tak banyak orang punya. Termasuk saya dulu.

Selang beberapa hari, Bang Toto pun memberi tahu saya, bahwa saya akan diamanahi sebagai Kadiv Penerimaan Donasi. Waduh. Karena setau saya, di PKA juga ada Divisi  Humas, Publikasi, dan Dokumentasi, dimana saya biasa berkecimpung. Saya iyakan saja dulu. Ini tantangan baru, juga kesempatan baru. Bagaimana nanti? Ya kita bismillah saja.

Secara singkat, Bang Zemy, kadiv di periode sebelumnya, menjelaskan bahwa tugas utama divisi ini adalah menggalang dana dan mencari donatur baru. Intinya itu. Bagaimana cara mendapatkannya, tentu disesuaikan dengan kreativitas pengurus. Tantangan yang baru lagi bagi saya. Belum pernah seumur-umur “memprospek” atau cari-cari orang untuk turun gunung. Apalagi buat keluarin duit, pasti beberapa juga sensitif dan tak acuh. Tapi tetap harus dicoba dan dilaksanakan dengan baik.

Sudah jadi rahasia umum bahwa magnet berkuliah di STAN adalah karena kuliahnya yang gratis dan jaminan jadi PNS. Orang tua ngga perlu risau bayar UKT, atau uang-uang apa, cukup modalin anaknya buat bertahan hidup selama di Bintaro.

Faktanya, hingga sekarang masih ada mahasiswa/i STAN yang untuk berkuliah di STAN, mereka menerima uang saku tak lebih dari 200 ribu sebulan dari orang tuanya. Ada juga orang tua mereka yang harus berutang ke sanak saudaranya karena anak yang harus dibiayai bukan hanya anaknya yang berkuliah di STAN. Bahkan belakangan ada juga yang bercerita bahwa orang tuanya harus menjual hewan ternaknya agar bisa memberangkatkan anaknya berkuliah. Di cerita yang lain, untuk berangkat melakukan daftar ulang saja tak ada biayanya.

Saya jadi ingat dulu, saat kuliah diploma I di 2013, untuk tambah-tambah uang saku, saya sempat berjualan pulsa dan risol monster (ngga tau sekarang abang-abang pemasoknya masih jualan atau nggak). Walau lingkupnya hanya di kelas, tapi hasilnya lumayan untuk beberapa kali makan. Kalo tidak salah ingat, sepertinya cukup banyak yang kala itu menjual risol monster. Bukan buat pendaan kegiatan seperti belakangan ini, tapi memang untuk jadi tambahan uang sendiri.

Singkat cerita, dengan berbagai latar belakang itu, membuat saya akhirnya meng-iya-kan untuk bergabung di PKA. Satu sisi, saya ingin memposisikan diri sebagai mahasiswa kurang mampu, saya tak mau karena kondisi finansial yang tidak mendukung, lantas membuat perkuliahan saya terganggu. Di sisi lain, saya juga ingin memposisikan sebagai donatur, yang ingin dana donasi yang saya salurkan dapat digunakan tepat sasaran dan pelayanan Pengurus PKA ke para donatur dilakukan dengan baik. Dan di tengah kedua sisi itu, PKA jadi wadahnya.

Komunitas sosial ini tak mau mengajarkan mereka-mereka (para Adik Asuh) untuk memelas kasih agar ditolong, tapi komunitas ini mengajarkan mereka-mereka (para calon Kakak Asuh/donatur) yang juga berarti kakak tingkat Adik Asuh untuk mau berbagi dan peduli.

Memang, peduli tak harus dengan berdonasi lalu mengeluarkan sejumlah uang, tapi untuk lingkungan almamater sendiri, uang sangat dibutuhkan bagi adik-adik mahasiswa yang berkekurangan.

Dalam menyeleksi calon adik asuh baru, beberapa persyaratan dokumen yang kami minta di antaranya adalah Surat Keterangan Tidak Mampu, slip gaji orang tua, rekening listrik, foto rumah dan lingkungan rumah, dan esai. Esai ini berisikan deskripsi kondisi existing pendaftar, mulai dari jumlah saudara, pekerjaan orang tua, pembiayaan sehari-hari, kondisi lingkungan hingga prestasi-prestasi yang pernah diraih semasa SMA.

Dari tahun ke tahun, jumlah pelamar adik asuh meningkat dengan jumlah yang cukup besar. Untuk tahun ini saja (2018), pendaftar hampir 300 mahasiswa banyaknya. Padahal slot yang dapat kami bina selama setahun tak lebih dari 18% nya. Terlepas dari bagaimana kondisi mereka sesungguhnya, nyatanya yang merasa kurang mampu dan butuh untuk ditolong tak sedikit. Pun dana yang dibutuhkan bisa mencapai 200-400 juta setahun.

Mayoritas atau bahkan hampir semua dari pelamar adalah para mahasiswa baru. Mereka-mereka yang bisa jadi kaget dengan ketimpangan biaya hidup antara di daerah asalnya dengan di Bintaro. Yang di daerah asalnya nasi sebungkus harga 5 ribu sudah cukup, kali ini mereka bisa jadi tak kenyang-kenyang dan minim lauk jika makan dengan sebungkus harga yang sama.

Di PKA, tak selamanya mereka mendapat Dana Bantuan Hidup atau beasiswa. Adik Asuh hanya menerima selama setahun, dengan harapan selama masa pembinaan tersebut, mereka dapat menemukan “metode” baru untuk melanjutkan hidup di tahun-tahun berikutnya. Bisa dengan mengajar privat atau bimbel sebagaimana banyak Mahasiswa STAN sejak dahulu melakukannya, entah mata pelajaran atau guru mengaji, bisa dengan membuka usaha, atau juga dengan cara-cara lain yang potensial untuk dijadikan objek penambah uang saku. Ibarat pesawat, tugas kami yakni agar mereka-mereka bisa soft landing di bandara bernama Bintaro.

Bukan berarti karena sejak lama mahasiswa STAN terbukti tahan guncangan ekonomi lantas membiarkan adik-adik tingkatnya “terlantar” seolah tak ada yang peduli dan bisa menolong. Tapi marilah kita bersama-sama mengubah sikap untuk mau berbagi dengan para adik-adik yang kurang mampu. Jika ada yang beranggapan mahasiswa STAN sekarang sudah kaya-kaya, itu yang kaya dan alhamdulillah juga jika memang sudah mampu dari sananya. Namun ada juga lainnya yang tak seberuntung itu.

Ada mahasiswa/i STAN yang ngga tahu mau mencari pertolongan kemana, ada kakak-kakak alumni yang ngga tahu mau kasih pertolongan kemana. Harapannya di PKA mereka bisa bertemu.


Kak, mari bergabung di PKA, ikut serta jadi bagian donatur PKA supaya semakin banyak mahasiswa yang mendapat manfaat dan merasakan kasih sayang yang nyata dari kakak-kakak tingkatnya. Karena dengan langkah ini, mereka pun akhirnya dapat lebih mudah menjalani perkuliahan dan terpatri dalam dirinya untuk juga membantu adik tingkatnya saat sudah bekerja nanti. Dan ini akan menjadi siklus atau mata rantai yang tak akan terputus hingga kapanpun.

Untuk Kakak-kakak yang ingin berdonasi, dapat mendaftar melalui link Pendaftaran Donatur PKA. Kakak dapat berdonasi secara rutin per bulan maupun insidental saja. Dengan hanya 10 ribu, Kakak sudah bisa berdonasi. Namun jika ingin lebih dari itu, tentu lebih bagus. Kami menyediakan pilihan: 50.000, 100.000, 150.000, 250.000, dan nominal yang dapat Kakak sesuaikan sendiri.

Jangan ragu untuk berdonasi, karena setiap bulannya kami juga akan memberikan pertanggungjawaban penggunaan anggaran dan dokumentasi aktivitas apa saja yang kami lakukan.

Informasi lebih lanjut dapat mengakses instagram PKA PKN STAN atau hubungi saya saja.

Foto: Dok. PKA

Satu tanggapan untuk “Kakak Asuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s