Ketika Nanti Ku Bertemu

Terima kasih sudah mau menerima saya untuk berkunjung ke rumah, Pak, Bu. Sudah lama saya ngga ke rumah lagi, mungkin dua tahun lebih. Semoga Bapak Ibu sehat-sehat.

Mungkin saya mau cerita atau memberikan penjelasan kepada Bapak Ibu. Jadi per September 2017 lalu, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan saya dengan putri Ibu. Saya ingat di lebaran 2017, pada saat saya mampir ke sini, Ibu sempat meminta kepastian hubungan kami kepada saya. Ibu tahu kami sudah saling kenal sejak lama, sejak SMP, SD bahkan. Tapi pada saat itu saya masih belum bisa menjawab karena saya juga masih menunggu kepastian hidup saya ini. Saya masih bekerja di Medan kala itu dan masih menunggu dengan harap-cemas hasil pengumuman pendaftaran studi lanjutan saya. Bagaimana bisa saya menjawab kepastian, ketika saya saja tidak pasti. Saya tidak ingin memberi harapan, ketika saya saja tak mampu untuk berharap.

Di Agustus 2017, Alhamdulillah saya dinyatakan lolos untuk melanjutkan kuliah. Sudah pasti akan menjadi batu loncatan yang baik bagi perjalanan karier saya ke depan. Namun, setelah sebulan saya memulai kuliah, akhirnya saya mulai berhitung. Hidup di kota besar seperti Jakarta sungguh tak mudah. Kemacetan, harga kebutuhan hidup mahal, dsb. Terlebih penghasilan bulanan saya juga dipotong sebagai kompensasi saya menjalani tugas belajar. Masa-masa yang tidak terlalu mudah untuk dijalani, jujur saja.

Singkatnya, saya tetap belum bisa memberi kepastian. Karena dalam jangka 1-2 tahun atau selama saya kuliah, masih belum jelas kondisi saya akan seperti apa nantinya. Khawatirnya jika memutuskan menikah atau tetap melanjutkan hubungan, mungkin malah membuat saya tidak fokus kuliah atau terjadi konflik-konflik kecil karena saya tak kunjung memberi kepastian. Dan rasa-rasanya saya tidak bisa dihantui oleh perasaan ditunggu-tunggu oleh seseorang. Di sisi lain saya juga tidak bisa menggantung hubungan kami dengan ketidakpastian. Apalagi jika dilihat dari kondisi ekonomi saya waktu itu, rasanya berat juga. Selain harus stand by jika sewaktu-waktu keluarga sedang membutuhkan apa atau saya sedang membutuhkan apa. Kondisi-kondisi mendadak yang sebisa mungkin harus bisa saya antisipasi. Rasanya akan berat saya jalani jika sudah harus hidup berdua. Bukan saya tak cinta, tapi kondisi yang memaksa demikian.

Sepulang kuliah saat itu, saya menelpon putri Ibu, di sambungan telepon saya bilang, “Saya minta maaf sepertinya kita sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita lebih jauh. Kalau memang kita berjodoh, mungkin suatu saat akan dipertemukan kembali. Kalau mungkin kamu tetep ingin menikah di selama saya kuliah, itu berarti bukan menikah dengan saya. Tapi saya juga masih belum bisa memberi kepastian kapan saya bisa membawa hubungan ini ke arah yang lebih serius.” kira-kira seperti itu jika saya tidak salah ingat.

Sengaja saya tak jelaskan panjang lebar apa alasannya. Karena memang alasan-alasan yang saya punya hanyalah bulir-bulir kekhawatiran atau ketakutan yang bisa saja terjadi dan bisa juga tidak. Tapi tetap tak saya sebut satu pun. Sebuah keputusan yang berat tapi saya harap adalah keputusan yang baik untuk kami berdua. Walau malam itu sepertinya tidak.

Waktu berlalu, sebulan, dua bulan, satu tahun, menjelang dua tahun.

Ternyata yang saya takutkan benar terjadi. Entah bagaimana ceritanya, saya dipercaya untuk menjadi ketua senat angkatan. Otomatis energi saya banyak habis di sana. Belum lagi saya dilibatkan dalam beberapa kepanitiaan di dalam kampus, dari mulai kemahasiswaan sampai akademis. Ada juga beberapa organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang saya concern di dalamnya. Salah satunya sebuah program yang membantu meringankan beban keuangan mahasiswa STAN kurang mampu. Alhamdulillah saya diberi kesempatan dalam membesarkan program tersebut. Praktis selama dua tahun kuliah, saya sudah tidak bisa memikirkan kepentingan saya sendiri apa, apa yang saya suka, apa yang saya butuh, atau apapun itu. Satu selesai, masuk lagi satu yang baru. Sering pulang malam karena rapat ini, rapat itu. Sempat dikira tak selera dengan perempuan karena saking jauh-jauhnya dengan urusan percintaan. Hingga kuliah pun saya lakukan sekadarnya saja. Saya sudah seperti auto-pilot.

Tapi di sela-sela aktivitas saya selama dua tahun itu, bukannya saya tidak memikirkan putri Bapak. Terkadang ketika saya sedang senggang atau di malam-malam hari ketika saya tidak begitu lelah, kenangan-kenangan bersama putri Bapak sering terlintas. Lantas bukannya saya membuka laman sosial medianya, tapi saya cerita ke adik saya. Setiap kali saya ingat, setiap kali itu juga saya cerita. Bukannya langsung membuka chat atau berusaha menghubunginya, tapi saya lebih memilih untuk memendamnya saja. Saya merasa sudah terlalu dalam saya melukainya. Datang sesukanya, pergi seenaknya. Satu sisi saya ada rasa rindu, satu sisi lain saya juga merasa begitu bersalah. Jika saya datang hanya karena rindu dan berlalu, bejat juga saya.

Hingga akhirnya di penghujung kuliah, kegiatan saya sudah mulai berangsur turun intensitasnya. Bayangan-bayangan akan seperti apa masa depan saya kelak pun turut meriuhkan pikiran saya. Membayangkan harus menjalin hubungan baru dengan orang lain, di saat saya sendiri seperti belum selesai dengan urusan asmara saya di masa lalu. Perasaan membanding-bandingkan yang tak pernah berhasil dihalau. Dan ketidakmampuan diri saya untuk berpaling dari putri Bapak. Membuat saya memberanikan diri untuk menelpon putri Bapak kembali di bulan Agustus 2019 lalu. Bukan yang mudah menyiapkan diri. Bagaimana mungkin orang yang begitu tega meninggalkan, lalu meminta kembali. Itulah saya.

Sore itu saya sedang di jalan bersiap menonton konser di Istora Senayan. Saya sudah berencana sepulangnya dari konser, saya akan menginap di apartmen seorang teman. Lalu keesokan paginya, saya akan menghampiri putri Bapak ke kota sebelah. Tapi ternyata takdir berkata lain, putri Bapak sedang pulang, berkumpul, berjumpa dengan Bapak-Ibu di rumah. Terpaksa telpon dadakan itu hanya berisi janji, janji akan bertemu di minggu depan, sepulang putri Bapak dari rumah. Malam itu saya tetap menginap di apartmen teman saya dan keesokan paginya langsung pulang ke kosan tak bergairah.

Seminggu berselang, berat juga mempertahankan api untuk berkobar selama seminggu ini. Sebelum saya berangkat, saya telpon Ibu saya, mengabarkan bahwa saya akan bertemu lagi dengan putri Bapak. Satu kalimat yang saya ingat dari Ibu, “Emang dia ngga nesu? (Memangnya dia nggak marah?)” Saya jawab, saya nggak tahu, kan belum ketemu. “Yaudah, hati-hati.” singkatnya.

Saya berangkat ke kota sebelah pagi-pagi. Tak banyak chat yang saya balas atau kami lakukan. Saya lebih memilih untuk menelpon agar terkesan lebih formal dan berani. Saya tiba di kota sebelah jam 10-an pagi. Sesampainya di depo travel, saya membeli seporsi cenil dan saya santap di taman yang searah dengan tempat kami berjanji untuk bertemu. Kami berjanji bertemu di rumah makan “semua bisa kamu makan” di jam makan siang. Ternyata cenil tak cukup membunuh waktu.  Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke kedai salat sayur dan buah. Saya memesan seporsi smoothies sambil menyelesaikan desain majalah bulanan unit kegiatan mahasiswa tempat saya bernaung.

Menjelang jam makan siang, saya menyegera tiba di lokasi. Dari depo travel, ke taman, ke kedai salat, dan sampai di rumah makan, saya lakukan dengan jalan kaki untuk mendapat efek dramatis dan tentu membunuh waktu. Ternyata deg-degan juga untuk bertemu lagi selama dua tahun tidak menjalin komunikasi. Putri Bapak tiba agak terlambat, tapi toh tidak saya setrap. Saya buka pembicaraan dengan menanyakan kabar Bapak-Ibu, alhamdulillah sehat-sehat. Aktivitasnya selama ini ternyata ia sedang bekerja di perusahaan mode. Saya bercerita kesibukan saya itu tadi. Saya kagum juga, waktu dua tahun ternyata kami gunakan dengan sangat baik. Tidak hanya rebahan atau berkeluh kesah di dunia maya, tapi dengan aktivitas-aktivitas pengembangan diri. Lalu mulailah ke topik utamanya, kenapa pertemuan ini terjadi dan setelah ini apa lagi. “Kalau kamu nggak jelas akan membawa hubungan kita kemana, maaf aku nggak bisa.” Putri Bapak preman juga, ya. Dengan gugup saya jelaskan alasan mengapa saya memutuskan meninggalkannya. Kemudian karena ditodong pertanyaan seperti itu, saya paparkan rencana singkat saya ke depan, rencana menikah, dsb.. Itu rasanya seperti langsung banting setir saja. Memang saya sempat memikirkan, tapi tidak secepat itu harus saya sampaikan. Tapi toh bubur telah menjadi ayam.

Ia bercerita juga bahwa selama ia di rumah, ia sempat bercerita ke Ibu, berusaha mengantisipasi pembicaraan seperti apa yang akan saya bawa. Obrolan-obrolan ringan yang mencoba menerka-nerka jawaban apa yang pas untuk diberikan kepada saya. Lain itu, ia juga bercerita dengan teman-teman terdekatnya di sana. Mencoba mencari refrensi-refrensi dan sudut pandang. Katanya, ada beberapa teman terdekatnya yang mendukung kami jika memang kami memutuskan kembali menjalin hubungan. Tapi beberapa yang lain juga mencemaskannya, khawatir sewaktu-waktu kondisi buruk akan terulang lagi padanya. Lihatlah betapa berat amanah ini. Menggendong harapan banyak orang.

Kami ngobrol agak lama, agak canggung, tapi tidak sebegitunya. Masih lumayan cair untuk ukuran yang sudah lama tak terhubung.

Tadinya saya berencana untuk meminjam motor teman untuk saya pakai selama di kota sebelah. Eh, ternyata putri Bapak cukup inisiatif juga, dia membawa motornya dan helm dua buah. Padahal obrolan selama makan kan belum tentu akan lurus-lurus saja, ya. Tapi yaa mungkin inilah kami, Pak. Saya bersyukur saja. Dalam hati, mungkin ia sedang menyiapkan pintu maafnya untuk saya dan bangkit perlahan dari rasa sakit hati karena saya.

Kami berkeliling kota sambil sesekali melanjutkan obrolan. Mampir ke sebuah taman yang sedang ramai digunakan sebagai tempat shooting sebuah sinetron mungkin. Lalu mampir sholat Ashar di masjid favorit kami (kalau bisa saya sebut demikian). Malamnya, kami nongkrong di warung dim sum yang kata putri Bapak enak. Di sana saya lanjut cerita tentang kondisi keluarga saya belakangan. Sesudahnya, saya minta diantarkan ke depo travel untuk saya kembali ke kota saya. Sungguh hari yang mengubah hidup saya hingga sekarang. Yang awalnya saya tak tahu timeline hidup saya ke depan bagaimana, akhirnya dipaksa untuk disusun dan diisi agenda-agenda tak ringan.

Sejak hari itu kami mulai intens lagi untuk berkomunikasi. Berlagak seperti tak pernah terpisah dua tahun. Kami mulai jujur bahwa dua tahun ini membuat masing-masing dari kami berdewasa. Baik dari segi pemikiran sampai emosi. Ia berkata, kalau mungkin dua tahun lalu kami masih menjalin hubungan, mungkin tapakan langkah itu tak sampai ke titik sekarang. Ya, kami tak pernah tahu juga titik mana dan seperti apa yang akan kami tuju. Beberapa minggu dari itu, ia ke kota saya. Lalu beberapa minggunya lagi, saya yang sering ke kotanya. Sempat dua-tiga minggu sekali.

Begitu Pak kira-kira cerita saya. Hingga saya berada di rumah ini lagi adalah sebuah nikmat tersendiri bagi saya, Pak, Bu. Jika saja putri Bapak tidak mengizinkan saya untuk masuk kembali ke kehidupannya, jelas saya tidak akan ada di sini lagi. Saya tahu mungkin Bapak-Ibu terbesit rasa kecewa kepada saya kala itu atau kala sekarang. Tapi semoga semoga Bapak-Ibu bisa mengerti dan masih berkenan menerima saya dengan segala salah dan kebodohan saya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s