Kota-kota: Cianjur

Seri “KOTA-KOTA” adalah sebuah kumpulan cerita yang menggambarkan kondisi dan pengalaman yang sempat/sedang saya jalani di kota-kota yang pernah/sedang saya diami.

Februari 2015 – November 2015

Langit sore itu tampak mendung. Saya lihat waktu telah menunjukkan pukul 17.12 WIB. Rasanya baru kemarin saya tiba di Bogor, setelah sebelumnya dari Bintaro, sekarang sudah berada di kota orang lagi.

Saya sudah menunggu hampir setengah jam di depan stasiun, tapi rupanya teman yang akan menjemput saya belum juga datang. Selagi menunggu, saya memutuskan untuk melihat-lihat sekitar stasiun. Di depan stasiun terbentang satu jalan yang dipenuhi oleh penjaja makanan dan minuman. Ada martabak, kapocino cincau, sate Madura, sate Padang, aneka gorengan, dan makanan tradisional lainnya.

Beberapa kali angkot warna merah berlalu lalang di depan stasiun. Saya lihat kursi penumpangnya tidak terisi begitu penuh, tapi mang sopir tetap membiarkan angkotnya melaju mengantarkan para penumpangnya. Tidak seperti kota tetangga yang menunggu para penumpangnya sesak nafas dulu lalu kemudian baru menginjak pedal gasnya.

Berbekal nekat, doa dan dukungan orang tua, saya pun berangkat ke Cianjur dengan menggunakan moda transportasi kereta api dari Bogor. Informasi yang hanya sedikit saya dapat, apalagi pergaulan saya tak sampai menyentuh warga Cianjur dan sekitarnya, membuat saya kebingungan untuk sampai dengan selamat di kota yang bagi saya baru ini. Setidaknya untuk didatangi seorang diri, sebatang kara.

Di Cianjur saya tidak memiliki saudara, teman, atau keluarga yang sudah lama saya kenal. Nyaris hubungan sosial kami terjalin sangat baru. Di Bintaro, saat masih kuliah, kawan satu kontrakan saya orang Lumajang semua isinya.

Tak lama dari obeservasi dadakan saya, Syahril, teman yang saya tunggui dari tadi mulai menampakkan batang hidungnya. Sambil berjabat tangan, kami memulai memperkenalkan diri. Mengapa demikian? Karena walau kami satu angkatan dan satu lokasi pendidikan, kami memang tidak saling mengenal sebelumnya. Kami memulai perbincangan dengan hal-hal seputar perkuliahan dahulu dan sedikit membahas tentang Indra, sahabat saya yang juga teman sekelasnya. Bukan untuk menggunjingi dia, tapi untuk mencairkan suasana saja. Sebelum hujan jatuh dengan lebatnya, kami bergegas menuju kantor baru kami di Jalan Raya Bandung KM 3 untuk sekadar tahu-tahu saja. Hujan turun, kami kedinginan, lalu kami memutuskan makan soto Lamongan.

Di Cianjur, makan pertama saya adalah soto Lamongan. Jauh-jauh ke Cianjur, makan soto Lamongan. Soto Lamongan. Memang.

Perjalanan pertama saya ke kota yang baru saya ketahui keberadaanya ini, diawali dengan pengumuman lokasi magang CPNS kantor. Saat itu kami diberi kesempatan untuk memilih tiga kantor yang dijadikan sebagai calon lokasi magang. Yang saya pilih adalah kantor Ciawi (Bogor), kantor Bogor, dan kantor Cibeunying (Bandung). Saya tidak peduli seberapa berat persaingannya untuk mendapatkan salah satu dari tiga lokasi favorit itu. Yang penting yakin. Tapi takdir berkata lain. Saya mendapat lokasi di antara Bogor dan Bandung, yakni Cianjur. Sejujurnya Cianjur belum sempat hinggap dalam bayang-bayang saya untuk saya jadikan kota tempat saya magang yang entah berapa bulan nanti. Tau dimana Cianjur aja nggak. Orang taunya pasti Puncak, bukan Cianjur. Saya juga baru tau kalau Puncak yang tiap akhir pekan selalu ramai dan jadi bahan berita mainstream adalah arah menuju Cianjur (atau Sukabumi).

Di empat hari pertama, karena saya tidak kunjung menemukan tempat tinggal, saya menumpang tinggal di rumah Syahril. Kami tiba-tiba mulai akrab dan mau tidak mau Syahril juga tidak punya pilihan lain. Tapi mungkin ini yang dinamakan “senasib – sepenanggungan”, karena kesamaan nasib dan tanggungan, kami bisa menjadi cepat akrab. Walaupun dalam kasus saya kali ini, Syahril lebih ringan tanggungannya karena lokasi OJT (on the job training a.k.a. magang) memang berada di kotanya. Atau bisa jadi justru semakin berat tanggungannya karena harus menanggung saya. Hahaha.

Setelah menghabiskan beberapa hari di rumah Syahril, saya pun mulai tahu diri untuk mencari kosan sendiri. Kosannya yang sendiri. Mencarinya tetap dengan bantuan Syahril. Cari ke sana kemari tak kunjung dapat. Sempat saya mulai tertarik dengan salah satu kosan, ternyata kosan tersebut sudah dibooking oleh orang lain satu hari sebelum saya datang. Sial sekali, pikir saya. Lelah mencari, kami pun menyudahinya.

Ketika bekerja beberapa hari, saya mulai akrab dengan beberapa orang. Saya ceritakan bahwa saya tak kunjung menemukan kosan. Oleh seseorang yang saya lupa siapa, menyarankan saya untuk bertanya ke A’ Rifai. Katanya A’ Rifai baru dapet kosan. Saya pun ke tempat A’ Rifai. Dipanggil A’ karena 2-3 tahun lebih senior dari saya.

Singkat cerita, ternyata eh ternyata, kosan yang ingin saya tempati tapi sudah dibooking orang, orangnya adalah A’ Rifai ini. Karena beliau tidak berkeberatan dan justru menawarkan untuk tinggal satu kosan, saya yang saat itu memang sedang minim penghasilan, jelas tidak menolak. Ditambah dengan fasilitas motor yang dibawanya. Harga sewa kosan dibagi dua, transportasi cukup dengan mengganti uang bensin sesekali. Ini yang namanya rezeki.

Cianjur sebenarnya kota yang bisa dibilang kecil. Sama kecilnya dengan Lumajang, asal kota saya. Secara geografis, Cianjur dengan Lumajang memiliki cukup banyak kesamaan. Seperti berudara dingin jika di pagi dan malam hari, terdapat beberapa danau, dikelilingi pegunungan, dan memiliki pantai selatan.

Transportasi publiknya masih lebih unggul ketimbang Lumajang, karena Cianjur ditopang oleh banyaknya angkot dengan ragam jurusan. Meski begitu, Cianjur masih bisa dikatakan relatif sepi.

Suasana di kantor begitu hangat, setiap pagi, sesama pegawai saling menyapa. Semisal “Pagi A’.. Pagi Teh.. Pagi Kang..” dengan nada-nada atau logat yang Sunda pisan (red: sunda sekali). Kami OJT berdua puluh satu jika tidak salah hitung. Ada dari D1 STAN, D3 STAN, D3 umum, dan S1 umum. Kantor jadi semakin ramai dengan stok anak muda yang bertambah. Pun di tengah perjalanan, tingkahnya mulai aneh-aneh.

Di tiga bulan pertama sungguh saya jalani dengan tidak mudah. Kerjaan kantor pertama saya adalah melipat surat. Bukan 1-2 surat. Tapi 3-5 kotak penuh surat. Mungkin sekitar 2.000 surat. Isinya adalah surat himbauan pelaporan SPT Tahunan. Mulai dari mencetak surat, mencetak amplopnya, melipat surat, memasukkan surat ke dalam amplop, lalu melekatkannya. Belum lagi kalau printernya suka rewel. Lumayan membuat mengingat nama Tuhan.

Kami masuk kantor di bulan Februari, tepat di dalam tiga bulan pertama ramai-ramainya SPT Tahunan. Sebenarnya anak OJT seperti kami tidak terlalu in charge dengan SPT Tahunan, kami hanya sebagai back up atau tenaga bantuan tambahan. Karena waktu itu, kami memang tidak mendapat jadwal piket. Hanya menggantikan atau membantu pegawai yang sedang piket.

Ini adalah satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan. Mungkin karena baru kali ini saya seperti betulan bekerja seperti orang dewasa (karena waktu itu saya belum genap 20 tahun). Saking ramainya Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir-akhir batas pelaporan, sempat di malam harinya saya tidak bisa tidur. Bukan karena saya terlalu lelah atau karena saya masih di kantor untuk melayani mereka. Tapi entah bagaimana, rasanya suara-suara seperti sobekan kertas, rekatan stepler, dengungan kipas angin, dan teriakan nomor antrean, terbawa masuk hingga ke dalam kosan. Bisingnya bukan main.

Yang ketiga dan yang paling berat sebenarnya, yakni beradaptasi dengan bahasanya. Kata tante saya, “Cianjur mah supi, Iz. Sunda pisan. Nih ya, walaupun tante orang sunda juga, kadang-kadang masih suka ngga ngeh loh kalau yang sunda pisan gitu.” Tiga bulan saya tempuh dengan agak pusing-pusing nikmat. Karena mayoritas memang orang Sunda dan kalau berbicara menggunakan bahasa Indonesia, jadi agak kurang lega aja. Di sinilah saya merasakan bagaimana ngga enaknya jadi minoritas. Orang Jawa yang jadi minoritas di Pulau Jawa.

Begitu jalan beberapa bulan setelahnya, saya pun mulai terbiasa dan agak terampil berbicara bahasa Sunda. Meski masih ada logat Jawanya yang sedikit tertinggal, ya. Tapi minimal ketika ada orang Sunda berbicara, saya masih bisa sedikit mengerti apa yang mereka bicarakan.

Karena saya sebatang kara di kota orang, terkadang di akhir pekan saya pulang ke rumah tante di Bogor. Ada beberapa cara agar saya bisa tiba di Bogor. Pertama, menumpang satu mobil dengan senior-senior lain yang juga ke arah Bogor atau Jakarta, biasanya turun di Ciawi dan dilanjutkan dengan 3 kali menaiki angkot. Kedua, menumpang satu motor dengan A’ Rifai lalu turun di Cipanas, dilanjutkan dengan menaiki bus Marita hingga Ciawi, dilanjutkan dengan 3 kali menaiki angkot. Ketiga, saya menumpang satu motor dengan Mas Gori lalu turun di kota, dilanjutkan dengan 2 kali menaiki angkot.

Jika tidak sedang pulang, tujuan lain saya adalah ke kantor. Yup, internetan. Kadang sekalian mengerjakan video perpisahan, atau bikin desain backdrop, kalender, gantungan kunci, gelas, payung, atau menulis artikel di wordpress. Pernah sekali waktu saya berkunjung ke rumah A’ Rifai di Cipanas. Di waktu yang lain, mengajak Yogi untuk sekadar makan siang bakso. Atau jika sedang baikan dengan yang di Bandung, saya juga main ke Bandung.

Selama di Cianjur, ada tiga aktivitas tidak biasa yang pernah saya lakukan. Yang pertama, saya pernah diajak senior untuk memberikan penyuluhan di desa sekitar Waduk Jangari, kepada para nelayan ikan tambak. Perjalanan dimulai dengan menaiki mobil dinas, dilanjutkan dengan menggunakan perahu nelayan. Seru juga karena udah lama ngga naik perahu dan liat pemandangan berbeda. Apalagi kami di sana disuguhi ikan bakar komplit dengan nasi liwetnya. 

Yang kedua, sempat saya diajak senior kampus, Bang Jaya Gulo, untuk membantunya mendokumentasikan sebuah acara peluncuran komunitasnya di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, ceritanya pernah saya tulis di sini.

Yang ketiga, tentu acara kantor, tapi yang kali ini menjadi spesial karena waktu itu kegiatannya diadakan di puncak, di suatu perkebunan teh. Sekaligus menjadi ajang acara perpisahan kepala kantor dan kepala subbag umum kami. Sebagai generasi paling belia di kantor, kami membuat pertunjukan drama musikal sederhana. Waktu itu ceritanya tentang Habibie & Ainun. Sengaja dipilih untuk mewakili sosok bapak kasubbag dan ibu kepala kantor yang berpindah tugas. Walaupun di kehidupan nyata sebenarnya mereka juga bukan suami-istri sih. Tapi memang untuk urusan kantor, dua jabatan itu seperti tak terpisahkan. Di drama musikal itu saya berperan sebagai ayahnya Ainun, seorang suku Batak. Random abis.

Di akhir pekan yang biasa, saya hanya mendekam di kosan. Menyelesaikan cucian atau menghabiskan beberapa buku bacaan.

Aktivitas perkantoran saya bisa dibilang cukup variatif. Pada mulanya kami memang dibuatkan jadwal. Siapa bekerja di mana dan melakukan pekerjaan apa-apa. Sempat saya beberapa minggu membantu front office, kadang juga memilah-milah SPT Masa yang masuk, memindai berkas, merekam dokumen, menyiapkan surat-surat, menjaga gudang persediaan ATK, merapikan berkas, menyiapkan ruang rapat, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Walaupun masih sangat administratif, tapi sudah cukup beragam untuk tidak dikatakan monoton.

Perkara kuliner, saya termasuk yang cocok dengan makanan khas Sunda. Beberapa warung nasi liwet favorit adalah RM Sunda Rasa dan Warung Teh Sari. Favorit karena baru dua itu aja sih yang pernah saya rasain. Kalau sedang ingin bakso, juga ada yang terkenal, namanya Bakso Istighfar. Hahaha. Di situ juga ada aneka es campur enak. Enak karena murah. Untuk urusan makan siang, di belakang kantor ada sebuah warung. Orang-orang menyapa sang pemilik warung, Ceu Adah atau Bu Adah. Masakan Bu Adah ini juga ngga kalah enak. Sering juga saya beli buah potong buat dimakan rame-rame. Dan indomie, sih.

Oh ya, Cianjur akhirnya membuat saya doyan makan bubur ayam, lho. Hampir setiap pagi atau tiga kali dalam seminggu, saya pasti sarapan bubur ayam. Saya jadi paling anomali dari satu keluarga saya yang tidak suka. Bubur ayam favorit saya terletak di pengkolan antara Jalan Siti Jenab dengan Jalan Otista. Favorit karena lokasinya dekat dengan kosan.

Di bulan Desember awal, akhirnya saya harus meninggalkan Cianjur. Saya mendapat penempatan definitif cukup jauh. Saat rekan sesama D1 mendapat lokasi penempatan di Jakarta atau Tangerang. Saya harus bertolak ke Medan. Rekan yang lain ada yang sampai ke Sampit, Ende, Sorong, Palu, bahkan Jayapura.

Sepuluh bulan di Cianjur begitu berkesan. Barageur (pada baik-baik orangnya). Dari Lumajang: aku – awakmu. Di Cianjur berubah jadi urang – maneh. Sebenarnya bisa-bisa saja saya memilih untuk magang di sekitar rumah, seperti kebanyakan orang melakukannya. Tapi ini juga kesempatan saya untuk belajar budaya tetangga, budaya baru.

Tidak perlu berangkat ke luar negeri untuk merasakan nikmatnya kemandirian, cukup dengan ‘tinggal’ seorang diri di kota orang sudah sedikit banyak mengajarkan berbagai hal baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s