Mari

Pertama, seperti halnya tulisan-tulisan di blog lain yang telah lama ditinggal pergi empunya, izinkan saya memulai dengan: duh, udah lama ga nulis ges. monmaap, baru resah dan gelisah~

Kedua, izinkan saya di tulisan kali ini untuk mengubah mode “saya” menjadi “gue” yang bertujuan untuk agar supaya bisa jadi lebih ringan untuk dibaca.

Apakah harus gue mulai dengan awalan: dewasa ini? Hfft~


Seperti halnya Gamaliel dan Audrey Tapiheru yang entah bagaimana ceritanya tanggal unggahan cover lagu A Whole New World versi mereka bisa sama dengan tanggal rilis film Aladdin terbaru di sepuluh tahun berikutnya. Maka tulisan kali ini bisa jadi adalah babak dua dari tulisan sebelumnya (baca di situ) yang dibuat tepat satu tahun lebih satu hari yang lalu. wow, edun.

Menjadi manusia bumi pertiwi di belakangan ini rupanya agak engap-engapan. Tak hanya karena pernapasan yang mulai terganggu dengan polusi udara berkat lestarinya lalu lintas angkutan orang dan barang, tapi juga polusi sosial media. Terima kasih gue ucapkan kepada Twitter yang tak sengaja gue buka di Jumat pagi-pagi buta setelah menyantap sahur segelas air putih. Berkat Anda, Twitter, gue punya gairah lagi buat nulis. Walaupun secara fakta, gue cuma buka twitter semenit. Tapi mungkin itulah yang dinamakan suka menghakimi padahal belum tabayyun. Yha~

Lalu, apa isi twitter tersebut di atas?

Sebelum ke twitter, mungkin gue mau cerita dulu bahwa di tahun yang pedas-pedas mantap berkeringat segede biji jagung manis ini a.k.a. tahun politik, gue berusaha dengan sekuat dan sekeras-kerasnya buat nggak nonton berita politik. Mengapa demikian adanya? Karena sejujurnya gue enek. Semua tahu bahwa politik bisa mengubaha lawan jadi kawan dan sebaliknya. Udah tahu kaya gitu, tetep aja diladenin dan dibikin asyik. Ketika gue masih nyari asyiknya dimana. Di politik, ngga ada yang selamanya. Apapun itu, selalu ada udang di balik batu. Ada kepentingan ini-itu yang bisa jadi kita nangkepnya A, padahal mereka punya maksud B. Ya pokoknya gitu lah.

Yang paling gue empet adalah bagaimana orang bisa sebegitu cinta buta, cinta mati, cinta mati II, dan cinta mati III kepada salah satu di antara junjungan yang tersedia. Ketika lo di sisi X, lo anggep X sempurna dan Y cacatnya naudzubillah. Dan sebaliknya. Gontok-gontokan, baxot-baxotan, semua ada. Oh men~ ngapain? Kita nggak lagi pemilihan tuhan ges. Tiap junjungan punya sisi positif dan negatifnya. Perkara sudut pandang kita yang berbeda, ya mau sampai kapan dipaksa?

Kembali ke twitter, isi twitter dalam semenit geser atas-bawah adalah reportase ringkas atas kejadian di beberapa hari lalu: aksi damai yang berujung ricuh di pusat tata nusantara. Akan menjadi biasa saja jika kita selaku netizen hanya membaca atau menontonnya saja. Tapi sayangnya kita bukan netizen yang dimaksud. Doi adalah netizen yang aktif, reaktif, mahadaya cinta dan benci menjadi satu. Kolom komentarnya begitu nyata, mencengangkan. Mungkin bisa jadi baxotannya lebih ricuh daripada aksinya itu sendiri.

Seharusnya, aksi dua dua Mei ini tak perlu terjadi jika saja pasangan calon yang kalah dalam pemilihan presiden dapat lebih tegas untuk menentukan sikap. Di Negara kita yang sama-sama kita cintai dan kita miliki ini, proses ketidaksetujuan pasangan atas hasil pemilihan sudah diatur dalam undang-undang yakni dapat diajukan kepada Mahkamah Konstitusi. Prosedurnya sudah disediakan.

Berkumpulnya masa sebegitu banyak, dimana mayoritas adalah mereka-mereka berpakaian muslim, hanya akan memperkeruh suasana. Bolehlah aksi damai dilakukan. Tapi hadirnya orang-orang yang entah dari mana yang juga berpakaian sama dengan peserta aksi, bisa menjadi celah merusak citra lainnya. Gue sendiri sedih banget ketika mereka-mereka yang juga seagama dengan gue, dicap sebagai tukang demo, tukang rusuh, tukang segala jenis tukang lainnya. Kalau mereka ada yang nggak seagama dengan gue, seenggaknya mereka juga saudara-saudara gue sebangsa. Gue sedih kenapa saudara sendiri dihujat.

Beberapa komentar di sekitar gue yang level pedesnya paling cemen: “Lagian ngapain juga mereka demo-demo, udah tau ini, udah tau itu, bla bla bla”. Kita balik lagi bahwa sudut pandang orang tuh beda-beda. Selama memang masih dikasih kesempatan untuk menyuarakan aksi, kenapa nggak. A setuju, belum tentu B setuju. Belum lagi C, D, E, dst. Kita semua punya hak untuk bersuara, sama dengan para komentator yang berhak juga untuk berkomentar apapun yang ia suka tentang peristiwa itu.

Yang semakin bikin gue sedih, ketika kita sesama umat beragama, sesama anak bangsa, saling melukai. Gue pernah berpikiran bahwa ribut-ribut di media sosial sebenarnya bukan hanya ada sejak era digital ini. Tapi sejak jaman dulu pun sebenarnya udah ada. Bedanya hanya di media yang digunakan. Ribut-ribut versi dulu mungkin selintas dari mulut ke mulut atau dari warung kopi satu ke warung kopi dua. Dimana penyebaran keributannya terbilang terbatas, tidak semasif sekarang. Kalau sekarang, keributan langsung bisa kita akses dengan mudah melalui pelbagai aplikasi media sosial. Semua baxotan-baxotan dari Sabang sampai Merauka berkumpul jadi satu. Belum lagi grup keluarga, yha~ (sungkem dulu)

Tentang fasilitas yang terrusak, gangguan lalu lintas, sosial media yang dibatasi penggunaanya dalam tiga hari ini (yang sangat amat bikin gue bete setigaharian padahal kuota gue penuh, yha~), itu adalah akibat dari adanya oknum yang merusuh aksi damai. Dimana bisa jadi tidak akan terjadi rusuh jika tidak ada aksi. Dimana tidak akan ada baxotan juga jika tidak ada aksi. Dimana tidak akan ada aksi jika pasangan calonnya dapat menentukan sikap sedini mungkin untuk meminimalisasi berkumpulnya masa.

Jika kita sepakat bahwa Negara kita adalah negara hukum, dimana semuanya sudah diatur dan kita yakini bahwa alat-alat negara berjalan sebagaimana diamanahkan. Maka jalan satu-satunya adalah lalui dengan seksama jalur yang telah tersedia. Kita sudah berada di 2019, republik akan berulang tahun yang ke-74, masyarakat pun berpendidikan jauh lebih baik ketimbang jaman tanam paksa, maka akan sangat indah ketika perselisihan dapat diselesaikan dengan jalur yang baik.

Gue kecil tumbuh di lingkungan yang bisa dikatakan ‘homogen’. Pas gue kuliah, lingkungan gue berubah jadi lingkungan yang lebih ‘heterogen’. Pas gue kerja, gue malah sempet ngerasa gue adalah minoritas. Di situ lah titik awal gue belajar banyak tentang gimana caranya memperlakukan orang, adjust dengan orang, memposisikan diri, menjaga sikap, menjaga hati jangan kau kotori. Cukup banyak hal yang membuat gue sadar bahwa kita ngga bisa jadi dominan di setiap kondisi. Ada orang-orang yang harus kita perlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan andaikata kita menjadi mereka.

Kita saudara. Jika bukan seagama, kita masih sebangsa. Jika bukan sebangsa, kita masih sama-sama manusia. Sedih nggak sih kalo kita mewariskan sejarah yang kurang delicious ke anak-cucu kita? Sampai kapan kita doyan mencaci-maki? Bukankah akan lebih mantappu jika bisa disikapi dengan lebih baik? Seperti menahan diri untuk tidak berkomentar mungkin? Atau kalau memang mau berkomentar, bisa disaring-saring dulu mungkin? Ingatlah wahai manusya, kita adalah orang Indonesia, kita berpendidikan, kita kvvl, jangan panaskan air mendidih, lebih baik kita dinginkan ager-ager baru mateng.

Gue ngga maksa lo buat mau, tapi mari kita coba ciptakan damai dari diri sendiri. Kurangi ego pribadi, kita utamakan kepentingan yang lebih besar. Indonesiamu, juga Indonesiaku. Kita berpijak di Indonesia yang sama.

“Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu. Hanya pada-Mu Tuhan, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia.”

 


Mbok ya nulis KTTA tuh sesemangat nulis blog gitu lho~ dasar aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s