COVAD – COVID

Klise sebenarnya untuk membuka sebuah artikel yang biasa ini dengan pembuka seperti: “sudah lama ya tidak menulis lagi”. Tapi memang sudah lama betulan. Sedih sekali rasanya, artikel pertama di tahun 2020 ini harus dibuka dengan bahasan tentang musibah. Harus kita hadapi dan kalo bisa dinikmati. Nanti juga kan terlewati.

Pembuka tahun, warga ibukota sudah harus kelelep banjir. Ada yang mengatakan disebabkan oleh intensitas curah hujan yang sedang tinggi, lainnya mengatakan gubernurnya saja yang tak bisa mengurus persoalan lawas Jakarta. Di negeri ini, penyebab musibah bergantung pada dimana kita memposisikan diri secara politik. Biasanya sih gitu, ya.

Akibatnya, aktivitas keseharian warga sebagian terganggu. Di beberapa titik air cepat surut, di titik lain air masih ingin bermalas-malasan. Sedang warga Jakarta tingkat kegigihan bekerjanya terlewat tinggi. Mobilitas seolah tak terbendung. Ditambah lagi bagi warga ibukota, persoalan untung-rugi adalah sesuatu yang hakiki. Bisa jadi hal ini terjadi juga di kota-kota lain. Tapi kan yang menjadi idola berita adalah Jakarta. Yang lain hanya figuran.

Seiring rendahnya curah hujan dan banjir mulai jarang terjadi di beberapa minggu setelahnya. Seiring pula musibah lain datang. Sudah seperti pergantian pemain. Kali ini harus jauh-jauh didatangkan dari luar negeri. Namanya adalah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Datangnya dari Tiongkok. Ada yang mengatakan ini adalah wabah 100 tahunan. Ada yang mengatakan virus ini adalah kiriman dari Amerika, ada yang mengatakan ini dan itu. Memang belakangan ini sedang musim konspirasi-konspirasi agar persediaan bahan obrolan tetap terjaga.

Jenis virus ini menyerang sistem pernafasan manusia. Mereka dengan imunitas rendah dan/atau berusia lanjut, dipastikan lebih berpotensi terpapar. Meski demikian, bukan berarti usia muda tidak akan terpapar virus ini. Pada mulanya virus ini memang bersumber di Wuhan – China, namun karena kurangnya sosialisasi, tidak populer, belum viral, dan tidak sadar kalau diri membawa virus, umat manusia di sana bepergian ke tempat lain, seperti Korea Selatan dan Jepang. Orang dari tempat lain juga bepergian ke Wuhan. Kita pun rakyat Indonesia yang mampu bepergian ke luar negeri, tak luput untuk memanfaatkan momen tersebut. Bepergianlah mereka ke luar negeri. Melakukan interaksi sosial sudah pasti. Sebagian dari mereka pulang ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh virus yang sudah barang tentu tak kasat mata dan tak membuat berat bagasi bertambah.

Sesampainya di tanah air, dengan agak cepat, virus tersebut mulai merebak ke sana kemari. Hingga tulisan ini dibuat (27/3), warga Indonesia berstatus positif terpapar sebanyak 1.046 orang, berhasil sembuh 46 orang, dan meninggal dunia sebanyak 87 orang. Di mana di antara pasien yang berstatus positif, terdapat nama-nama pejabat negara, public figure, dan orang-orang penting, termasuk tenaga medis. Berikut dengan yang berstatus meninggal, ada beberapa dokter hebat negara ini yang mengabdikan diri untuk bangsa dan kemanusiaan ikut terenggut nyawanya saat menangani langsung pasien COVID-19. Terbaru, di kancah internasional, Perdana Menteri Inggris juga turut terpapar virus ini.

Tak mau kondisi semakin memburuk, pemerintah sejak pertengahan Maret telah menginstruksikan kepada seluruh warga Indonesia, terutama mereka yang berada di kota-kota dengan potensi atau terdampak COVID-19, untuk melakukan swakarantina, pembatasan sosial (social distancing). Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah. Semua dari rumah. Dengan langkah preventif seperti ini, pemerintah berharap tidak ada pasien baru atau masyarakat dengan status Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah jumlahnya. Karena bagaimanapun vaksin atas virus ini masih dalam proses uji coba dan kapasitas rumah sakit rujukan kita terbatas.

Selain pada kesehatan, tentu ada dampak-dampak lain yang mengikuti. Di beberapa perkantoran yang karyawannya telah dinyatakan ODP bahkan berstatus positif COVID-19, terdapat karyawan berkebangsaan asing, memiliki mobilitas kegiatan yang tinggi, dan/atau berkantor satu gedung dengan kantor yang memiliki karyawan berstatus ODP atau positif COVID-19, sejak kemunculan ‘case-01‘ sudah diberlakukan bekerja dari rumah bagi seluruh karyawannya. Instansi pemerintah juga demikian. Di beberapa kantor, agar kewajiban penyelesaian tugas masih dapat dijalankan, pimpinan kantor memberlakukan penjadwalan bergilir bagi karyawan-karyawannya untuk masuk kantor dengan jumlah yang sangat dibatasi.

Dampak lain karena pembatasan sosial yang sangat kentara adalah aktivitas ekonomi. Pada awal kemunculan ‘case 01‘, masyarakat bergerilya seraya berbondong-bondong untuk berbelanja kebutuhan harian. Belanja yang dulunya dapat dilakukan dengan tenang dan santai, sambil selfie pun bisa, kini harus dilakukan dengan lebih dramatis. Banyak pusat perbelanjaan mengalami kehabisan stok barang-barang primer. Bahkan barang yang awalnya sekunder, menjadi primer. Berangsur waktu, pasokan barang sudah mulai membaik dan sikap duniawi masyarakat pun kembali normal, walaupun tetap dalam mode waspada dimanapun berada.

Akibat pemberlakuan swakarantina ini, banyak pusat-pusat kegiatan ekonomi yang terpaksa di’bekerjakan dari rumah’. Jangan ditanya omzet mereka naik atau turun, karena sudah pasti turun. Terlebih untuk pusat perbelanjaan yang fokus bergerak pada penjualan barang-barang sekunder dan tersier.

Melirik tulisan dari mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, yang mengutip estimasi dampak COVID-19 oleh McKibin dan Fernando, dampak wabah ini tak hanya akan menyerang Tiongkok, akan tetapi akan dirasakan secara global . Dengan tingkat serangan untuk Tiongkok 10% dan kematian 2% di China, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun 1,3% jika tidak sesegera dilakukan mitigasi. Singkatnya, jika tahun 2019 pertumbuhan kita berada di 5%, maka menurut skenario ini, pada tahun 2020 bisa jadi pertumbuhan ekonomi akan berada di persentase 3,7. Dalam skenario yang lebih naudzubillah, pertumbuhan kita diprediksi akan merosot sangat dalam di 0,3%. Dengan catatan, apabila kondisi sekarang tak kunjung dilakukan mitigasi. Apakah Anda tidak bergidik membacanya?

Dampak lain yang penting-ngga-penting adalah pembatalan berbagai bentuk kegiatan perkumpulan massa. Seperti konser, demo, car free day, kompetisi olah raga, pesta pernikahan, pengajian, shooting vlog, arisan, nongkrong-nongkrong hepi, bahkan sholat Jumat pun termasuk ke dalamnya. Ini tentu di luar kebiasaan masyarakat Indonesia. Masyarakat kita begitu mengkhayati semboyan “Makan nggak makan, asal kumpul”. Dalam artian, kebutuhan dasar masyarakat bukanlah makan, tapi kumpul. Ketika kebutuhan dasarnya sudah terusik, tentu hanya menunggu waktu masyarakat menjadi berang dan suatu saat nanti akan membalaskan dendam.

Selain dampak negatif seperti di atas, ternyata ada dampak positif yang bisa kita terapkan hingga seterusnya, yakni membiasaan gaya hidup sehat. Seperti sering mencuci tangan, kemanapun membawa penyanitasi tangan, menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain atau lawan bicara, mengenakan masker jika sedang tidak enak badan, tidak sering menyentuh area wajah, apabila batuk atau bersin menutupnya menggunakan lengan sendiri bagian dalam, dan langkah-langkah biasa tapi bermakna lainnya.

Tak cukup di situ, penerapan bekerja dari rumah rasanya sangat mungkin untuk terus diberlakukan. Bukan dengan jumlah yang masif, tapi lebih kepada bagaimana agar jam kerja dapat dimodifikasi atau menjadi lebih fleksibel. Karena selama penerapan work from home (WFH) ini, ternyata ada beberapa tugas kantor yang tidak harus dikerjakan di kantor. Kita lihat kembali, tujuan utama bekerja adalah menyelesaikan tugas yang diberikan. Ketika tugas dapat dilakukan dengan bantuan teknologi digital dan selesai dikerjakan meski tidak di kantor, seharusnya tujuan sudah dapat dinyatakan tercapai. Di beberapa negara, hal ini malah mampu meningkatkan produktivitas kerja karyawannya.

Sementara itu, meski belum ada hasil penelitian lebih lanjut, kemungkinan dampak lain seperti tingkat polusi udara, tingkat kriminalitas, tingkat kecelakaan lalu lintas, minimal mengalami penurunan.

Sembari masyarakat melakukan swakarantina di rumah masing-masing, pemerintah tengah melakukan berbagai macam upaya dalam meminimalisasi dampak dan penanganan wabah tersebut. Sebagaimana dimuat pada laman Kementerian Keuangan.  Anggaran negara diprioritaskan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan masyarakat termasuk tenaga medis, memastikan perlindungan dan Jaringan Pengaman Sosial untuk masyarakat rentan, dan perlindungan terhadap dunia usaha. Pada sisi fiskal, pemerintah memberikan relaksasi pajak untuk jenis pajak PPh 21, 22, 25, dan PPN dengan ketentuan-ketentuannya. Beberapa alokasi anggaran juga diubah sehingga difokuskan kepada program-program yang berdampak langsung kepada penanganan COVID-19.

Yang tak kalah menarik yakni pemberian insentif bulanan bagi tenaga kesehatan sebagai bentuk apresiasi terhadap garda terdepan. Insentif ini diberikan khusus daerah yang telah menyatakan tanggap darurat. Anggaran ini akan ditanggung bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah, termasuk penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Kesehatan dari Biaya Operasional Kesehatan dan APBD. Dengan alokasi anggaran tersebut, dokter spesialis akan mendapat Rp15juta/bulan, dokter umum atau dokter gigi Rp10juta/bulan, bidan atau perawat Rp7,5juta/bulan, tenaga medis lainnya Rp5juta/bulan, dan tenaga medis yang meninggal akan diberi santunan sebesar Rp300juta/orang.

Jika dilihat dari nominalnya, tentu akan menjadi perdebatan apakah akan dinilai cukup, lebih dari cukup, atau tidak sama sekali. Mengingat nyawa adalah taruhan. Tapi bagaimanapun ini adalah langkah yang patut kita hargai dalam upaya memberikan motivasi dan semangat kepada tenaga kesehatan republik.

Bagi masyarakat yang penghasilannya berkurang atau hilang akibat turunnya aktivitas ekonomi, pemerintah mengambil kebijakan yakni mempercepat penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat miskin (seperti: Program Keluarga Harapan; Kartu Sembako; Bantuan Pangan Nontunai; Kredit Usaha Rakyat; dan Kartu Indonesia Pintar), menambah penerima dan menaikkan nominal kartu sembako menjadi Rp200.000,00 hingga bulan Agustus, memberikan subsidi bunga perumahan untuk 40% masyarakat miskin, dan mempercepat penyaluran kartu prakerja. Kita sebagai masyarakat, memiliki kewajiban untuk bersabar. Kebijakan dan pelaksanaan tidak bisa satu-dua hari langsung dapat dieksekusi. Namun demikian, beberapa prosedur sudah disederhanakan sedemikian rupa agar dapat diselesaikan lebih cepat dari keadaan normal.

Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh berbasis portal dan android, yakni Rumah Belajar. Tak hanya sendiri, mitra dari sektor swasta turut mendukung upaya belajar dari rumah ini. Aplikasi seperti Ruangguru, Kelas Pintar, Quipper School, SekolahMU, dan Zenius memberikan fasilitas pendidikan secara cuma-cuma kepada para pelajar pengguna aplikasi.

Untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit, Kementerian BUMN, PT Adhi Karya, dan BUMN lain, melakukan pembenahan Wisma Atlet Kemayoran untuk dijadikan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 yang pada pekan lalu telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Rumah Sakit darurat ini diharapkan dapat menampung 4.208 pasien yang ditempatkan pada 2.836 unit. Meski darurat, fasilitas mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), ruang refreshing, hingga ruang petugas medis telah disiapkan.

Lantas apa yang dapat kita perbuat?

Sebagai warga masyarakat, kita wajib mematuhi arahan dari pemerintah. Kita adalah manusia, begitu juga pemerintah. Manusia ingin menjaga manusia. Dan manusia yang dijaga harus tahu diri. Jika diminta untuk tetap di rumah, di rumah saja. Sekalipun jalanan mulai lengang, bukan berarti menjadi pemicu untuk bertamasya ke puncak atau tiba-tiba car free day. Bukan berarti di rumah hanya mandi, makan, buang air, dan tidur saja. Ini adalah momen yang tepat untuk sekalian merawat hubungan dengan sesama anggota rumah, melakukan hobi yang terbengkalai, mendengar podcast menarik, olah raga ringan, atau melakukan hal produktif lainnya seperti membangun rumah tangga. Oh iya ya, kan kerja, bukan jadi tahanan rumah.

Jika ingin satu level lebih berguna, rekan-rekan pembaca dapat melakukan donasi yang banyak beredar di laman kitabisa.com atau lembaga-lembaga sosial yang sedang membuka donasi khusus penangangan COVID-19 ini. Tak hanya itu, banyak juga ikatan alumni dari berbagai universitas di Indonesia yang sedang membuka donasi. Salah satunya yakni dari IKANAS STAN. Dari jumlah dana yang terkumpul tersebut, akan dipergunakan untuk pengadaan bilik disinfektan di berbagai titik, pengadaan Alat Pelindung Diri (ADP) di berbagai rumah sakit, pengadaan masker, hingga pemberian bantuan kepada para pekerja nonformal seperti ojek daring yang terdampak langsung secara ekonomi.

Banyak hal baik yang dapat kita perbuat selama proses penanganan maupun pencegahan COVID-19 ini, yang kita butuhkan hanya kemauan dan niat tulus. Mari kita saling bahu membahu, bantu membantu, buktikan bahwa kita adalah sesama manusia yang berjiwa sosial. Jika COVID-19 ini berhasil ditangani dengan baik, sejarah akan menulis bahwa tak hanya pemerintah yang berhasil bertanggung jawab atas rakyatnya, namun rakyat itu sendiri yang juga bersama-sama saling menjaga, merawat, dan bertumbuh.

Sudah bukan waktunya lagi berpangku tangan. Hanya menunggu pemerintah bergerak, sedang kita menebar pesimisme sembari mengolok-olok. Selama kita tak bisa berbuat banyak dan yang bisa banyak bergerak hanyalah pemerintah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terus mendukung dan membantu sebisanya. Saatnya kita bertindak, sesuai peran yang diberikan dan saluran yang tersedia.

Menjadi waspada itu harus, menjadi panik jangan. Perbarui informasi setiap saat tentang perkembangan penanganan COVID-19, tapi tetaplah bersikap sewajarnya dan mari saling mendoakan.

Terima kasih kepada Bapak Presiden yang tak pantang lelah mengurus negeri ini, di tengah selimut duka akan kepergian Ibunda tercinta.

Terima kasih kepada para pemimpin daerah yang sudah sensitif dengan isu kesehatan dan keselamatan warganya.

Terima kasih kepada dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang bersedia bertaruh nyawa di garda terdepan dalam merawat dan menyembuhkan pasien dengan langkah terbaik. Mendengar kisah secuil dari dr. Tirta, rasanya langsung jleb jleb jleb. Belum lagi kisah dari dokter lainnya yang langsung bertindak nyata di lapangan.

Terima kasih kepada jajaran kabinet dan pemerintah yang telah bertindak gesit, bersungguh-sungguh, dan mengerti bahwa nyawa rakyat lebih berharga dari apapun.

Terima kasih kepada polisi dan TNI, petugas PLN, pengemudi transportasi publik, satuan keamanan, petugas konter swalayan, petugas konter makanan, mbok-mbok warteg, orang-orang di pasar, dan manusia-manusia yang tetap harus bekerja sehingga manusia lainnya dapat dijaga. Semoga amalmu berlipat ganda.

Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia untuk perannya masing-masing dalam menangani bencana kemanusiaan ini.

Kami juga turut berbela sungkawa atas rekan-rekan kami sesama warga Indonesia yang harus mendahului kami.

Hentikan dulu segala bentuk pertikaian, mari bersatu atas nama manusia.

Bagi adik-adik mahasiswa dan pelajar, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Negeri ini butuh penerus yang bekerja keras dan cerdas, unggul, berguna, serta siap mengabdi pada bangsanya. Jadikan momen ini sebagai momen tak terlupakan, momen dimana seluruh tumpah darah Indonesia bersatu. Terharulah. Gapailah cita-citamu meski masih harus belajar dari rumah sementara ini.

Terakhir, sebagai masyarakat biasa dan manusia, besar harapan agar wabah ini segera berlalu. Segera dapat ditangani dengan baik dan kegiatan berangsur kembali normal. Karena rindu memang terlampau berat untuk dibendung. Apalagi kalau nggak jadi dibolehin mudik.

 

Semangat semua!

Kalibata, 27 Maret 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s