Kamu Terlalu Banyak Berpikir

Dulu, saya adalah seorang pemikir. Apapun saya pikirkan hingga untuk tidur nyenyak pada malam hari pun sulit. Kira-kira sedari SMP saya sudah begitu. Yang saya lakukan malam-malam adalah merancang ide, membangun tapak demi tapak, bata demi bata, gagasan hingga ke celahnya. Malam itu seakan tiada ada hari esok, tiada waktu lagi untuk memikirkannya, hingga tentu saja saya lelah sendiri. Terlebih posisi tubuh saya memang sudah di atas kasur bersiap untuk tidur.

Sempat saya bertekad jika sengaja ataupun tidak sengaja bertemu dengan psikolog atau psikiater, saya akan menanyakan perihal kebiasaan saya itu. Tapi toh hingga lebih dari 12 tahun berselang, saya belum sempat bertemu dan bertanya.

Ide yang saya rancang seumpama membangun candi semalaman, memang di kemudian hari jarang yang kejadian. Sungguh kebiasaan yang bermanfaat dan tidak menguras tenaga, bukan? Beberapa alasan mengapa bisa begitu karena terkadang imajinasi saya terlewat liar, pihak yang diharapkan dapat mendukung ternyata berkebalikan atau berhalangan, dan karena tidak jadi saja.

Entah siapa yang merasukiku~

Pun demikian bukan yang setiap malam saya seperti itu. Hanya di waktu-waktu tertentu saja saya begitu excited, begitu membara, bergelora akan sebuah konsep. Kebanyakan tentang sebuah event. Lain itu, saya pasti tidur-tidur saja, walaupun tetap tidur lewat larut malam.

Semasa kuliah lalu, saya mulai bisa mengontrol apa yang perlu dan tidak perlu untuk banyak dipikirkan. Utamanya agar tidak merepotkan diri saya sendiri. Itu pun karena ada beberapa hal eksternal yang ternyata banyak membantu.

Namun kebanyakan karena apa yang sudah sedemikian rupa saya pikirkan, ternyata memang tidak bisa seperti itu untuk dilakukan. Sering dimentahkan atau minimal cukup dengan tidak diacuhkan. Sedang saya bukanlah tipe orang yang berpendirian kuat, cenderung mengalah. Sudah pasti muaranya adalah meletakkan gagasan sendiri pada ruang arsip pribadi terdalam. Sempat sekali dua kali saya berusaha mempertahankan rencana saya, tapi pada akhirnya saya sendiri yang tak enak hati.

Pada lain cerita, saya memiliki beberapa tim yang memang khusus untuk membahas agenda tertentu. Dengan cara ini, saya cukup memberikan gambaran umumnya saja, hal mendetil dan teknis lainnya saya serahkan kepada tim. Ketika memang berbeda gagasan di antara saya dan anggota tim, saya lebih memilih untuk mendukung saja. Karena saya merasa anggota tim lebih tau yang terbaik dari pada saya. Pun ini juga memberikan mereka ruang untuk menggagas dan mengembangkan ide.

Menjadi seorang yang terlalu banyak berpikir bisa jadi nampak seperti lamban mengambil keputusan, terlalu banyak pertimbangan, atau justru sedang memendam kekhawatiran. Namun ketika ia diberi ruang dan kesempatan, bukan tidak mungkin akan ada hal baru tercipta atau karya yang belum terbayang oleh lainnya.

Di dua tahun ini, sudah cukup tinggi tumpukan kecewa dan sedih saya atas penolakan atau bantahan. Pun tidak ingin saya menambahnya menjadi semakin tinggi. “Perlakukan orang lain seperti kau ingin diperlakukan.” Hingga saat ini saya terus mencoba untuk menghargai pendapat, ide, gagasan orang lain. Sekalipun berbeda atau bahkan berlawanan, saya mencoba menyampaikannya dengan cara yang lebih baik. Tidak dengan nada tinggi atau justifikasi seolah-olah idenya jelek benar.

Saya yang sekarang adalah orang yang mengurangi porsi berpikir. Terlebih jika sebuah agenda dipegang oleh beberapa orang. Sudah pasti tiap kepala sudah menyiapkan amunisinya masing-masing. Peran saya di dalamnya adalah mendengar, kadang merajut ide satu dengan yang lain, jika perlu membumbuhi, dan hanya bisa mendukung. Saya sudah tidak berselera lagi untuk merancang semuanya dari nol. Hingga saya perlahan memilih menarik diri untuk terlibat dalam rancang-merancang. Jika tidak sedang terpaksa.

Saya berkeyakinan bahwa tidak ada yang salah dengan ide, bisa saja hanya karena berbeda sudut pandang dan alasan. Meski demikian, kita juga tetap harus terbuka akan masukan. Apa yang kita anggap benar, belum tentu sama dengan apa yang orang lain anggap, dan sebaliknya. Kita hanya perlu mencari titik temunya. Menimbang ide mana yang paling baik dan dapat diterima.

Karena, tidak ada orang yang kecewa karena ia didukung orang lain.

Satu tanggapan untuk “Kamu Terlalu Banyak Berpikir

  1. Ping-balik: Kkktto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s